MAMI FOR US

MAMI FOR US
JANGAN BENCI ORANG YANG MELAHIRKAN KAMU



Perbincangan antara Vania dan Nadia terhenti, manakala Zalfa memanggil kakaknya untuk makan malam.


"Kakak... makanya sudah jadi, cepet kesini, nanti di habiskan Papi Lo kak." teriak Zalfa dari ruang makan.


"Iya, sebentar lagi dek, mi... kakak makan dulu ya, Mami mau di ambilkan mie instan?" tanya Vania.


"Nggak pengen kak, baby twin nggak suka banget rasain mie instan, bau aja sudah bikin Mami mual-mual." jawab Nadia.


"Ya sudah, kakak makan malam dulu ya, selamat malam Mami, kakak selesai makan langsung bobok ya Mami." ucap Vania.


"Iya, jangan langsung tidur kak, gak bagus buat lambung, karena masih bekerja, jadi jangan langsung bobok ya." nasehat Mami Nadia.


"Iya mi, besok kan Minggu Mi, ke Mall yuk Mami, mau beli seragam baru buat sekolah, kan Vania sudah paki jilbab, jadi mau pakai yang panjang dan beli kerudung." rayu Vania kepada sang Mami.


" Oke, besok kita ajak Papi habisin uangnya, buat beli seragam buat kakak, serta baju baju berlengan panjang, bahagianya Mami melihat kakak sudah memutuskan untuk berhijab." ucap Nadia penuh kebahagiaan.


" Terima kasih Mami, tak ada seorangpun yang bisa melihat kebahagiaan kami, sebelum kedatangan Mami di rumah kami, namun sekarang kebahagiaan sangat terpancar dari mata kami, bahagia dengan cara kita, bukan pansos, dan karena sosialita." ucap Vania.


"Kaka... tetap harus menghormati Mama ya, karena beliau yang telah melahirkan kalian, jadi Mami mohon bagilah porsi cinta di hati kakak, untuk Mama Selly." rayu Nadia.


"Kakak tahu kok Mi, batas batasan dalam berinteraksi dengan seorang wanita yang telah melahirkan kami." jawab Vania.


"Okelah sayang, jangan benci orang yang membawa kita ke dunia, dan jangan dendam, jadikanlah pengalaman kakak, sebagai pelajaran kakak saat menikah nanti, ingat selalu pesan pesan Mami selamanya ya kak." terang Nadia pada putrinya.


"Baik Mi, akan kakak ingat semua nasehat Mami untuk merasakan kehidupan yang baik, dan semoga kehidupan anak-anak Vania kelak, lebih baik dari Vania." ucap Vania.


"Berarti kakak nggak bahagia ni?" goda Nadia.


"Bahagia lah mi, kebahagiaan Vania tak terhingga, bahkan dari dalam lubuk hati Vania, berkata... akan selalu mencintai dan menyayangi Mami, Papi dan seluruh keluarga besar kita."


Perbincangan yang mengasikkan membuat Vania melupakan makan malam nya. Dari arah luar kamar, Zidan yang sudah selesai membuat makan malam untuk ketiga putrinya pun membawakan semangkuk mie instan yang sudah di hiasi telor dan sayuran hijau, untuk Vania.


"Ehemmm... ditunggu dari tadi nggak taunya masih asik mengobrol saja."Zidan menyerahkan semangkuk mie instan pada Vania.


"Ohooo... kalau Papi yang makan di kamar langsung di marahin Lo sama Mami, tapi sama kakak... waaah jangan bilang Mami pilih kasih ni ya..." ucap Zidan dengan muka cemberut.


"Idih... Papi mah cemburu aja sama kakak, kan lihat situasi nya Pi, males ah debat sama kamu mas." Nadia merajuk dan membalikkan badannya mengarah ke tembok.


"Haduuh... ngambek deh Mami nya Pi, gimana ini, papi si... bikin Mami bad mood aja. Ya sudah kakak ke dapur aja ya Mi, ada yang cemburu soalnya." ucap Nadia pamit.


"Nggak boleh, duduk saja di situ, biar Papi yang keluar." ucap Nadia.


"Pi... keluar dulu ya, dari pada Mami nangis kayak anak kecil, nanti Papi tidur di luar kayak kemarin lo." terang Vania mengingatkan dan Papi.


"Oke deh, papi minta maaf, karena sudah cemburu dengan kakak." ucap Zidan pad Vania. Lalu menghampiri Nadia yang sedang merajuk, sembari mencium pipi Nadia.


"Maafkan mas ya sayang, nggak lagi-lagi deh cemburu sama kakak." ucap Zidan memelas. Seketika itu pula Zidan meninggalkan kedua wanita cantik yang Zidan sayangi.


"Mau kemana?" tanya Nadia.


"Mau keluar lah, kan kamu bilang aku harus keluar dari kamar." ucap Zidan.


"Jangan... baby twin nya minta di peluk sama Papinya." ucap Nadia, Zidan yang mendengar pun tanpa menunggu lama, ikut naik ranjang besar miliknya, dan memeluk Nadia dengan serta membelai perut buncit yang sudah semakin besar dan menggemaskan.


"Yah... Vania keluar aja deh, Mami sama Papi nggak liat liat ada anak di kamar kalian ya?" ucap Vania .


"Jangan di artikan yang nggak nggak kak, kakak kan tahu, baby twin kalau mau bobok harus di peluk sama Papi lo." ucap Zidan penuh bangga.


"Modus aja mah Papi itu. Udah ah, mau makan malam dulu." ucap Vania seraya meninggalkan kamar kedua orang tuanya.


JANGAN LUPA JUGA KARYA AUTHOR YANG LAIN YA, SEMBARI MENUNGGU MAMI FOR US UP LAGI