MAMI FOR US

MAMI FOR US
JANJI NADIA



"Kamu memang gadis yang baik, tak salah Vania Sangat menyayangi kamu, namun ibu berharap, kamu bisa membagi cintamu untuk empat orang, dan ibu harap, kamu bisa menganggap mereka sebagai anak-anak mu sendiri." nasehat ibu Zidan pada Nadia.


Nadia mengangguk anggukkan kepalanya, dia sudah siap bila harus berbagi ranjang dengan ketiga anaknya nanti.


Pikiran nadia sekarang hanyalah untuk ketiga putrinya nanti, untuk mencintai suaminya, tentu saja akan berjalan perlahan lahan. Nadia sendiri tidak ingin sakit hati, karena tidak di pungkiri, pesona duda anak tiga ini masih bisa di jadikan perbandingan dengan remaja masa kini.


Tampak dari kejauhan, Zidan tersenyum kepada Nadia, Zidan menangkupkan kedua tangan nya, sambil mengangguk, Nadia yang melihat pun menjawabnya dengan anggukan, senyuman manisnya, ditambah lesung pipi yang menambah kadar kecantikan wajahnya.


Zalfa si bungsu, merengek di pangkuan opanya, ingin duduk di samping Nadia, Opa pun akhirnya menyuruh Zalfa, untuk masuk dan duduk di pangkuan Nadia.


Vania yang melihat Zalfa di pangkuan sang mami pun merasa cemburu, tanpa menunggu lama, Vania pun menghambur ke pelukan maminya, sedangkan Vika yang berada disisi Om nya, tidak berkutik, namun raut wajahnya sudah terlihat akan menangis, Umi yang melihat Vika akan menangis pun menyuruh Nadia untuk memanggilnya.


"Nadia,anakmu yang nomer dua sudah mau nangis tu, panggil sana, jangan pilih kasih, mereka butuh kasih sayang kamu dan perhatian mu, panggil sana!" perintah Umi.


"Baik umi, Vika sayang... sini nak..." Vika yang merasa di panggil pun lengsung berlari menghampiri sang mami, "Sebelah sini buat kak Vania sebelah kanan, kak Vika sebelah kiri,adek di tengah, kan adil... bener gak?" tanya Nadia pada ke tiga anaknya.


"Ketiganya pun mengangguk sembari memeluk Nadia, sedangkan Zalfa sudah menciumi wajah maminya. Hati Nadia berdesir, sungguh malang nasib anak-anak nya, mengharap kasih sayang dari seorang ibu, Nadia berjanji, mulai hari ini, akan menyayangi dan melindungi ketiga anaknya, dan mengambil alih tanggung jawab yang dahulu di berikan kepada sang pembantu, yang selama ini merawat mereka bertiga.


Abah yang melihat kejadian ini pun menyarankan kepada Zidan, agar tidak menunda pernikahan, karena melihat kedekatan Nadia dengan ketiga putrinya itu, secara tidak langsung intensitas pertemuan antara Nadia dan Zidan pun akan terjadi, takut menjadi fitnah, lebih baik disegerakan.


"Zidan, sebaiknya cepat kamu halalkan Nadia, anak-anakmu sudah ingin di manja sama maminya." tutur Abah.


"Surat pernikahan akan selesai berapa hari pak RT? "tanya Abah pada pak RT.


"Paling lama 5 hari Abah, kalau mau cepet nanti saya usahakan 3 hari." jawab pak RT.


"Gimana Zidan? kapan kamu akan menikah, biar kami siapkan semuanya," tutur Abah pada Zidan.


"Jumat depan Abah, tiga hari lagi kami datang untuk acara seserahan." ucap Zidan pada Abah


"Terimakasih Abah, sudah memberikan putri Abah untuk anak saya, mohon doanya, semoga anak kami menjadi keluarga yang harmonis, Sakinah Mawadah Warohmah, Amiin." tutur Ayah pada Abah.


"Saya juga berterima kasih, telah menerima putri Abah, dan satu lagi, jangan sia-siakan dia." Ada perasaan tak rela Abah melepaskan Nadia, gadis yang sudah di anggap nya sebagai anaknya sendiri.


Namun cepat atau lambat, Nadia pasti akan pergi bersama keluarga barunya nanti.


"Ya sudah, Abah setuju hari Jumat pernikahan kalian, berarti masih ada satu Minggu, mulai besok Abah akan menyuruh santri wan santriwati, menyiapkan acara, dan Abah akan membuka pernikahan sebagai sodaqoh Nadia untuk keluarga nya."


"Terimakasih banyak Abah."


Setelah perbincangan yang cukup lama, keluarga Zidan meninggalkan pondok pesantren, namun tidak dengan kedua putrinya, Zalfa yang sudah tidur di pangkuan maminya pun sudah di bawa pulang oleh Om nya, namun Vania dan Vika berencana untuk tidur bersama maminya malam ini.