
Wajah sumringah dan senyuman terpancar dari sepasang suami istri yang sekarang memasuki rumah milik mereka berdua, Zidan menggandeng tangn Nadia saat menuruni mobil yang terparkir di depan rumah, pak supir tergesa-gesa menutup kembali pintu mobil, dan berlari membukakan pintu ruang tamu rumah majikanya.
Mendengar pintu rumah terbuka, seluruh ART Pun berlari menyambut kedatangan sang majikan, berjejer menunggu perintah dari sang majikan, namun melihat wajah ceria dan sumringah dari kedua majikan mereka, semuanya terlihat terkejut, betapa besar ketakutan mereka ketika melihat Nadia tiba-tiba pingsan, apakah penyakit majikanya.
Nadia yang melihat raut wajah mereka merasa khawatir pun membuka percakapan. " Jangan khawatir, saya tidak apa-apa, jadi kembalilah pada pekerjaan kalian masing-masing." Tutur Nadia sembari tersenyum. Semua yang mendengar pun bernafas lega, ternyata kekhawatiran mereka tidak terjadi, dengan bukti majikanya tersenyum dan sudah membaik. Mereka bergerak Ingin meninggalkan Nadia dan Zidan, namun belum sempat mereka melangkah, Zidan memanggil mereka kembali.
"Tunggu... tolong jaga Nadia, turuti semua keinginanya, karena..." Zidan menggantung perkataanya. Mereka yang menunggu titah sang majikan pun masih menunggu dengan was-was.
"Nungguin ya..." ucap Nadia yang membuat semuanya tertawa."Kmu bisa aja sayang, bikin mereka tegang saja" ucap Nadia seraya memukul bahu Zidan.
"Habisnya mereka lucu sayang, wajah mereka sangat serius." goda Zidan pada Nadia.
"Pastinya lah sayang, kan pagi tadi aku sempat pingsan, pasti mereka takut aku kenapa-napa. "bela Nadia.
"Oke... mulai sekarang kalian bekerja dengan hati-hati, semuanya harus memprioritaskan Nadia, apapun keinginanya harus di penuhi. " titah Zidan.
"Baik pak..." ucap mereka serempak.
"Sayang... kenapa kamu yang perintah mereka menurutiku, bukannya kamu? Ih... bikin kesel saja." Sungut Nadia pada Zidan.
"Sayang... kok ngambek, ya kalau aku di rumah aku pasti turutin, kalau aku di kantor kan mereka yang ada di rumah." Bela Zidan.
"Terserah..." jawab Nadia mode ngambek. Nadia sendiri merasa sangat cengeng beberapa hari ini, pengen banget di manja.
"Pak apa mungkin bu Nadia hamil lagi?"tanya mbok Jum.
Zidan mengangguk, yang di barengi ucapan Alhamdulillah oleh seluruh ART.
"Selamat ya bu, semoga sehat selalu, dan lancar sampai persalinan." ucap mbok Jum penuh semangat.
"Pasti anak-anak senang sekali."ucap teh Euis.
"Ya Allah ... semoga kembar lagi ya bu, pasti sangat lucu seperti Fahad dan Fahdah. "Timpal teh Susi.
"Amiin... semoga saja, setelah itu aku mau Pasang spiral ya mas."ungkap Nadia.
"Kenapa? kamu gak mau punya banyak anak?" selidik Zidan.
"Mau banget, tapi kalau kembar lagi kamar anak-anak tidak cukup." alasan Nadia.
"Kamu ada-ada saja, kita bisa bikin kamar baru di sebelah, kan masih ada tanah kosong, nanti Fahad dan Fahdah kita bikinin kamar baru, biar yang di sini buat adek mereka." Zidan memberikan solusi pada Nadia.
Melihat majikan mereka sedang berdebat para ART pun pamit untuk mengerjakan pekerjaan mereka kembali.
"Kami permisi dulu pak, Bu."ucap mbok Jum sembari mengintrupsi yang lain untuk mengikutinya ke dapur. yang di jawab anggukan dari Nadia dan Zidan.
"Terimakasih sayang, memberikan aku anak yang banyak, pasti anak-anak senang mendengar mereka akan memiliki adik lagi." Zidan memeluk Nadia denan penuh kasih sayang.
