MAMI FOR US

MAMI FOR US
MEREKA JUGA ANAK-ANAK KU MAS



Saat Nadia berada di Toilet, Zidan kembali membicarakan tentang rencana Monic untuk menculik Nadia.


"Kamu tahu Selly, sahabatmu Monic berulah lagi, dia berencana menculik Nadia." ucap Zidan.


Sontak Daren dan Selly terkejut dan saling pandang.


"Kapan mas bertemu dengan dia? sudah hampir 3 tahun kami tidak bertemu dengan Monic." tanya Daren pada Zidan.


"5 hari yang lalu, tapi anak-anak sudah menghardik nya, bahkan menelan nya mentah-mentah, di depan orang banyak." ucap Zidan.


"Dari mana mas tahu Monic ingin menculik Nadia?" tanya Selly heran.


"Dia mengirim pesan kepada temannya, yang memiliki tugas mengecoh anak-anak, sebenarnya yang dia incar adalah Nadia, karena anak-anak tidak begitu berpengaruh baginya, rencananya dia akan menculik Nadia saat pertemuan wali murid Jumat depan." ucap Zidan.


"Apa kami bisa membantu kamu mas? aku sudah mengenal dia sejak lama, bahkan sebelum mas Daren berangkat ke luar negeri, dia sempat mencoba menggoda nya, bahkan hampir saja berakhir bersama." ucap Selly.


"Iya mas, kami sudah tahu akal bulus dia, bahkan perceraian kalian pun rencananya, karena ingin memiliki dirimu." imbuh Daren.


"Kalau Vania menerima usulku, dengan senang hati aku menerima bantuan dari kalian, kalian tahu, Nadia sedang mengandung, aku tak ingin terjadi apa-apa padanya, anak-anak pasti akan kecewa bila terjadi sesuatu pada Mami nya." ucap Zidan, yang sedikit membuat Selly tercubit hatinya, karena kenyataannya, anak-anaknya, lebih mencintai Mami barunya, ketimbang Mama kandungnya.


Daren menggenggam tangan Selly, dan tersenyum, Selly tahu, Daren menguatkan Selly untuk bersabar.


Zidan yang melihat perubahan mimik muka Selly pun merasa tidak enak, dan meminta maaf padanya.


"Maaf, anak-anak butuh waktu untuk dekat dengan mu lagi Selly, bukan aku menjauhkan mereka, semoga kamu paham dan memaafkan mereka, sesungguhnya mereka sangat merindukan dirimu, dan ingatlah, setiap hari Nadia selalu mengajak mereka untuk bertemu dengan kamu, jadi jangan sungkan sungkan, bila ingin bertemu dengan mereka, karena mereka juga anak kamu." ucap Zidan pada Selly.


"Mereka juga anak-anakku mas, jangan lupa aku juga Abi mereka, jadi kami akan mendekatkan diri pada mereka, kalau memang ada kesempatan, atau kalian sedang sibuk, dan membutuhkan bantuan kami, kami siap sedia." ucap Daren, menatap Zidan dengan penuh ketegasan.


"Baiklah, tapi saat ini, yang terpenting adalah bagaimana kita mengelabui Monic, dan melindungi Nadia dari penculikan." Sela Selly yang merasa tidak enak kepada Zidan dan Daren.


"Mas, sebaiknya kita laporkan ke polisi saja, daripada harus ada yang terluka." ucap Selly


"Menurutku, apa yang dikatakan Selly sangat benar, kita jangan bergerak sendiri, nanti kalau ada apa-apa, bisa bahaya bagi kita." bela Selly pada suaminya.


"Aku tidak bisa, karena aku belum sempat berpikir kesana, dan lagipula aku tidak memiliki teman seorang polisi yang bisa di ajak kompromi." ucap Zidan.


"Mas... tenang saja, sepupuku adalah Intel, aku akan menugaskan dia untuk bekerja sama dengan mas Zidan, dan aku harap, tidak melibatkan anak-anak, lebih baik kita gunakan umpan seorang wanita yang postur tubuhnya mirip dengan Nadia, dengan begitu, ketika ada yang mebawa Nadia, kita bisa melacak nya." terang Daren


"Betul mas, aku tak ingin pernikahan mas berantakan dan anak-anak yang jadi korban lagi, cukup aku saja yang di benci mereka mas, jangan Nadia, apalagi dia sedang hamil, pasti sulit bagi anak-anak." bela Selly pada suaminya.


"Terserah kalian saja, aku ikut, tapi jangan bilang sama Nadia, aku tak ingin terjadi apa-apa pada Nadia dan anak-anakku." Tegas zidan pada Selly dan Deren.


" Tenang saja mas, urusan Nadia, biar aku saja yang urus, agar tidak merasa di abaikan keberadaan nya." Usul selly.


Perbincangan mereka pun berhenti, kala Nadia semakin mendekat, dan sudah duduk di sebelah Zidan.


"Kayaknya serius banget pembicraan kalian, jadi kepo deh." ucap Nadia.


" Hanya membahas pertemuan wali murid Vania, aku ingin Selly dan Daren yang mewakili kita Mami, karena hari itu bertepatan dengan pertemuan ku dengan klien dari Jepang." ucap Zidan berbohong.


"Mas... kamu tahu kan Vania, aku tidak masalah, tapi tugas mas ya, untuk bujuk Vania." ucap Nadia merajuk.


"Jangan khawatir, lagian anak anak gak ikut pertemuan, karena sekolahan pasti akan ramai banget." ucap Zidan.


"Bagaimana mbak Selly? apakah mbak bersedia menggantikan kami?" tawar Nadia pada Selly.


Selly yang mendengar permintaan Nadia pun langsung mengangguk anggukkan kepalanya, dengan senyuman yang manis.