
Adzan subuh berkumandang, Nadia yang mendengar pun, bangkit ingin lari ke kamar mandi, namun dirinya lupa, semalam tembok Berlin sudah di bobol oleh suaminya.
Perlahan-lahan Nadia masuk ke kamar mandi, di basuhnya seluruh tubuhnya, sesuai syariat Islam, diawali doa, dan diakhiri dengan berwudlu, ritual mandi besar pertama untuk Nadia, selain ketika sedang berhalangan, atau sedang menstruasi.
Setelah selesai mandi, Nadia mendekati dan suami yang masih tertidur pulas, dikibasnya rambut Nadia, agar percikan air bisa menerpa wajah Zidan yang pulas tertidur.
Benar juga, tanpa menunggu lama, Zidan sudah membuka matanya, dan memandang wajah cantik di depannya. Nadia tersenyum dan berdiri dari samping suaminya, takut bila tersentuh kulit sang suami, dan mengharuskan berwudlu kembali.
"Mas... sudah adzan subuh, aku sudah wudhu, di tunggu di ruang sholat, jangan lama-lama, nanti kesiangan." ucap nadi sambil berjalan menuju lemari pakaian.
"Iya sayang... nggak lama kok, tunggu mas ya, jangan
sholat duluan."
"Iya, makanya cepetan... jangan lama-lama."
Zidan pun masuk kedalam kamar mandi, sepuluh menit kemudian, bertepatan dengan iqomah, Zidan pun bergegas memakai baju Koko dan sarung, tak lupa peci hitam yang menambah kadar kegantengan Zidan.
Nadia yang melihat suaminya yang sudah segar dan terlihat fresh, tak berkedip, sungguh di umurnya yang sudah 37 tahun itu, suaminya terlihat masih sangat muda, dan tambah matang, aura kedewasaan yang mampu membuat Nadia tersihir, dan terjerat dalam cintanya Zidan, Nadia sendirian mengakui semua itu.
"Ayuk sayang, kita mulai, jangan lama-lama memandang mas, nanti wudhu nya batal, yuk kita mulai." Zidan memulai sholat subuh berjamaah dengan Nadia.
15 menit sudah berlalu, Nadia dan Zidan pun sama-sama menguap, rasa kantuk membawa mereka masuk kembali ke kamar dan melanjutkan tidur mereka yang berkurang.
Nadia memeluk Zidan yang sudah mengganti pakaiannya dengan kaos santai dan celana pendeknya. Nadia sendiri sudah memakai pijama yang semalam dilepaskannya di kamar mandi.
"Siapa bilang mas sudah tua, justru mas masih sangat tampan dan hot, mas... apa kalau Nadia minta sesuatu mas akan memberikan yang Nadia minta?"goda Nadia dengan suara merayu yang sangat lembut.
Zidan yang mengerti adanya kode dari Nadia pun memandang Nadia dengan tatapan bertanya, "Apapun yang kamu minta, mas akan berikan sayang."Zidan sudah menahan gejolak yang ada di hatinya, tak di pungkiri oleh Zidan, Nadia sungguh sangat menggodanya pagi ini.
"Bener? nggak akan marah?" tanya Nadia pada suaminya.
"Iya nggak akan, apapun itu sayang." jawab Zidan pada Nadia.
Tanpa menunggu lama, Nadia membawa tangan Nadia menyentuh gunung kembar nya yang masih tertutup rapi, sedangkan tangan Nadia yang nakal sudah turun membelai rudal Zidan yang sedang tersimpan rapi di gudangnya.
Sungguh Zidan terkejut, keterbukaan dirinya yang siap akan melayani istrinya dalam 24 jam ini, membuahkan hasil, Nadia yang memang baru merasakan kenikmatan yang luar biasa, merasa seperti ingin merasakan lagi dan lagi, sehingga Zidan pun dengan suka rela bahkan sangat bahagia, karena Nadia, tak perlu malu-malu lagi, untuk mendapatkan haknya, sewaktu-waktu disaat dirinya menginginkan nya.
Pagi itu Zidan melakukan dengan pelan-pelan, tak ingin egois, dan tak ingin tergesa-gesa, berbanding terbalik dengan Nadia, sebelum kelelahan, dia meminta lagi dan lagi, sehingga Zidan sangat bahagia, dengan gadis cantik putri angkat bapak Kyai Buchori ini. Zidan sendiri berkaca dengan kehidupan rumah tangganya yang dahulu, dimana dirinya yang sangat sibuk, sehingga melupakan keinginan sang istri, dan memang Zidan tidak melakukan malam-malam indah, seperti bersama dengan Nadia.
Zidan sendiri membuat Nadia berkali-kali mengalami pelepasan, sampai Nadia merasa puas.
"Apa sayang sudah puas? tanya Zidan pada Nadia," Nadia hanya mengangguk dan tersenyum malu, dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sekarang giliran mas, yang akan melepaskan bibit unggul, semoga Allah mengijinkan menjadi penerus bagi kita." ucap Zidan dengan di barengi ritme hentakan rudal yang pelan-pelan, namun semakin lama semakin cepat, yang membuat keduanya Tak bisa bersuara lagi, Nadia sejak awal tidak pernah mengeluarkan suara-suara aneh, karena Nadia menahanya, malu bila ada yang mendengar perbuatan mereka.
Pelepasan terakhir yang bersamaan antara Nadia dan Zidan menutup pertemuan rudal dan lembah di pagi hari ini, Zidan menutup seluruh tubuh Nadia yang tak tertutup sehelai benang pun, dan meninggalkan Nadia, untuk membersihkan diri.