MAMI FOR US

MAMI FOR US
KAMU HAMIL



" Memangnya kakak mau ke pondok kapan?" tanya Zidan pada Vania.


"Nantilah Papi, Setelah lulus SMP, bukan sekarang." jawab Vania dengan terkekeh.


"Lihat Mami mu, dia sedih dan menangis, kamu gak kasihan kalau mami sakit gara-gara memikirkan kamu sayang, sana minta maaf sama Mami, bilang kalau kakak hanya bercanda, peluk Mami ya, jangan biarkan Mami sedih." ucap Zidan penuh kasih sayang.


"Iya Pi, Vania ke kamar dulu temani Mami."


Sementara di dalam kamar, Vika dan Zalfa membujuk sang Mami untuk tidak menangis dan marah lagi.


"Mami... jangan marah ya, kakak hanya bercanda, gak mungkin kakak pergi sekarang, karena kakak belum selesai SMP. " ucap Vika pada Nadia.


"Kakak pasti gak sayang sama Mami, baru saja mami datang sudah mau pergi, mending Mami aja yang pergi." ucap Nadia pada Zalfa dan Vika.


Vania yang langsung masuk ke kamar Papi, langsung memeluk sang Mami yang sedang menangis.


"Mami.... maafkan Vania, sebenarnya kakak hanya bercanda, nanti kalau kakak lulus SMP baru kakak ke pondok, dan pondok nya juga tempatnya Abah sama Umi, jadi gak jauh, biar Papi sama Mami tidak jauh bila ingin jenguk Vania." terang Vania.


Nadia yang sedang bersedih pun langsung memeluk putrinya, betapa sedih rasanya, Mendengar putrinya akan meninggalkan rumah, walau tujuan utama adalah menuntut ilmu, namun Nadia belum sanggup untuk berpisah dengan Vania, yang sudah di anggap sebagai putri kandungnya sendiri.


Hari berganti hari, Minggu pun berlalu, tak terasa sudah 2 bulan lebih Nadia mengisi kekosongan rumah Zidan, sebagai ibu muda yang serba bisa, tugas dan tanggung jawab yang besar ada di pundaknya, dengan kelembutan dan kebaikannya, Nadia mampu membuat perubahan dalam rumah besar Zidan.


Zidan yang dulu selalu cuek dan tak pernah memberi kabar atau bertanya kabar pada istri dan anak-anaknya, kini berubah menjadi orang yang posesif, dan paling marah bila tak ada kabar dari istri dan anak-anaknya, seperti hari ini, Nadia yang lupa memberi kabar kepada suaminya, di kejutkan dengan kepulangan Zidan pada jam kantornya.


Zidan yang melihat istrinya sedang memasak, berlalu ke kamar dan mengganti pakaiannya dengan kaos santai dan celana pendeknya. Setelah berganti pakaian, Zidan mengahmpiri sang istri dan memeluk nya dari belakang, Nadia yang terkejut pun hampir saja memukul tangan suaminya dengan centong panas, namun lagi-lagi, cincin pernikahan mereka menyelamatkan dirinya dari pukulan Nadia.


"Mas... bisa gak? jangan bikin Nadia punya penyakit jantung?" tanya Nadia pada Zidan.


"Kenapa? kaget saat aku peluk dari belakang?" tanya Zidan sambil mencium pipi Nadia.


"Jangan begini lagi, aku takut orang lain yang masuk nanti kamu kira aku selingkuh lagi." sungut Nadia.


"Aku sudah bilang, kenapa gak kasih kabar aku sejak pagi tadi?aku menunggu telpon kmu sayang, lagi pula gak ada orang laki-laki manapun yang bisa masuk, bila tanpa persetujuan dari aku." ucap Zidan


"Oke lah sultan mah bebas, orang kecil mah bisa apa?" ejek Nadia.


Zidan yang semakin nakal mencoba meraba raba seluruh kulit di balik daster panjang Nadia, yang memiliki kancing di depan.


"Apa iya sayang? tapi aku gak merasakan perubahan deh?" ucap Nadia sembari melepaskan pelukan suaminya yang sudah mulai nakal.


" Bener, bahkan ini...sudah membengkak, dan ini sudah besar, dan satu lagi..." Zidan yang menunjuk dua gunung kembar dan pinggul Nadia.


"Satu lagi apa mas? jangan bikin aku penasaran deh." Nadia sedikit emosi.


"Satu lagi... punyamu semakin kencang... bikin aku ketagihan Lo..." ucap Zidan tanpa malu di telinga Nadia.


"Mas ini ada-ada aja, mana ada, makin kenceng, yang ada makin kendor." ucap Nadia ketus.


"Eit.... jangan salah, suami makin sayang apabila sang istri sedang hamil, karena berbeda dari hari-hari biasanya." Zidan mencubit pipi Nadia.


"Ah benar juga, mas kan sudah pengalaman, tapi lebih menggoda siapa? aku atau kak Selly?" tanya Nadia pada Zidan.


Jedeeer...


Bagai tersambar petir, Zidan terkena jebakan nya sendiri, akan susah bila Nadia sudah cemburu seperti ini. Jurus apa yang akan Zidan lakukan untuk menaklukkan Nadia hari ini.


"Sayang... bagi mas... pasti kamulah yang terbaik, kalau Selly kan hanya masa lalu." jawab Zidan kembali memeluk Nadia.


"Awas ya, kalau aku tahu ada wanita lain di hati mas, aku gak segan-segan bawa anak-anak jauh darimu." ucap Nadia membelai lembut lengan suaminya.


"Tidak akan sayang, oh ya sayang, nanti sore kita ke dokter ya, aku semakin yakin kalau kamu hamil deh." ucap Zidan penuh keyakinan.


"Mana ada, aku gak merasakan apa-apa sayang, bahkan aku tidak mual, dan tidak pusing, biasa saja, cuma makan aku aja yang bertambah, cepat laper soalnya." jawab Nadia dengan malas.


"Sayang... kamu semenjak pernikahan kan belum pernah menstruasi lagi kan? bahkan pernikahan kita juga sudah berjalan 2 bulan lebih lo? sebelum sebelumnya memang sudah biasa terlambat seperti ini sayang?" tanya Zidan pada istri tercintanya.


"Belum pernah sayang, bahkan selalu tepat waktu, kenapa aku bisa lupa ya? padahal selama ini aku tak pernah lupa sama sekali." tutur Nadia sembari melamun.


"Aku yakin anakku cowok, dari yang aku lihat, kamu bahkan sekarang jarang berdandan, bahkan susah untuk mandi, dan lebih suka tidur larut malam." ujar Zidan menyadarkan Nadia.


"Terserah kamu aja lah mas, aku ikut kemanapun kamu membawa ku."