
"Hah..." Nadia menarik nafas, dirinya harus extra hati-hati dalam menjawab pertanyaan putrinya. " Kakak...keputusan yang kakak ambil sangatlah benar, dan Momy mendukung apapun keputusan kakak, tapi satu pesan Momy padamu, jangan pernah membenci dan menghujat orang tersebut, karena Allah akan memberikan cobaan yang sama kepada seseorang yang telah membenci orang lain, dengan memberikan cobaan yang lebih dari itu, agar dia bisa merasakan apa yang dirasakan orang yang dia benci. Dalam intinya, hukum karma berlaku dan itu pasti." Tausiah dari Umi inilah yang selalu Nadia ingat selama ini, dan dijadikan patokan, agar dirinya tak menjadi orang yang sombong dan angkuh.
"Vania tidak membencinya, justru Vania kasihan, mungkin dia tidak memiliki keluarga, ataupun saudara yang bisa memberikan dirinya kasih sayang, baik dari segi materi ataupun kebahagiaan." Vania bersyukur, walaupun Nadia bukan ibu kandung nya, namun dirinya tidak kekurangan kasih sayang darinya.
"Pinter anak Momy, jangan melihat dari luar, belum tentu yang kita lihat itu adalah benar, jadi fokus pada diri sendiri dan keluarga, jangan memikirkan orang lain, apalagi yangg tidak kita kenal sama sekali." Nasehat Nadia pada Vania.
"InsyaAllah Mom, rencananya Vania akan berhijab besok saat masuk kampus untuk pertama kali Momy, jadi tolong bantu semangati Vania." pinta Vania dengan penuh ketulusan.
"Baiklah... Momy dukung keputusan kakak tapi Momy harap tidak buka tutup seperti sebelum-sebelumnya." ucap Nadia penuh kepasrahan.
"Terima kasih Momy, kakak akan selalu mengingatnya. " ucap Vania penuh kebahagiaan.
Seperti tersihir, setelah perbicangan dengan Momy Nadia, Vania tertidur di sebelah sang Momy, begitu juga dengan Nadia, sedangkan dari luar kamar Fahdah sudah mengetuk pintu dengan pelan.
Tuk...
Tuk...
Tuk...
"Momy... kakak masuk boleh?" ijin Fahdah pada sang pemilik kamar, namun karena tidak ada jawaban, ketukan yang awalnya pelan-pelan, akahirnya menjadi gedoran kuat dan mengagetkan.
Duar...
Duar...
Duar...
"Astaghfirullahaladzim... " Nadia dan Vania pun sama-sama terjingkat dari tidur singkatnya.
"Maaf Momy, kakak lupa buka kunci pintu." Kekeh Vania dengan muka bantal nya.
"Iya... tidak apa-apa, sudah sana buka pintunya, nanti adikmu itu akan ngambek dan lapor ke papi yang tidak-tidak. " Saran Nadia.
"Baik bu bos, segera laksanakan. " ucap Vania.
Karena tingkah lucu Fahdah menggedor pintu kamar sang Momy, sehingga menyita perhatian seluruh penghuni rumah, semua anak-anak yang baru saja pulang sekolah pun turut berbaris menunggu pintu di buka, sementara seluruh ART sudah berdiri di tangga paling bawah, menunggu interupsi kalau ada kejadian yang tidak di inginkan, seperti pagi tadi.
Mendengar pintu terbuka ke tiga gadis itupun berhambur mejuju ranjang milik sang Momy, tanpa memperdulikan kakaknya yang terhimpit di sebelah pintu.
"Momy... apa Momy baik-baik saja, kakak takut Momy pingsan lagi." ucap Fahdah .
"Momy baik-baik saja, kakak Vika dan kak Zalfa belum cuci tangan dan ganti baju, sana ke kamar dulu, biar sehat."
tutur Nadia.
Setelah Lima belas menit Vika menghmbur ke pelukqn sang Momy, "Momy, sakit apa? sejak di sekolah Vika sangat khawatir mendengar Momy sakit." terang Vika dengan penuh kecemasan.
Nadia yang mendengar putri keduanya mengetahui dirinya pingsan pun mengerutkan dahinya, pasti Fahdah yang sudah membocorkan semuanya.
Gadis kecil berumur Enam tahun itupun bersembunyi di balik punggung sang kakak.
