MAMI FOR US

MAMI FOR US
SABAR... ZID



Sesampainya di rumah Abah dan Umi, Zidan hanya singgah beberapa menit saja, karena jam 10 harus sampai di rumah, karena para pekerja pemasangan CCTV di rumah.


"Assalamualaikum Abah, Umi, pripun kabare?" ucap Zidan pada mertua angkat nya, sembari mencium punggung tangan Abah.


"Alhamdulillah sehat le, awakmu gak pernah dolan ki le?" tanya Abah pada Zidan.


"Tasek sibuk Abah, di tambah lare lare mpun pangkat sekolah." jawab Zidan dan duduk di depan Abah.


Nadia dan ketiga putrinya pun turun bersalaman, kemudian duduk bersama mereka di ruang tengah.


"Awakmu kok tambah lemu Nadia? wes isi po?" tanya Umi pada Nadia.


"Zalfa mau punya adek kembar yang Uti, pengennya adek cowok semuanya." jawab Zalfa pada eyang Putri.


"Masya Allah tabaarokallah... Alhamdulillah, semoga sehat sehat ya Nadia, jaga kesehatan dan pola makan, karena kamu gak sendiri lagi, tapi ada dua nyawa di dalam sini." pesan Umi pada Nadia.


"Nadia mager Umi, bahkan males mandi, apalagi dandan, yang biasanya suka masak aja, sekarang lebih suka tiduran." tutur Zidan pada Abah dan Umi.


"Maklum aja ya mas Zidan, namanya juga tenaganya di ambil sama baby twin, jadi cepet capek dan cepet laper." bela Nadia di depan semuanya.


"Kalah deh, kalau sudah baby twin yang jadi alasan." sungut Zidan pada Nadia.


"Sabar Zid, masih untung Nadia nggak ngidam aneh-aneh, dan gak mual sama muntah, kalau iya, kamu lebih kuawalahan mengurusnya.


"Iya Abah, Zidan juga bersyukur, banyak perubahan yang terjadi di dalam rumah tangga kami, terutama anak-anak." ucap Zidan penuh kebahagiaan.


" Itu baru betul, anak Abah di didik untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anaknya." jelas Abah.


"Abah, Umi, maaf Zidan harus kembali ke rumah, karena ada urusan yang harus say selesaikan, jma 10 nanti, dan saya titip istri dan anak-anakku, mungkin kesorean bahkan kemalaman nanti saya menjemput mereka." terang Zidan.


"Jangan khawatir, kami akan menjaga anak-anak dan istrimu. " ucap Abah.


"Nadia juga ngantuk Abah, Umi, Nadia pamit dulu, pengen bobok di kamar." Nadia hendak berdiri dan meninggalkan ruang tengah.


"Eit... mau kemana? suamimu aja belum pergi, malah mau kamu tinggal ke kamar." ucap Umi pada Nadia.


"Iya... maafkan Nadia ya Mas." Nadia mencium tangan suaminya, disusul dengan ketiga putrinya.


Zidan berjalan keluar meninggalkan pondok pesantren Al Buchori. Tepat pukul 10 Zidan sampai di depan rumah, selang beberapa menit, petugas pemasangan CCTV pun datang.


Selain suara bising karena perubahan kamar bawah, kebisingan juga karena beberapa petugas pemasangan CCTV yang berteriak-teriak, mencoba CCTV dengan seksama.


Sementara Nadia di pondok pesantren, masih saja mager, bahkan tidak mau beranjak dari tempat tidur nya, ketiga putrinya yang faham tentang sang Mami pun hanya bisa tertawa, setiap kali sang Mami tertidur pulas.


"Masih eyang, bahkan gak mau keluar kemana-mana, di rumah pun seperti itu." kata Vania.


"Maafkan Mami kalian ya, mungkin bawaan dedek bayinya, jadi males malesan seperti itu." Ucap Umi.


"Mungkin mami lelah saja eyang, buktinya, tiap hari Mami masih saja masak, beres beres rumah, menemani kami belajar, mengaji, membersihkan kamar kami, karena Mami itu orangnya bersihan, gak suka jorok, jadi mau gak mau, tetap bersih-bersih rumah."tutur Vania.


"Kalian bahagia dengan kedatangan Mami kalian?" tanya Abah pada mereka bertiga.


"Tentunya bahagia eyang, sekarang papi juga banyak berubah eyang, yang dulunya suka cuek, sekarang tidak lagi, yang dulunya gak pernah memberi kabar, disaat bekerja, sekarang Papi yang sering kepoin mama dan kami eyang." terang Vania.


"Ya sudah, main sana sama mbak-mbak di belakang, siapa tahu bisa punya teman seumuran kamu Vika, Vania." ucap Umi nyai.


"Zalfa mau temani Mami aja eyang Uti, takutnya nanti Mami butuh sesuatu, gak ada yang ngambilin."


" Baiklah, Kung sama Uti masuk dulu ya, mau istirahat." tutur Uti.


"Iya Uti, biar Zalfa yang jagain Mami."ucap Zalfa tegas.


Benar saja, Zalfa menunggu Nadia yang tertidur pulas, bahkan Nadia seakan-akan hanya pindah tidur saja dari rumah ke pondok pesantren.


Pukul 11 Nadia terbangun, rasa lapar yang tak bisa di tahan, membuatnya mencari makanan di dapur Abah dan Umi.


"Mbak Nanik, apa masih ada makanan di dapur?" tanya Nadia pada Nanik.


"Maaf mbak, Sepertinya sudah habis, karena ada tamu dari Pati tadi pagi." jawab Nanik.


"Ya sudah, tolong panggilkan kang Sarep ya, saya pengen banget urapan yang ada di pojok pasar." pinta Nadia dengan penuh kegembiraan.


"Sebentar ya mbak Nadia, saya cuci tangan dahulu."


"Iya mbak, saya tunggu kok, asal jangan sampai adzan dhuhur, karena akan sangat ramai." kata Nadia .


"Baik mbak..."jawab Nadia.


__________________________________


Maaf bila beberapa hari kemarin, Author gak update, karena ada urusan penting yang harus author kerjakan, maaf ya... makasih atas dukungannya.


Salam sayang dari Mami NADIA...