
Setelah perbincangan yang cukup lama, keluarga Zidan meninggalkan pondok pesantren, namun tidak dengan kedua putrinya, Zalfa yang sudah tidur di pangkuan maminya pun sudah di bawa pulang oleh Om nya, namun Vania dan Vika berencana untuk tidur bersama maminya malam ini.
Suasana di rumah Zidan sangat lah sepi, semua sudah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing.
Namun kehebohan terjadi saat pukul 2 pagi, Zalfa yang merasa tidak berada di samping sang mami pun menangis kencang, membuat heboh seluruh isi rumah, Oma dan Opanya, serta Om nya, terbangun karena teriakan gadis kecil berusia 7 tahun itu.
Sungguh sakit melihat anak bungsunya menangis, meminta untuk di antar ke tempat maminya.
"Besok saja ya sayang, mami pasti sudah bobok, apalagi jaraknya tidak dekat, kasihan Papa, Om dan Opa, mereka pengen bobok tenang." rayu Oma pada Zalfa.
"Nggak mau... Zalfa mau bobok sama mami, kak Nia dan kak Vika juga disana, kenapa adek gak boleh? Zalfa mau ketempat mami... huhuhu... huhuhu..."
"Ya sudah Papa antar ketempat mami, tapi jangan nangis lagi ya, sayang..." Zidan menyeka air mata Zalfa. Yang dijawab anggukan oleh Zalfa.
"Ibu, bersiaplah, aku akan menelpon Nadia, semoga saja dia sudah bangun, dan Abah juga sudah bangun." ungkap Zidan dengan sedikit lemah, karena masih mengantuk.
" Baiklah, Ibu akan mengambil jaket dahulu."
Sementara ibu mengambil jaket, Zidan mencoba untuk menelpon Nadia. Kebetulan Nadia baru saja mengambil air wudhu, dan akan melaksanakan solat Sunnah tahajjud. Nadia mendengar handphone nya berdering, dengan sigap, Nadia pun mengangkat telepon, karena takut membangunkan kedua putrinya. Terlihat disana nama pak Zidan, dengan tergesa-gesa, Nadia menekan tombol hijau.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam... Nadia, maaf membangunkan kamu, bagaimana dengan anak-anak? mereka masih tidur?" tanya Zidan berbasa-basi.
"Iya, mereka masih tidur pak, ada yang bisa saya bantu pak?" Nadia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Begini Nadia, Zalfa menangis dari tadi, minta tidur sama kamu, karena masuk ke kamar kakak-kakaknya, mereka tidak ada, jadi maaf banget, Zalfa sekarang saya bawa ke tempat kamu, maaf jadi merepotkan kamu Nadia, belum juga jadi istri ku, tapi sudah di repotkan oleh anak-anak ku."ucap Zidan kepada Nadia.
" Nggak apa-apa pak, saya lebih senang, jadi mereka bisa lebih dekat dengan saya, mungkin di luar masih ada santri yang bertugas, bilang saja pada mereka." jawab Nadia dengan lembut.
"Iya pak, hati-hati dijalan, jangan ngebut, yang sampai tujuan dengan selamat." Nadia menahan senyum nya, mengapa hatinya berdebar debar, ketika berbincang dengan Zidan calon suaminya.
"Cie... yang khawatir, makin sayang deh sama maminya anak-anak." goda Zidan pada Nadia.
"Apaan sih bapak ini, jangan gombal deh... sudah punya anak tiga juga, kayak anak ABG saja." sindir Nadia pad Zidan.
"Lo... gombalin calon istri gak apa-apa kan?"
"Nggak boleh, nanti ada setan lewat, nanti kalau sudah halal baru... " Nadia menjeda ucapnya sendiri, bener-bener Nadia sangat malu, padahal belum menjadi istrinya, kenapa mulut tidak bisa ngerem, padahal tidak ada apapun, gara-gara Rika, mengatakan duda lebih hot, jadi pikiran Nadia sudah kemana-mana.
" Kalau sudah halal baru apa Nadia? kok gak dilanjutkan." tanya Zidan penasaran.
"Eh... maaf, barusan Nadia ngomong apa? Nadia masih ngantuk soalnya pak, jadi maaf kalau omongan Nadia ngelantur." Jawab Nadia dengan tegas.
"Mami..., pikiran mami kemana? kok jadi ngelantur, ah bikin papi penasaran saja, nanti kalau sudah menikah, mami harus bisa bagi waktu buat kami, anak-anak harus mami sayang, setelah bangun tidur, sampai menjelang tidur, tapi papi juga pengen dong di sayang." Rayu Zidan menggoda Nadia.
" Maaf pak, Nadia mau solat dulu, sebelum Zalfa sampai, biar waktu Zalfa datang Nadia bisa nidurin Zalfa. jawab Nadia karena malu."
" Ya sudah, solatlah dulu, lagian ini baru mau berangkat, papi tutup ya telponnya,ada Ibu di sebelah ku, Assalamualaikum..." pamit Zidan pada Nadia.
"Waalaikum salam... hati-hati dijalan." jawab Nadia.
Zidan memasukkan handphonenya, dan mulai menyalakan mobilnya, pikirannya melayang, bagai anak SMA yang baru pertama kali pacaran, bahagia itu yang Zidan rasakan sekarang ini.
Semoga saja kehidupannya yang sekarang lebih baik dari kehidupan bersama istri pertama.