MAMI FOR US

MAMI FOR US
PAPI GAK PEKA



"Kalau begitu kamar kita untuk sementara waktu, pindah ke bawah saja sayang, biar kamu gak terlalu capek, dan lagi di bawah masih ada dua kamar, nanti aku rombak deh, biar lebih luas dari kamar atas.' ucap Zidan pada Nadia.


Nadia hanya tersenyum dan mengangguk.


" Kira kira sudah berapa Minggu Dok, si kembar?" tanya Nadia pada Dokter Dian.


"Yang terlihat di sini si sudah 6 Minggu, jadi aku jadwalkan 1 bulan lagi ya, atau bisa satu setengah bulan lagi, biar trisemester pertama berlalu, dan kalau ada keluhan, boleh kok konsultasi kapan pun, dan aku harap pertemanan kita tidak hanya sampai disini saja." ucap Dokter Dian dengan memegang tangan Nadia.


" Terima kasih Dokter Dian, kalau ada keluhan saya akan menghubungi anda." ucap Nadia, sembari tersenyum.


" Mas yuk kita pulang, kasihan anak-anak, pasti sudah mencari kita." ucap Nadia.


"Ya sudah, kita pulang dulu Dian, kapan kapan aku akan kembali kesini." ucap Zidan sembari bersalaman dengan Dian.


"Sip sobat, kapan-kapan ajak keluarga besar kamu ke rumah ku, siapa tahu bisa berteman dengan anakku." goda Dian pada Zidan.


" Ok... atur aja waktunya, ya sudah kami pergi dulu, sampai jumpa lain waktu."


"Terima kasih Dokter Dian, sampai jumpa lagi." ucap Nadia.


"Sampai jumpa lagi... hati-hati di jalan." Dian tersenyum.


"Terimakasih, Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..." jawab Dian.


Dalam perjalanan kembali ke rumah, Zidan tak berhenti mencium tangan kiri Nadia, bahkan Zidan menempatkan tangan Nadia di dadanya, dengan begitu, Nadia merasakan debaran jantung Zidan yang penuh kebahagiaan.


Sesampainya di rumah, Nadia langsung berjalan masuk meninggalkan Zidan, dengan wajah cemberut, Zidan yang melihat perubahan mimik muka Nadia pun hanya mampu menghela nafasnya pelan pelan, Zidan sungguh bingung dengan Nadia.


Kali ini Zidan di buat kelimpungan dengan perubahan mood yang naik-turun. Zidan sedikit menyesali perbuatannya, 3anak yang dilahirkan oleh Selly, tak pernah sekalipun Zidan menghiraukan nya, bahkan Selly seakan-akan mandiri, bahkan terkesan tidak mau memperlihatkan ketergantungan nya pada Zidan, dan menjauhkan dirinya dengan Zidan.


Zidan pun sangat paham, karena pernikahan mereka karena perjodohan, dan tak ada sedikitpun rasa cinta di hati Selly dan Zidan, bahkan Selly yang memang menginginkan perceraian pun selingkuh dengan mantan pacarnya.


Lain halnya dengan Nadia, perubahan Zidan karena memang keinginan Nadia, sehingga membuat Zidan merasa memiliki seorang yang sangat berarti bagi dirinya dan keluarganya.


Lamunan Zidan terhenti kala anak sulungnya memanggil Papi nya.


Zidan turun dari mobil, dan menghampiri putri sulungnya.


"Papi lagi bingung sama Mami kamu?" jawab Zidan.


"Mami kenapa? mami gak kenapa-kenapa lo Pi, baru saja mami ke dapur masak, sehingga Mami cepet-cepet masuk rumah Pi." jawab Zalfa.


"O... benarkah Mami tidak marah?" tutur Zidan dengan tersenyum.


"Iya Pi, ayo masuk Mami sudah nunggu Lo Pi, kali ini jangan buat Mami bener-bener marah, nanti dedek bayinya benci sama Papi." ucap Zalfa penuh kebahagiaan.


" Memang adek sudah tahu Mami hamil?" tanya Zidan pada Zalfa yang sudah berjalan di depannya.


"Tahulah... sebenarnya Mami tu sudah sering bilang sama Zalfa, kalau Zalfa akan punya adek, jadi Zalfa sangat senang." jawab Zalfa sembari membuka pintu ruang tamu.


"Sudah lama, tapi Mami kan nggakk pengen ke Dokter sebelum Papi yang mengajak Mami ke Dokter." jawab Zalfa dengan tegas.


"Ha... jadi Mami pengen Papi yang peka terhadap Mami ya...?" ucap Zidan dengan sangat terkejut.


"Pastinya dong, Papi kan orangnya gak peka sama Mami dan kami, sekarang Papi baru tahu rasa, padahal kami sudah tahu sejak 2 minggu yang lalu Pi, ih dasar Papi ya..." jawab Zalfa sambil mencuci tangan di wastafel.


Zidan seakan akan terhipnotis dengan putri sulungnya, sehingga mengekor dan melakukan apapun yang Zalfa lakukan.


"Pi... dari tadi papi ngekor Zalfa terus, sebenarnya Papi kenapa?" tanya Zalfa dengan berkacak pinggang.


"Papi merasa bodoh Zalfa, selalu jadi orang yang terakhir mengetahui segala sesuatu yang terjadi di dalam rumah Papi." ucap Zidan sembari duduk di meja makan.


"Dasar papi gak peka, selalu saja terlambat mengetahui apapun yang terjadi pada kita." Zalfa berjalan meninggalkan sang Papi di meja makan, dan memanggil Mami dan kedua kakak nya.


Zidan terduduk di meja makan sembari memikirkan cara apa yang bisa membuat dirinya bisa memantau dan mengetahui apapun yang terjadi pada anak-anak nya dan juga istrinya.


Zidan akhirnya bertekad, akan memasang CCTV di setiap sudut rumahnya, bahkan di dalam kamar nya, namun semuanya hanya bisa di lihat dari handphone Zidan, atau laptop miliknya.


Benar saja Zidan langsung menelepon kantor jasa pemasangan CCTV yang biasa dia gunakan untuk kantor nya.


Sungguh Zidan sangat menyesal, dengan kekurangan dirinya, yang terlambat menyikapi semua nya.