
Setelah selesai mandi, Zidan meninggalkan Nadia, menuju ruang kerjanya. Di sana berbagai email masuk, yang membuat Zidan pusing sendiri, niat hati mengajak Nadia berbulan madu, namun tak bisa, karena urusan kantor dan masalah yang ada di perusahaan pusat, menggagalkan rencana nya.
Mau tidak mau Zidan harus membawa Nadia ke pulau Bangka Belitung, karena permasalahan yang terjadi, mengharuskan Zidan sendiri yang menangani nya.
Pukul 10 siang Zidan masuk ke kamar nya, dilihatnya kamar uang sudah rapi, dan terdengar suara gemericik air dalam kamar mandi. Zidan menunggu kekasih hati nya, dan ingin menyampaikan perubahan rencananya.
Setelah Nadia keluar dari kamar mandi, dan memakai pakaian, Zidan mengajak Nadia berbincang sebentar.
"Sayang... rencana ke Bali kayaknya gak bisa deh, ada masalah di perusahaan mas yang di Bangka Belitung, bagaimana kalau kita ke Bangka Belitung saja, sekalian masa ingin memperkenalkan istri mas kepada kolega di sana, kalau ada waktu juga, kita bisa jalan-jalan, bagaimana sayang?" Tanya Zidan dengan penuh penyesalan.
"Kemanapun mas membawa Nadia, Nadia selalu akan ikut, dan mungkin takdir Allah yang telah membawa kita untuk ke sana." Jawab Nadia dengan senyuman yang manis.
"Ya sudah kita berangkat nanti malam saja, biar pak Roni yang mencarikan hotel terdekat dengan kantor, sehingga mas bisa bolak-balik kantor dan hotel."
"Iya... Nadia ikut aja, oh ya mas, apa mas gak ngomong sama anak-anak, kapan kita akan pulang, takutnya Zalfa nyari Nadia kalau di rumah."
"Nanti mas bilang sama Uncle dan Aunty nya, jadi jangan di bawa pulang sebelum kita sampai di rumah duluan."
"Oke, mas sudah sarapan? maaf Nadia gak bangun cepat." Nadia tersipu malu.
"Nggak apa-apa, tadi bi Asiyah sudah naik, tapi Akau bilang, nanti biar kamu turun ke bawah sendiri saja, lagian istri mas ini kan baru tahu rasanya, jadi gak pengen berhenti deh." Zidan mencubit pipi Nadia.
Zidan yang gemas pun mencium bibir Nadia yang lemes, dan polos itu, lalu memeluk nya dengan mesra. Zidan merasa mendapat kan mainan baru, menggoda, bercanda, bahkan sedikit berantem dengan Nadia, berbeda dengan Selly, yang selalu diam, dan tak mau berbicara, kehidupan mereka selama 9 tahun di habiskan Zidan dengan sibuk bekerja, karena Selly tak menanyakan kapan dia pulang, bahkan tak menanyakan, apa yang Zidan inginkan, memiliki anak pun karena desakan dari kedua belah pihak, sehingga keduanya berkorban perasaan demi keluarga mereka.
"Sayang, kalau sudah ada anak-anak, jangan pernah berkata seperti itu ya, takutnya mereka bertanya, dan sepertinya, anak anak harus di biasakan tidur sendiri lagi, takutnya kamu nyari rudal mas, kalau tidur."
"Ih alasan saja, bilang aja, rudalnya mau keluar dari gudangnya, ngapain pakai alasan Nadia mau pegang rudal mas." Nadia menelisik manik mata Zidan.
"Oke, setelah kita pulang dari Bangka Belitung, dan anak-anak ada di rumah, kita lihat, siapa yang lebih dahulu mencari rudal, atau mencari lembah, jadi kita bisa tahu pasti mas yang akan menang." jawab Zidan penuh dengan percaya diri.
""Baik... siapa takut." Nadia pun tersenyum devil pada Zidan.
"Ya sudah, sebelum tantangan kita berjalan, boleh ya... rudal nya masuk ke lembah lagi?" rengek Zidan pada Nadia.
"Nggak mau, mulai sekarang tantangannya berjalan, jadi nggak boleh saling mencuri perhatian." Jawab Nadia dengan tegas.
"Mana bisa sayang, kan mas baru buka puasa, bahkan puasa mas sudah lama sayang, nanti kalau rudal nya belok cari lembah yang lain bagaimana?" goda Zidan pada Nadia.
"Ooo... jadi ngancam ni, mau cari lembah yang baru, oke, aku nggak masalah, tapi siap siap sidang di meja hijau, dan anak-anak akan ikut dengan aku, aku tak mau ya,anak-anak jadi korbannya." Nadia bener-bener marah pada Zidan, dan meninggalkan Zidan begitu saja, dan masuk ke kamar ganti mengambil koper dan mengisi dengan beberapa pakaian mereka berdua.
Zidan yang termakan candaan yang dilontarkannya, hanya bisa menelan salivanya, sungguh Zidan baru mengerti, Nadia lebih mementingkan anak-anaknya, ketimbang dirinya, Zidan yang sedikit takut pun mulai melancarkan aksinya, untuk mendapatkan maaf dari istrinya yang cantik, dan Sholeha itu.