"Wah... berita Momy pingsan sudah kemana-mana ya." Suara berat seseorang yang paling ganteng di rumah itupun mengagetkan semua yang ada di kamar itu.
"Papi ngagetin saja." Ucap Zalfa berlari sembari merentangkan tangannya.
"Kakak... Fahdah dulu yang peluk papi, nggak boleh pokoknya." ucap Fahdah sembari menangis. Namun membuat Fahad tertawa sinis, "Dasar cewek - cewek aneh, Momy, abang mau belajar ke kamar ya." ucap Fahad meninggalkan mereka yang sedang terbengong.
"Papi... anakku mirip banget sama ayahku, terima kasih ya Allah." Nadia menangis melihat kepribadian Fahad yang mandiri, pendiam, penyayang namun cuek.
"Sayang... semoga Ayah dan Ibu tenang disana, dan selalu mendapatkan kecerahan dan lapang kuburnya." tutur Zidan pada istrinya.
"Amin. " jawaban semua anak-anak di sebelah mereka.
"Allah lebih sayang pada Ayah dan ibu, serta adiku, sehingga mereka meninggal dengan SYAHID InsyaAllah. " ulas Nadia.
"InsyaAllah, jangan lupa hadiah alfatihah buat kakek, nenek dan om kalian ya, biar kuburan mereka besinar." Pesan Zidan kepada seluruh putrinya yang ada di kamarnya.
"Terima kasih sayang, kamu memang Papi yang terbaik buat kami semua." Nadia mengusap pipi suaminya dengan lembut, membuat ketiga putrinya yang menginjak dewasa menggoda mereka berdua. Sementara Fahdah hanya melongo tidak tahu apa yang terjadi.
"Cieeee... so sweet banget si, semoga suami Vania seperti papi, romantis dan sayang sama keluarga, amin."Doa Vania.
"Kuliah saja baru masuk, sudah mikirin nikah, kuliah yang bener, baru mikirin nikah, biar tidak menyesal nanti." ledek Vika pada sang kakak.
"Ingat, Papi tidak melarang kalian menikah muda, namun Papi dan Momy sudah memberikan kalian Kesempatan untuk meneruskan pendidikan kalian, karena jodoh datang tak bisa kalian duga, jadi selama kalian belum menikah, kalian masih tanggung jawab Papi dm Momy, dan setelah kalian menikah, sudah menjadi tangung jawab suami kalian, terserah kalian mau melanjutkan kuliah atau menjadi ibu Rumah tanggal seperti Momy kalian, itu menjadi keputusan keluarga kalian nantinya, jadi tugas Papi da Momy mengawal kalian sampai kepelaminan." Nasehat Zidan pada ketiga putrinya.
"Maksud Papi bukan melepaskan kalian begitu saja, namun sebagai seorang istri harus mendengarkan keinginan suami kalian, karena laki-laki adalah Imam kalian, jadi hormati dan bertanggung jawablah dengan kewajiban kalian sebagai seorang istri, dan semuanya itu tergantung dengan keputusan kalian nantinya." imbuh Nadia.
"Kakak Vika, ni Momy yang pengen Nikah muda, karena pengen seperti Momy, jadi ibu yang baik." Goda Zalfa pada Vika.
"Kata siapa?orang kak Vika pengen jadi wanita karir." sanggah Vania.
"Kalau Vika yang menikah duluan, apa kakak tidak apa-apa ?" tanya Vika penuh selidik.
Zidan dan Nadia tercengang mendengar pernyataan anak keduanya, tak kalah dengan kedua orangtuanya, Vania juga terkejut, dengan ungkapan Vika.
"Kalau Vika mau menikah dengan orang baik, dan bertanggung jawab, mengapa tidak, jangan kepikiran sama kakak, jodoh sudah ada yang mengatur, jadi Vika santai saja, buat kakak, dilangkahi bukan berarti kakak tidk laku,tapi memang Allah belum memberikan jodoh buat kakak." Vania menatap adiknya.
Semenjak masuk kelas 1 SMA, Vika memang sudah di lamar oleh guru agamanya, beliau lulusan dari Cairo mesir, dan juga seorag putra kyai besar di sekolahnya, selain tampan dan berwibawa, Gus Mirza memang seorang yang sangat kharismatik, alasan inilah yang membuat Vika memikirkan kembali lamaran guru Agamanya.