"Terserah kamu sayang, padahal uang ku tidak akan habis walau aku punya anak 11pun." ucap Zidan.
"Jangan sombong mas, ucap syukur, masih di beri rizqi dari Allah,dan jangan lupa, dari harta kita ada hak orang-orang yang membutuhkan, dan ingat semua itu hanyalah TI TI PAN dari Allah, dan kita harus menjaganya, agar Allah tak melaknat kita."omel Nadia.
"Astaghfirullahaladzim... maaf sayang, bener banget, semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah. Makasih sayang sudah mengingat kan mas."Seloroh Zidan.
Setelah menemani dan memastikan keadaan Nadia, Zidan kembali gi ke kantor, karena sudah mendapat telepon dari sang sekertaris, ada Klien yang menunggu di kantor. Setelah berpamitan pada Nadia, Zidan meninggalkan Nadia.
Drama kehamilan Nadia di hari ini memang sangat membuat HEBOH seluruh rumah besar itu. Kedamaian yang tercipta 4 tahun belakangan ini, setelah kedua anak kembar mereka yang sudah mulai sekolah, dan kini mereka menanti kehadiran suara tangisan Bayi yang 7 bulan lagi akan menghiasi rumah mereka kembali.
Pukul 11 siang anak kembar Nadia sudah kembali, anak kelas satu itu angsung menuju kamar sang mama, tanpa memperdulikan mbak Yuni yang menyuruhnya untuk mencuci tangan dan kaki mereka sebelum bertemu sang mama.
"Kak, cuci tangan dulu sebelum bertemu mama." ucap mbak Yuni.
"Nanti kami cuci tangan di kamar mama mbak." sahut Fahad yang di ikuti Fahdah dengan nggukan.
"Bener ya kak, jangan dekat-dekat mama dulu."namun ucapan mbak Yuni tidak merek hiraukan, keduanya berlari menuju kamar sang mama .
"Assalamualaikum mama, kakak sama adek sudah pulang. " tutur Fahad.
"Waalaikum salam, eh anak mama suda pulang, cuci tangan dulu sayang, setelah itu ganti baju ya, biar ga gerah." Titah Nadia. Kedua anak berumur 6 tahun itupun menurut. Keduanya keluar menuju kamar mereka dan mengganti pakaian dan mencuci kedua tangan dan kakinya. Setelah selesai apa yang mama titah kan, keduanya berlari kembali menuju kamar sang mama, dimana sekarang di sebeah ranjang ada mbok Jum yang sedang menemani sang mama.
"Hati-hati sayang, jangan lari-lari, pelan-pelan naiknya, biar dedeknya tidak kaget sama kakak-kakaknya." ucap mbok Jum dengan pelan-pelan .
Mendengar kata-kata dedek, Fahad langsung berhenti dan menatap adik kembarnya.
"Adeknya kan udah gede juga mbok, ini dia." ucap Fahad, sembari menunjuk pada adiknya Fahdah.
Nadia yang melihat raut wajah Fahad pun tersenyum. "Kesini sayang, cium dulu mamanya, bagaimana sekolahnya sayang?" tanya Nadia.
"Semuanya baik-baik saja mama."jawab Fahad sembari mencium pipi sang mama.
"Bagaimana dengan kamu sayang?" Nadia mencium pipi Fahdah.
"Fahdah juga baik ma, mama sudah sehat sekarang?" tanya Fahdah.
"Alhamdulillah mama sehat kok, dengar ya kaka Fahad dan dek Fahdah, di perut mama sekarang ada dedek bayi lagi, jadi sekarang mama tidak bisa gendong kalian, dan dek Fahdah akan menjadi kakak, bukan adek lagi, faham kan dek?" terang Nadia pada kedua anak kembarnya.
"Jadi sekarang adek akan menjadi kakak ye........ Fahdah senang ma, dedeknya cewek apa cowok ma?"tanya Fahdah.
"Mama belum tahu sayang, tapi kakak pengen punya adeknya cewek apa cowok?"tanya Nadia.
"Emm... aku pengenya cewek aja ma, nggak seneng sama adek cowok, nanti kaya kakak yang suka suruh-suruh." jawab Fahdah.