
"Terima kasih Abah, apa yang Abah inginkan untuk saya membawa anak Abah?"
"Aku bukan menjual anakku Zidan, walau aku tahu, kamu bisa memberikan apa yang aku butuhkan, tapi aku bukan ayah yang seperti itu."
Nadia yang sudah mengajak Zalfa masuk ke dalam kamarnya pun menidurkan putri kecilnya di sebelah nya, di belainya rambut panjang Zalfa, disertai dengan lantunan sholawat badar dan solawat lainya, tak terasa air mata Nadia jatuh di pipi Nadia, mengingat dirinya yang tak memiliki keluarga, kini tws22 as aaelah mendapatkan keluarga yang mau menerimanya dengan setulus hati.
Nadia sangat menyayangkan dengan keputusan ibu dari ketiga putrinya, dengan membuang mereka dari dalam hatinya, semoga Allah membuka hatinya, untuk menyayangi mereka, walau dalam hatinya, ada perasaan tak rela bila ketiga putrinya akan meninggalkan nya.
Sementara di diruang tamu Abah, Zidan dan Abah memutuskan untuk solat subuh berjamaah di masjid, sedangkan U easymi dan Ibu, solat berjamaah bersama santriwati, di belakang,
Nadia sendiri tak bisa meninggalkan ketiga putrinya, perlahan nadia membangunkan Vania, untuk solat subuh berjamaah, dan benar juga, dengan suaranya yang lembut dan penuh kasih sayang, Vania dan Vika bangun dengan bahagia.
"Kak Vania, kak Vika, Ayuk bangun, solat subuh dulu, berjamaah ya, biar dapat pahala yang banyak." tanpa menunggu lama, keduanya bangun dan bergantian mengambil air wudhu. Sesaat mereka tertegun, adiknya yang paling kecil sudah ada di antara mereka. Ingin rasanya Vania bertanya, namun dia urungkan karena sebentar lagi iqomah, di gandeng nya adiknya Vika, menuju musola khusus santriwati.
Setelah selesai solat subuh, dan bertemu dengan Omanya, Vania kembali ke kamar Nadia, disana Vania mendekati maminya yang sedang mengaji di sebelah adiknya Zalfa.
"Mami, kapan adek kesini? siapa yang anter?" tanya Vania pada Nadia.
"Tadi jam 2.30,diantar sama papi dan Oma." jawab Nadia pada Vania dan Vika.
" Mami, kenapa mami tidak tidur sama kami di rumah? Sebentar lagi kami masuk sekolah mi, mami mau ya, pulang sama kami." rayu Vika pada Nadia.
"Dulu katanya maunya sama mama, sekarang mau sama mami, uuh dasar, taukan mami sangat sayang sama kita, walau kita bukan anak mami, gak kayak mama, membuang kita."
"Iya mami." jawab Vania dan Vika serempak, seraya memeluk Nadia dengan erat.
Setelah berbincang dengan Abah dan Umi, serta Ibunya, Zidan pun memutuskan malam ini akan menikahi Nadia, demi anak-anak nya.
Namun acara syukuran atau resepsi tetep akan di gelar hari Jumat.
Pagi ini kegiatan Nadia sungguh berbeda, selain menyiapkan sarapan untuk Abah dan Umi, namun di hebohkan pula dengan acara melayani ketiga putrinya.
"Mami... kak Vania nakal mi, nggak mau gantian pakai sisir nya. huaaaa.. Hua....."
"Sayang... cup cup cup, anak mami gak boleh nangis, kan udah kelas 1, nanti mami belikan yang baru oke."
"Oke, nanti kakak Vika juga ya mam, kakak belum punya yang seperti itu." pinta Vika pada maminya.
"Iya... nanti mami beliin semua, tapi sekarang gantian dulu ya, adek mau makan apa? hari ini mami masak mereka telur sama sayur, mau?" entah mengapa, semuanya nurut sama Nadia.
"Nadia, Abah sama Umi sudah memutuskan, nanti malam kalian menikah, kasihan anak-anak، kalau harus bolak-balik, nanti jadi anak besar di jalan, lagi pula, sekarang masih libur sekolah, jadi mereka pasti nempel sama kamu, bukan Abah sama Umi gak ngijinin mereka disini, tap takut jadi fitnah, dan kasihan bapaknya, masih sibuk harus bolak-balik kesana kemari." Umi membuka percakapan setelah, anak-anak selesai sarapan,dan sedang bermain dengan yang lain, di taman belakang.
"Nadia ikut aja Umi, kasihan anak-anak juga ya mi, harus tinggal di kasurku yang sudah kucel, dan sempit."
"Ya sudah, siap-siap, nanti habis Isyak kamu ijab Kabul sama Zidan." tutur Umi mengingatkan pada Nadia.