
Benar saja, Zidan hari ini menjemput Nadia dan ketiga putrinya, saat menjelang magrib, namun Abah dan Umi melarang mereka langsung pulang, Karena dilarang waktu tengangi ( Yaitu sebelum dhuhur dan sebelum Maghrib) wanita yang sedang hamil bepergian, kecuali mendadak.
Hari berganti hari, Minggu pun berlalu, tepat 9 Minggu kehamilan Nadia, baby twin memang tidak merepotkan sang Mami, Nadia yang baru pertama kali mengalami kehamilan, dan sangat di bilang ngebo, alias tidak merasakan apapun yang namanya morning siknes bahkan ngidam, menyalah artikan kesehatan nya.
Pagi ini adalah hari Sabtu, dimana sudah 2 hari ini Nadia membantu bi Asiyah untuk membersihkan kamar baru Nadia dan Zidan, juga baby twin, Nadia yang lupa dengan dirinya sedang berbadan tiga itupun melakukan aktivitas seperti biasanya, karena memang baby twin tidak rewel atau menyusahkan.
Nadia ikut beberes, bahkan aktivitas yang di bilang bukan seorang yang sedang hamil. Sore harinya, pukul 4, Nadia merasakan badannya sedikit panas dan mengalami kram perut, awalnya Nadia tidak menghiraukan rasa sakitnya, namun lama kelamaan, rasa kram yang dirasakan semakin sakit, wajah Nadia pun semakin pucat, dengan cepat Nadia memanggil sang suami pulang, untuk mengantar nya ke dokter kandungan.
Zidan yang mendengar Nadia mengalami kram perut pun langsung meninggalkan kantor tanpa berpamitan. Rasa takut dan was-was, membawanya sampai di rumah dengan secepat kilat, bahkan hampir saja menabrak mobil di depan nya.
Zidan yang panik langsung naik, dan masuk ke kamarnya, di lihatnya, wajah pucat Nadia yang menahan sakit, Zidan memandangi bagian bawah Nadia, bagaimana pun Zidan sangat takut bila Nadia mengalami keguguran.
Tanpa pikir panjang, Zidan menggendong Nadia, dan membawanya ke rumah sakit, saat menuruni anak tangga, ketiga putrinya berteriak melihat sang Papi menggendong Mami nya yang terlihat sangat pucat.
"Papi... Mami kenapa?" tanya Vania.
"Papi... Mami sakit apa?" Vika berjalan mengikuti sang Papi.
Sedangkan si kecil Zalfa hanya menangis melihat sang Mami di gendong Papi nya. Zidan yang panik tidak mampu menjawab pertanyaan dari ketiga putrinya, sehingga Zidan hanya berjalan dengan cepat keluar rumah menuju mobilnya.
Zidan menyuruh pak Slamet untuk menyetir mobil menuju rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah Sakit, Nadia mendapatkan penangan di ruang IGD, Zidan hanya menunggu dengan harap-harap cemas. 15 menit sudah berada di ruang IGD, Nadia mendapatkan penanganan langsung dari dokter OBGYN. Dokter Riani, karena saat ini Dokter Dian sedang tidak bertugas.
Setelah lima belas menit, Dokter yang menangani Nadia pun keluar dari ruang IGD, dengan perasaan takut dan berdebar-debar, Zidan mencoba bertanya kepada sang Dokter
"Dokter, apakah istriku anakanakku baik-baik saja,?tanya Zidan lesu.
Syukur Alhamdulillah, Bu Nadia hanya mengalami kram perut saja, kandungan nya pun baik baik saja, tapi di harapkan tidak melakukan aktivitas yang berlebihan, karena akan membahayakan janin yang di kandungnya."
"Sebaiknya jangan banyak bergerak dulu, kalau sudah melewati tri semester pertama, dan janin sudah kuat, bisa beraktivitas kembali."
"Istri saya orangnya gak mau diam dok, karena kehamilan nya memang tidak membuat kesusahan, bahkan tidak mengalami mual ataupun muntah, dan ngidam ini itu, jadi merasa tidak apa-apa, dan lupa, ada baby twin didalam nya."terang Zidan pada Dokter.
"Tidak apa-apa pak, kram perut kadang terjadi, tapi sebaiknya untuk saat ini, jangan melakukan aktivitas yang berlbihan, agar baby nya sehat, dan kuat."
"Terima kasih Dokter, apa istri saya sudah boleh pulang Dok?" tanya Zidan.
"Sudah pak, kalau infus nya sudah habis, tapi saya harap Bu Nadia bisa bedrest dulu ya, jangan banyak gerak apalagi aktivitas berat, biar tidak kram lagi, jaga pola makan, jaga kesehatan dan jangan lupa obat penguat kandungan dan vitamin nya di tebus ya pak, saya doakan sehat dan selamat sampai melahirkan nanti." doa Dokter Riani pada Zidan dan Nadia.
" Baik Dokter, kalau begitu... Saya permisi Dokter, mau menemui istri saya." pamit Zidan.
"Silahkan pak." ucap Dokter Riani.
Zidan membuka pintu ruang IGD, disana Nadia sedang tertidur, sudah terlihat lebih baik, dan tidak tidak pucat lagi, Zidan membelai tangan Nadia yang sedang di infus, di usapnya perut Nadia berulang kali, hingga membuat Nadia terusik, dan membuka matanya.
"Mas... maafkan Nadia ya, tidak mendengarkan mas, sehingga membahayakan diri Nadia sendiri, terutama baby twin juga, maaf." ucap Nadia dengan suara pelan.
"Mas sudah memaafkan kamu, tapi mas harap, kamu lebih berhati-hati sayang, ingat di dalam sini ada dua baby, dan Allah akan mempertanyakan nanti pada mas dan kamu, bila kita tidak bisa menjaga mereka." nasehat Zidan pada Nadia.
"Maaf, Nadia akan lebih berhati-hati, dan menjaga baby twin dengan baik." Nadia menangis menggenggam tangan Zidan.
" Sayang, sudah mas katakan dari awal mas mengetahui kamu hamil, jangan banyak aktivitas, karena belum melewati tri semester pertama, dan masih rentan, apalagi baby twin, pasti kamu akan lebih mudah lelah, jaga baik-baik buah hati kita Nadia, jangan biarkan mas menjadi orang yang paling bersalah, karena tidak bis menjaga kalian." Zidan menagis menyesali kesalahannya, tidak mengambil pembantu baru di rumah, apalagi saat ini renovasi rumah membuat aktivitas Nadia lebih banyak.
"Jangan merasa bersalah mas, Nadia juga salah, karena kehamilan Nadia yang tidak mengalami morning siknes dan ngidam apapun, membuat Nadia terlena, maaf, mulai saat ini juga, Nadia akan selalu jaga diri dan lebih berhati-hati." Nadia mencium tangan suaminya.