MAMI FOR US

MAMI FOR US
AKU SANGAT BODOH



Rain yang merasa bersalah pun akhirnya menelpon sang kakak yang saat ini sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang hotel.


Zidan sendiri merasa sangat rindu dengan Nadia, namun Nadia tidak pernah memberi nya kabar, bahkan seakan-akan melupakan sang suami setelah bertemu dengan ketiga putrinya.


Sesaat Zidan termenung, mungkinkah Zidan yang salah, membiarkan Nadia pulang ke Jawa seorang diri. Selang 3 menit handphone miliknya berbunyi.


drt...


drt...


der..


Dengan secepat kilat Zidan mengangkat telepon dari adiknya Rain.


"Halo assalamualaikum rain,apa kabar kamu dan istrimu" tanya Zidan pada Rain


"Kabar kami baik-baik saja kak, kamu gak tanya anak dan istrimu kak? sudah berapa kali kakak mengabaikan istri kakak, ingatlah kak, kakak sekarang sudah bukan duda lagi, tapi kakak sudah menikah lagi, dan kakak harusnya tahu tugas kakak sebagai suami." ceramah Rain pada sang kakak.


Zidan sedikit terkejut, ternyata dia melupakan istrinya, yang seharusnya dia perhatikan dan tanyakan kabarnya. Sungguh Zidan sangat menyesal, bulan madunya berantakan, dan di tambah lagi tak ada kabar sama sekali dari istri dan anak anaknya.


"Kak, apa kakak tidak merasa mengabaikan istri kakak? ingat kak, kak Nadia bukan kak Selly, jadi kakak jangan pernah menyesalinya, bila suatu saat kakak akan kehilangan orang yang benar-benar kakak cintai." ucap Rain pada kakaknya.


"Jadi aku harus bagaimana rain?" jawab Zidan melemas.


"Ingat kak, memang aku yang menyuruh kakak menggantikan aku dalam masalah perusahaan di Bangka Belitung, tapi bukan berarti kakak harus mengabaikan kakak ipar." ucap Rain penuh penyesalan.


"Maaf, aku masih merasa seperti seorang diri tanpa istri." terang Zidan pada adiknya.


"Kakak harus berubah, dan terima kasih, Maria selama ini sakit-sakitan ternyata dia hamil kak, terimakasih atas dukungan dari kakak, sekarang giliran kakak yang harus bikin Zidan junior." ucap Rain pada kakaknya.


" Selamat ya Rain, akhirnya penantian mu selama 8 tahun menjadi kenyataan, untuk Zidan junior terserah yang di Atas saja, kita gak pernah tahu takdir Allah." jawab Zidan tegas.


"Pantesan saja selama beberapa hari ini, ada yang hilang di hati kakak, Rain, kemungkinan kakak akan pulang 2 hari lagi, soalnya masih ada yang harus kakak selesaikan di sini." ucap Zidan penuh penyesalan.


"Ya sudah, jangan lama-lama, ingat kak Nadia sangat mencintai kakak, jadi jangan sia-siakan cintanya, sebelum kakak menyesal kemudian." terang Rain pada Zidan.


"Insya Allah kakak akan memperbaiki semuanya." ucap Zidan penuh semangat.


"Ok, aku tutup dulu ya kak, assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..."


Setelah berbincang dengan Rain adiknya, Zidan merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar di hotel yang pernah Nadia tiduri, perlahan Zidan meraba bantal dan ranjang tempat Nadia beristirahat.


"Sungguh aku sangat bodoh, mengabaikan kamu, aku lupa, dan kamu harus terluka dengan sikapku yang egois dan cuek terhadap sekitar." Zidan bergumam sendiri.


Sementara Nadia dan ketiga putrinya, bersenang-senang dengan belajar membuat mie hijau, dari bahan rumahan.


"Sayang, bagaimana kalau kita bikin mie bayam, bahan-bahan nya gampang banget lo." ajak Nadia kepada ketiga putrinya.


"Vania mau belajar mi." jawab Vania penuh dengan semangat.


"Vika juga, adek mau ikut gak?" tanya Vika pada adiknya Zalfa.


"Adek juga ikut mi, nanti adek yang aduk aduk ya mi." ucap Zalfa pada Nadia.


"Semua akan mami beri baskom, dan semuanya bikin dengan tangan kalian masing-masing, oke."


"Oke mami... " jawab mereka bertiga dengan kompak.


"Sayang... bahan bahan yang dipakai adalah...