MAMI FOR US

MAMI FOR US
SIAPA YANG AJARIN



Sepeninggal Monic di depan keluarga Zidan, Nadia dan Zidan yang melihat sepak terjang putrinya yang menurutnya sangat pendiam dan penurut, ternyata memiliki misteri yang susah di tebak, bahkan Zidan sendiri merasa dirinya tidak mengenal kedua putrinya, akankah rasa trauma yang membuat mereka lebih kuat dan tak.mudah di rendahkan.


"Kakak... belanjanya sudah atau mau di lanjutkan?" tanya Zidan pada anak-anak.


"Jadilah Pi, kan jarang-jarang kita bisa jalan-jalan sama Mami, kasihan kan Mami masih pengen jalan-jalan." ucap Vania.


"Iya Pi, lagian siapa tahu baby twin yang ngajak Mami jalan-jalan."


"Ayuk Pi, nanti kami jelaskan di rumah, jangan khawatir, kami baik-baik saja, mami juga jangan banyak pikiran, kami bukan anak-anak yang mudah di bohongi." Vania mendorong kursi roda sang Mami, dan Vika menggandeng Papi nya, sedangkan Zalfa di gendongan Papi nya.


Sebenarnya Zidan dan Nadia masih sedikit shock dengan kejadian tadi, namun mereka berdua memutuskan untuk menyelesaikan permasalahan di rumah, dengan kepala dingin dan tidak mengundang perhatian publik.


Vania, Vika dan Zalfa, berbelanja sesuai dengan kebutuhan mereka. Sedangkan sang Mami, benar benar-benar bahagia, hanya dengan membeli ice cream yang ada di roofcourt di Mall tersebut.


Setelah selesai makan siang dan berbelanja, mereka memutuskan, untuk pulang, karena sang Mami yang sudah kelelahan, dan sudah males gerak.


Pukul 12.30 mereka sampai di depan rumah, saat itu pula adzan Dzuhur berkumandang, semuanya masuk kedalam rumah, menuju kamar mandi, mengambil air wudhu dan tentunya Solat berjamaah.


Setelah solat berjamaah, Nadia mengajak ketiga putrinya untuk tidur siang, tanpa menunggu lama, ketiga putrinya terlelap hanya dalam sekejap, sementara dirinya dan suaminya, masih berbincang ringan di atas ranjang besar milik mereka.


"Mas... jangan terlalu keras kepada mereka, siap tahu mereka memang memiliki keahlian dan kepandaian yang tida kita ketahui." pinta Nadia pada Zidan.


"Tidak akan sayang, karena aku hanya sedikit terkejut saja, dengan kosa kata seperti orang dewasa, bahkan anak-anak tidak aku beri handphone, dari mana mereka tahu tentang semuanya sayang, hanya itu yang membuat aku sedikit terkejut saja." ucap Zidan seraya mengelus perut buncit Nadia.


"Ya sudah, sekarang, tugas kita sebagai orang tua, harus mengawal anak-anak kita, bahkan mengarahkan kemana pilihan anak-anak kita nanti, jangan mas paksa untuk menjadi apa yang mas inginkan, karena akan sangat menyakitkan untuk mereka. Dan Nadia harap, anak-anak kita yang akan lahir nanti, tidak akan mengalami seperti kakak-kakaknya, dan aku mohon sayang, jangan pernah lupa untuk menegurku, apapun kesalahan ku, dan kekuranganku." ucap Nadia.


" Ya sudah, kita tidur dulu yuk, baby twin sudah capek jalan-jalan sejak pagi." ajak Nadia.


Waktu menunjukkan pukul 3.30, seluruh penghuni rumah memang di wajibkan istirahat siang setelah makan siang pun sudah nampak beraktivitas kembali. Setelah tidur siang, Zidan mengajak ketiga putrinya dan Mami nya, berkumpul di ruang kerja, karena Zidan tak ingin masalah keluarga mereka bisa di dengar oleh orang lain, sehingga memilih ruang kerjanya yang kedap suara.


Setelah semuanya berkumpul, Zidan memulai pembicaraan dengan meminta maaf kepada seluruh keluarga nya. Sungguh di luar kendali seorang ayah, yang melihat putri nya melewati masa yang sangat sulit.


"Ayah meminta maaf kepada kak Vania dan kak Vika, belum bisa menjadi Papi yang baik, yang bisa mengerti kalian, dan Papi meminta maaf, papi belum bisa mengerti keinginan dan yang menjadikan kalian dewasa lebih cepat dari waktunya." ucap Zidan.


"Papi tidak perlu meminta maaf, kami sangat tahu, Papi sangat terluka dengan perpisahan dan perselingkuhan Mama, bahkan kami berencana untuk mencarikan pendamping hidup untuk Papi, sebenarnya... Pernikahan Papi dengan Mami juga kami yang rencanakan." ungkap Vania.


"Iya, sebenarnya kami tahu saat Papi pertama kali bertemu mami waktu Mami sedang pergi ke pasar kan?" tanya Vika.


Nadia yang tercengang mendengar pernikahanya dengan suaminya adalah rencana anak-anaknya, bahkan mereka bertiga sepakat mencarikan jodoh untuk Papi nya.


"Sebenarnya kami sudah melihat Papi yang jatuh cinta pada mami saat pandangan pertama, selama ini kami memiliki seorang yang dapat kami korek informasinya sedetail mungkin, karena kami merasa Papi terlalu kaku bila harus memulai terlebih dahulu." ucap Vania.


"Dari mana kalian tahu Papi jatuh cinta sama Mami sejak pertemuan pertama? tanya Zidan penasaran.


"Papi gak tahu si... setiap mobil Papi, sudah kami pasang CCTV, bahkan seluruh kegiatan Papi selama di kantor, kami yang tahu, jadi papi salah, kalau memasang CCTV sekarang ini, karena CCTV punya kami lebih kecil dari ukuran CCTV punya Papi." ucap Zalfa bangga.


"Siapa yang ajarin kalian tentang semua ini?" tanya Nadia penasaran.