
"Oke mami... " jawab mereka bertiga dengan kompak.
"Sayang... bahan bahan yang dipakai adalah, 1 butir telur, 6 sendok tepung terigu, 1 sendok tepung tapioka atau maizena, garam secukupnya, airnya menggunakan air bayam yang si blender, jadi warnanya hijau sayang.... " Nadia mengajarkan ketiga putrinya, bagaimana membersihkan bayam, mencucinya, lalu di blender, agar bisa menghasilkan air yang berwarna hijau, setelah itu Nadia mengajarkan mereka cara menakar bahan-bahan dengan benar.
"Setelah semua bahan tersedia masukkan tepung terigu, tepung tapioka, telur dan juga garam, aduk, semua hingga rata, lalu tuang sedikit demi sedikit air bayam hingga menjadi adonan yang sedikit padat, jangan terlalu lembek, nanti hasilnya kurang bagus."
terang Nadia kepada ketiga putrinya.
"Mami, punya Vania sudah pas belum?" tanya Vania kepada mami.
"Punya kakak sudah pas, dan kak Vika juga bagus, adek... tuang airnya pakai sendok saja ya, biar gak kebanyakan... oke sayang?"
"Iya mami, punya adek sudah bagus kan mi...?"
"Iya, setelah selesai diamkan selama 10menit, bia kan semua adonan meresap menjadi satu, lalu kita uleni kembali, masukkan ke penggiling adonan, setelah 3 kali di giling, lalu pipihkan, Setelah pipih kita siapkan air panas ya, biar mendidih, beri sedikit minyak sayur, agar mi tidak menyatu. Lalu giling adonan menggunakan penggiling yang berbentuk pipih tadi, sehingga mengeluarkan mi yang panjang sesuai dengan adonan, setelah itu masukkan ke dalam air mendidih tadi yang bercampur minyak, rebus selama 5 menit saja, baru kita angkat, jadi deh mie hijau buatan anak anak mami." terang Nadia penuh bahagia.
"Hore... Zalfa bisa bikin mie sendiri mi, nanti kalau Papi pulang kita buatin ya Mami?" ucap Zalfa dengan gembira.
"Iya sayang, oh ya... besok kita pulang ya, kasihan Aunty Maria, kan lagi hamil muda." tutur Nadia.
"Iya mi, besok kita pulang, lagi pula, kita sudah kangen sama bi Asiyah, lama gak ketemu." jawab Vania .
"Ya sudah, mama bikin sausnya dulu ya, nanti kita makan sama uncle dan aunty."
"Dasar, kamu Nanti kalau gede juga harus belajar masak dek, biar kayak mami, pinter masak." jawab Vania yang sedang membereskan perabotan yang di pakai mereka membuat mie hijau.
"Masih lama kak, kakak aja belum bisa masak, nanti kalau kakak sudah bisa masak, Vika janji deh mau belajar masak sama mami." jawab Vika asal.
"Terserah kamu aja dek, setelah lulus SMP, kakak mau mondok Lo dek, biar adek lebih bisa bertanggung jawab." ejek Vania pada adiknya Vika.
"Oke."jawab Vika.
Nadia hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah laku kedua putrinya. Ada perasaan bahagia, melihat kedewasaan Vania yang masih berumur 12 tahun, sebenarnya Nadia ingin sekali melihat Vania bermanja-manja padanya, namun Vania sudah terbentuk sejak kecil untuk menjadi dewasa, sehingga Nadia sekaan akan belum rela melihat Vania dewasa dengan secepatnya.
Keesokan harinya, Nadia dan ketiga putrinya pulang kembali ke rumah mereka, setelah drama menangis Aunty Maria, yang melarang mereka pulang, namun akhirnya mengizinkan pulang dengan syarat membuatkan mie hijau buat Dede bayi.
Nadia dan ketiga putrinya berangkat dari Jakarta pukul 8 pagi, menggunakan kapal terbang menuju Semarang, setelah itu pak Slamet akan menjemput mereka di bandara, pukul 11 siang mereka sudah berada di rumah, setelah sholat Dzuhur dan makan siang, anak-anak beristirahat, sedangkan Nadia memilih membuat kue bolu kesukaan ketiga putrinya.
Entah mengapa, hari ini Nadia ingin sekali membuat kue bolu pisang yang menjadi favorit suaminya, perasaan apa yang Nadia rasakan saat ini, sehingga menuntun nya untuk membuat nya.
Jadwal Zidan yang seharusnya pulang esok hari, ternyata bisa di percepat hari ini, dengan tergesa-gesa, Zidan mengemas seluruh pakaian dan perlengkapan nya, dan tepat pukul 11 siang Zidan terbang ke Semarang.
pukul 3 sore Zidan sudah sampai di halaman rumahnya, rumah tampak sangat sepi, sehingga tak ada seorangpun yang menyambut kedatangan Zidan hari ini, selain surprise yang di berikan, karena dia juga datang pada jam tidur siang.
Zidan masuk kedalam kamarnya, pandangannya menyapu keseluruh ruangan, namun tak ada siapapun, terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi, tanpa menunggu lama, Zidan pun menanggalkan seluruh pakaiannya, setelah memastikan kamar terkunci, Zidan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.