MAMI FOR US

MAMI FOR US
ZIDAN JUNIOR



Setelah bergulat selama 2 jam, sepasang suami istri yang di penuhi kebahagiaan kini telah duduk di depan televisi di ruang tengah, ketiga putrinya yang sudah mendengar sang papi pulang pun paham, tidak mau mengganggu tidur siang mereka, dan memilih untuk bermain di kamar mereka.


Bi Asiyah yang melihat tuan dan nyonya sedang berada di depan ruang tv pun menawarkan teh panas pada Zidan dan Nadia.


"Den Zidan dan nyonya, mau bibi buatkan teh apa kopi?" tanya bi Asiyah pada Zidan dan Nadia.


"Nggak usah bi, biar Nadia saja yang bikin, mas mau kopi apa teh, oh ya mas, Nadia juga bikin bolu pisang kesukaan kamu mas." ucap Nadia pada Zidan.


"Kalau begitu teh aja sayang, biar bisa di minum sama bolu." ucap Zidan sembari membelai rambut Nadia yang tidak berjilbab, karena setiap pekerja laki-laki Zidan larang masuk kedalam rumah, apabila tanpa di panggil olehnya atau Nadia, sehingga Zidan dan Nadia tidak akan terusik bila sedang berduaan walau Nadia tanpa jilbab.


"Oke sayang, sebentar ya, Nadia ke dapur dulu." Nadia berlalu menuju ke dapur, membuat kan suaminya teh dan membawakan kue bolu pisang kesukaan nya.


"Silahkan di nikmati sayang, aku tinggal ke kamar dulu ya, mau lihat anak-anak sudah bangun apa belum?" ucap Nadia pada Zidan.


"Sebentar ya, jangan lama-lama, aku masih kangen, sayang..." Zidan memeluk Nadia yang berdiri, sedangkan dirinya duduk di sofa.


"Iya, aku janji, cuma sebentar, kelihatannya anak-anak juga sudah bangun kok mas, sebentar aja ya..." Nadia membelai rambut suaminya yang memeluk perutnya.


"Sayang... kapan Zidan junior tumbuh di sini ya?" Zidan mendudukkan Nadia dengan paksa di sebelah nya.


" Mas... kita menikah saja baru 2 Minggu lebih, dan hubungan kita pun baru seminggu lebih, sabar sayang, kalau sudah Rizqi kita, pasti Allah kasih secepatnya, jangan takut ya." Nadia menatap mata suaminya yang ada di samping nya.


"Bener juga, belum ada sebulan ya kita menikah, ah senangnya punya istri baik dan Sholehah seperti kamu sayang." zidan mencubit hidung Nadia.


Dari kejauhan kedua putri Zidan berlarian, Zalfa dan Vika menghambur ke pelukan sang papi, yang sudah seminggu ini tidak bertemu, sedangkan Vania lebih santai berjalan.


"Papi... Zalfa kangen..." Zidan memeluk dan mencium Zalfa.


"Kak Vania nggak kangen sama Papi ni?"Zidan merenggangkan kedua tangannya menanti Vania memeluknya.


Vania yang sudah lebih dewasa, memang sedikit pemalu sekarang, apalagi sekarang Vania sudah mengalami menstruasi, sehingga dia sedikit malu pada sang Papi.


"Vania... kenapa sekarang jadi pemalu sama Papi, ah bener juga kata mami, sekarang Vania sudah besar, Papi jadi iri sama mami, karena mami sekarang Kaka Vania lebih dekat sama mami dari pada Papi."ucap Zidan dengan wajah sedihnya.


"Papi... Vania kan sudah besar sekarang, jadi Vania gak mau manja-manja lagi sama Papi." Vania berlalu mendekati sang mami.


"Papi kok belum rela mami, kak Vania cepat besar, kayak baru kemarin kak Vania masih papi gendong, dan juga papi mandikan, sekarang sudah jadi gadis cantik, ah... papi merasa tua sekarang." Zidan mengeluh di pangkuan sang istri.


"Papi harusnya bersyukur, di umur papi yang masih muda, Papi sudah punya anak gadis yang cantik, dan penurut lagi, jangan bersedih, semoga kak Vania menjadi anak Sholehah."


"Amiiin... ya robbal alamiin." ucap Zidan dan ketiga putrinya.


"Kakak mau mondok Pi, mi, pengen mandiri, dan juga pengen punya banyak teman, dan ingin mendalami ilmu agama kakak, apakah papi dan mami mengijinkan kakak?" tanya Vania pada papi dan Maminya.


"Tentu saja sayang, tapi jangan jauh-jauh ya, nanti kalau Papi kangen susah jenguk nya." Zidan membelai putrinya yang cantik.


"Kenapa kakak pengen pergi mondok? kan mami baru saja datang, berarti kakak gak sayang sama mami ya?" ucap Nadia pada Vania.


"Mami, bukan kakak gak sayang sama Mami, tapi kakak juga pengen punya ilmu agama yang tinggi, biar bisa mengajarkan putra putri Vania nantinya, seperti Mami, yang bisa segala hal, dan Vania ingin seperti Mami." ucap Vania pada sang mami.


" Tapi jangan sekarang sayang, Mami belum siap melepaskan kamu, memang masih ada adik-adik kamu, tapi mami juga pengen menyayangi Kamu juga adik-adik mu." ucap Nadia dengan menangis dan berlalu pergi masuk ke dalam kamar, disusul oleh Vika dan Zalfa.