
"Bagaimana dengan Mami, Pi? kurasa Mami akan sangat terkejut dengan kejadian ini?" ungkap Vika .
"Biar Papi yang akan bicara dengan Mami, kalian tenang saja." terang Zidan.
Sementara di rumah besar keluarga Selly, Ayah Selly yang tampa sangat bahagia, melihat putrinya sudah memiliki putra, namun entah mengapa, sisi ruang hatinya terasa hampa, mengingat keegoisan dirinya, yang tidak mau menerima, semua cucu perempuan yang di berikan oleh Selly dalam pernikahan pertamanya bersama Zidan.
Roby, seorang laki-laki paruh baya, yang memiliki beberapa cabang perusahaan pertambangan, memang menjodohkan Selly dengan Zidan, dengan maksud untuk sedikit menguasai harta kekayaan, dan beberapa perusahaan pertambangan dan perkebunan sawit di luar Jawa, yang dimiliki keluarga Zidan, namun perkiraan Roby salah, perkebunan dan pertambangan di luar Jawa, tidak di berikan kepada Zidan, melainkan kepada Rain.
Alih-alih ingin menjadikan Selly sebagai umpan, Roby menjodohkan Selly kepada Zidan. Dan menyuruh Selly untuk memiliki anak laki-laki, karena yang Roby tahu, istri Rain adik dari Zidan tidak memiliki keturunan. Sehingga Roby membujuk Selly untuk memiliki anak kembali, hingga Selly menurut saja dengan perintah sang ayah, karena di janjikan akan mendapatkan seluruh harta warisan keluarga nya dan keluarga Zidan, bila dia memiliki anak laki-laki.
Dengan bodohnya, Selly yang masih sangat mencintai kekasihnya itu pun rela menikah dengan Zidan, tanpa sepengetahuan kekasih hatinya.
Keluarga besar Zidan yang memang sudah mengetahui sepak terjangnya Roby sang besan pun sangat berhati-hati, dalam melangkah dan mengabil keputusan, hanya saja kecerobohan mereka dalam bertindak sudah Zidan ketahui sejak awal pernikahan, bahkan sebelum pernikahanya.
Roby yang merasa sedih, dengan kehadiran menantunya, siapa lagi kalau bukan suami Selly yang baru. Dilihatnya lelaki yang seumuran dengan Selly itu, berjalan tertatih-tatih, mencari pegangan kala berjalan. Pulang dengan keadaan mabuk sudah menjadi kebiasaannya, apabila bekerja lembur.
Dari ujung sofa ruang tengah, Roby dapat melihat, putrinya yang cantik sedang menghampiri sang suami, dan membawanya masuk kedalam kamar mereka. Setelah selesai membantu suaminya, Selly kembali menemui Ayah dan putranya.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini?"tanya Roby.
"Bukankah Ayah sendiri yang mengatakan ingin memiliki cucu laki-laki?" tegas Selly pada ayah nya.
"Kamu salah paham, yang aku inginkan adalah cucu laki-laki dari mantan suami mu Zidan, kenapa kamu malah mengacaukan rencana kita, untuk menguasai pertambangan dan perkebunan kelapa sawit di luar Jawa." kilau Roby dengan ucapan Selly.
"Kenapa juga Ayah mendengar kan bisikan iblis Monic?" Selly pun terpancing dengan perkataan sang ayah.
"Ayah tidak tahu, kalau ternyata Monic mempunyai perasaan kepada mantan suamimu, bahkan sangat terobsesi padanya."bela Roby.
"Kalau dia tidak menghasut dan mencuci otak ku,mana mungkin aku meninggalkan mas Zidan yang jauh lebih baik dari dia." ucap Selly yang menyesali perbuatannya.
"Bagaimana dengan Daren? Apa keluarga nya juga akan memberikan kepemimpinan company D&D pada Daren?" tanya Roby
"Aku sedikit tahu tentang permasalahan dalam perusahaan yang di pimpin oleh Daren saat ini." ungkap Roby dengan bangga.
"Entahlah Ayah, Selly sendiri merasa sedikit bingung dengan perubahan mas Daren, semenjak aku melahirkan, dia banyak berubah, bahkan tidak sehangat dulu."
"Jangan terlalu dipikirin, mungkin suamimu memang sedang membutuhkan waktu sendiri."
"iya Ayah, Selly sangat mencintai dan menyayangi mas Daren, sampai kapanpun."
"Selly... apa kamu tidak merasakan kangen kepada ketiga putrimu?" Tanya Roby pelan
Roby sang Ayah yang tak pernah membicarakan tentang ketiga putri Selly, membuat Selly terkejut, bahkan Selly merasakan perubahan dalam diri sang Ayah. Bertahun-tahun Roby menolak kehadiran ketiga putrinya, ketika Selly mengajak ketiga putrinya berkunjung ke rumah kakek Roby.
"Tumben ayah tanya mereka bertiga? ada angin apa?" tanya Selly penasaran, dengan mengikir senyum liciknya.
"Rumah besar ini terasa sepi, tidak ada suara anak kecil berlarian." ungkap Roby.
"Jangan bikin drama Ayah, katakan saja, apa ada rencana baru Ayah?" Selly tertawa kecil, karena tahu semua pikiran dalam otak kotor sang Ayah Roby.
"Kamu selalu saja berpikiran jelek padaku, aku juga manusia, yang akan mati, kelak anak-anak mu juga akan mendapatkan warisan dariku." ucap Roby.
"Ayah... bukankah mas Zidan sudah lebih kaya darimu, kenapa ayah akan memberikan warisan pada ketiga anaknya." ucap Selly marah.
"Selly! mereka juga anak-anakmu, lahir dari rahim kamu, bahkan kamu yang mengandung mereka, apa tak ada sedikitpun rasa cinta dan kasih sayang pada mereka yang telah kamu lahirkan?" bentak Roby pada Selly.
"Yah kamu sendiri yang menginginkan anak laki-laki dariku!" ungkap Selly menahan amarahnya.
"Yang aku butuhkan anak laki-laki dari Zidan, kamu tahu!" Roby berteriak.
"Lalu... untuk apa Ayah membicarakan mereka bertiga? sedangkan dulu, Ayah sama sekali tak mau melihat mereka, secara tidak langsung, Ayah pula yang mendoktrin otakku untuk membenci anak-anakku sendiri, jadi sekarang apa gunanya ayah bertanya tentang mereka?"tanya Selly pada sang Ayah yang menangis.