
Setelah menyelesaikan administrasi, Zidan membawa pulang Nadia dan ketiga putrinya, sedangkan baby twin masih harus tinggal di Rumah Sakit, Nadia tak mampu melihat baby twin, karena tak ingin semakin sedih, 3 hari mungkin sangat singkat baginya, dibandingkan dengan penantian 9 bulan sepuluh hari, namun rasa cinta dan sayang pada baby twin, membuat dirinya tak mampu membendung air matanya.
"Sayang... jangan sedih ya, kami akan selalu ada di samping kamu, apapun yang terjadi, jangan sedih hanya tiga hari kita berpisah dengan baby twin, jadi tolong jangan bersedih, nanti ASI nya gak keluar lagi, ibu akan selalu menemani kamu." ucap ibu Zidan.
"Iya Bu, Nadia bersyukur pada Allah, di berikan anak-anak yang sehat dan sempurna, Nadia tidak akan sedih lagi, demi mereka berdua." ungkap Nadia penuh semangat.
"Itu baru bener Mami, baby twin masih butuh ASI dari Mami, baby twin belum boleh di ajak pulang artinya... mereka berdua paham betul, mami butuh istirahat sebelum mengurus mereka." ucap Vania.
"Betul banget ya kak, baby twin sangat pengertian, Mami juga harus beruntung, karena baby lahir dengn berat badan yang sesuai dengan standar." ucap ibu Zidan.
"Alhamdulillah, Mami sangat bersyukur, dan lahir juga 3 hari sebelum HPL, jadi sudah waktunya lahir, bukan prematur." ungkapan kebahagiaan Nadia.
"Mami sangat beruntung, menjadi seorang ibu di usia mami yang masih muda, mami memiliki anak yang banyak." ucap Vania sembari memeluk sang Mami.
"Apalagi anak mami sudah gadis semua, mami kalah cantik lagi sama mereka." adu Nadia pada Vania.
"Cantik tidak di lihat dari fisik Mami, tapi dari hati, jadi manurut Vania, mami lebih cantik dari wanita manapun"
"Anak mami kok jadi pintar merayu deh, pasti ada maunya." ucap Nadia.
"Nggaklah Mami, Vania tulus kok, sekarang Vania sudah bisa membedakan mana yang baik, dan mana yang tidak."
"Tapi mami harap kakak tidak membedakan sikap dan perilaku kakak, terutama tindak tanduk dan adab kakak, kepada yang lebih tua. Siapapun itu, dan mami harap kakak bisa menahan emosi, walaupun sangat menyakitkan." Nasehat Nadia kepada Vania.
"iya mami." ucap Vania.
"Sayang... kita jenguk baby twin yuuk, aku dengar hari ini baby twin sudah lahir." ucap Selly.
"Nanti kalau baby twin sudah di rumah saja, biar Nadia tidak tersakiti, cuma tiga hari kok " ucap Daren.
"Lo kok kamu sudah tahu dari siapa sayang?" tanya Selly heran.
"Tadi aku menelpon Zidan, jadi lebih baik kesana Setelah baby twin di rumah saja." ungkap Daren.
"Baiklah, aku ikut saja "" jawab Selly.
"Sayang... setelah ini, aku mohon kamu jangan pernah mengambil keputusan sepihak, aku merasa malu dengan Zidan, karena tidak bisa menemani anak anak makan malam, mereka pasti sangat kecewa pada kita, terlihat di mata anak-anak, kekecewaan itu sangat membekas, dan susah untuk memulihkan kembali." Terang Daren pada Selly.
"Maafkan aku ya mas, sebenarnya aku juga sangat bersalah, karena aku tidak tahu bagaimana harus berbicara dan bersikap terhadap mereka, terus terang saja, aku tidak pernah dekat dengan mereka, hidupku selama menjadi istri mas Zidan hanya pergi shoping dan berkumpul bersama ibu ibu sosialita." ungkap Selly.
"Maka dari itu, mulai Sekarang, rubahlah kebiasaan buruk itu, anak kita juga butuh kasih sayang, terutama si kecil Raka, semoga tidak menjadi korban keegoisan kamu, seperti Vania, Vika, dan Zalfa." Pinta Daren.
" Iya mas, makasih ya mas, kamu selalu mengerti aku, walau banyak kesalahan dan dosa, tapi kamu selalu ada di samping aku."
"Sama sama, kamu juga selalu mensupport aku dalam keadaan apapun, sehingga kita bisa melewati masa-masa yang sulit bagi kita berdua."
"Jadi makin cinta deh sama kamu sayang." Selly memeluk Daren dengan erat.