MAMI FOR US

MAMI FOR US
BABY TWIN



Betul juga, setelah makan siang, Zidan menelpon dokter Dian, sahabat karibnya, yang memang sudah menjadi Dokter Selly sejak dahulu.


Namun sebelum kesana, Zidan sudah mewanti-wanti Dokter Dian untuk tidak menyinggung nama Selly di depan Nadia, karena Nadia akan mudah cemburu padanya, entah alasan apa yang membuat Nadia sangat cemburu pada Selly, Zidan pun tak tahu.


Pukul 5 sore Zidan mengajak Nadia ke klinik Dokter Dian, dan benar saja, kedatangan mereka berdua sudah di nanti oleh Dokter Dian.


"Selamat datang bos Zidan yang makin sombong." goda Dian pada Zidan, yang hanya mendapatkan pelototan dari Zidan, karena takut pada Nadia.


"Kabar baik kok Dian, kenalkan ini istriku." ucap Zidan.


"Nadia Bu Dokter." ucap Nadia sembari mengulurkan tangannya.


"Saya Dian Harum, sahabat suami kamu yang dingin kaya kulkas." ucap Dian sembari membalas uluran tangan Nadia.


"Silahkan duduk bos, tumben kamu sendiri yang mengantar istrimu, biasanya hanya lewat telepon saja." ucap Dian


"Kata siapa?" tanya Zidan sambil melotot kan matanya.


" Ah sudahlah, oh ya Nadia, kapan terakhir menstruasi?" tanya Dian.


"2 bulan yang lalu Dokter." ucap Nadia dengan malu-malu.


"Oh ya?" Dokter Dian sangat terkejut, jarang-jarang seorang yang hamil pertama tidak mengalami morning siknes, dan mual ataupun muntah.


"Iya... bahkan dia kayak kebo, makan terus." ucap Zidan.


"Istrimu Lo Zidan, dan ini juga anakmu, kalau bener Nadia hamil, ingat... bukan dia sendiri yang bikin, harus ada kecebong mu yang masuk, Setelah itu baru Allah."


"Kok terbalik dok?" ucap Nadia.


"Entahlah... yang terpenting kalian berdua saling menyumbang kan." ucap Dokter Dian dengan malu.


"Makanya, kalau pelajaran agama itu jangan nyontek saja, jadi gak paham-paham." Zidan tertawa terbahak-bahak.


"Ya ya pak ustadz, oh ya Nadia, ayok berbaring di sini, aku mau lihat apakah benar Zidan junior sudah tumbuh di perutmu?" Dokter Dian semakin suka menggoda sahabatnya itu.


" Oke... mas kamu gak pengen lihat anakmu?" Nadia memanggil suaminya.


Suster yang bertugas mendampingi Dokter Dian pun mengambil selimut, dan menutup bagian bawah Nadia, dari kaki sampai ke bawah perut, setelah itu membuka dress panjang Nadia sampai terlihat perutnya yang memang sedikit membuncit. Dokter Dian memeriksa perut Nadia, Dokter Dian pun tersenyum, entah senyuman apa Zidan dan Nadia tidak paham.


Setelah mengoleskan jelly pada perut Nadia, dokter mengarahkan crusher untuk melihat bahwa di sana terdapat dua titik yang terdapat dalam kantung rahim Nadia.


"Lihatlah Zidan, sepertinya disini ada BABY TWIN, tapi bukan satu Ari-ari, sehingga kembarpun tidak identik, dan akan mudah di bedakan." tutur Dokter Dian.


Zidan dan Nadia pun terkejut, keduanya sama-sama terdiam, bahkan Nadia sudah berkaca-kaca, Nadia mengingat kedua adiknya yang kembar, sehingga Nadia yakin, dari orang tua Nadia lah dirinya memiliki anak kembar.


Air mata yang sejak tadi Nadia tahan pun akhirnya lolos juga, bagaimana tidak, kebahagiaan Nadia semakin lengkap dengan hadirnya kedua anaknya yang sedang ada di dalam rahimnya.


Zidan pun tak kalah menangis, sudah tiga anak yang di berikan oleh Selly, namun baru kali ini Zidan melihat sendiri di monitor, bahwa dalam rahim istri nya ada kehidupan yang baru, Zidan yang melihat Nadia menagis pun memeluk dan mencium pipi Nadia.


"Sayang... terima kasih, sudah memberikan mas dua anak sekaligus, dan artinya rumah kita akan tambah rame, dengan suara mereka." Zidan menggenggam tangan Nadia.


"Aku juga bersyukur mas, aku di beri kebahagiaan yang berlipat lipat, anak kita jadi banyak mas, ah Umi sama Abah pasti bahagia, jika tahu aku hamil anak kembar." Nadia masih saja menangis.


"Zidan... ingat jaga pola makannya, jangan terlalu capek, karena bukan hanya ada satu di dalam sana, tapi dua, semoga saja kembar cowok ya Zid, kan kamu sudah punya tiga cewek, biar komplit kalau ada cowokknya." ucap Dokter Dian.


"Cewek atau cowok itu sudah takdir yang kuasa Dok, jadi apapun jenis kelaminnya kami terima, dan Alhamdulillah." ucap Zidan pada Dokter Dian dengan masih memandang Nadia.


"Ah aku senang sekali, kamu akhirnya bahagia Zidan, semoga anakmu sehat sampai lahir ya, kalau begitu aku kasih vitamin saja ya, soalnya Nadia kan tidak mual atau pusing." ucap Dokter Dian.


"Betul sekali Dok, bahkan dia ngebo, kayak gak Hamil." ujar Zidan.


"Walau tidak merasakan apa-apa, tapi tetap di jaga kesehatan dan pola makannya, di trisemester pertama, biasanya lebih harus berhati-hati, makanlah bila memang kamu lapar, karena sekarang bukan hanya untuk mu saja Nadia, tapi juga untuk kedua anakmu yang di sini, dan jangan terlalu capek ya, kalau bisa bedres aja, karena sekarang masih rawan keguguran." terang Dian panjang lebar.


"Baik Dok, saya akan lebih berhati-hati, apa boleh saya naik turun tangga Dok?" tanya Nadia pada Dian.


"Sebenarnya sih tidak apa-apa, tapi... takutnya karena dua baby jadi akan lebih capek naik turunnya, karena menggendong mereka, terutama saat usia kehamilan trisemester ketiga." tutur Dian.


"Kalau begitu kamar kita untuk sementara waktu, pindah ke bawah saja sayang, biar kamu gak terlalu capek, dan lagi di bawah masih ada dua kamar, nanti aku rombak deh, biar lebih luas dari kamar atas.' ucap Zidan pada Nadia.


Nadia hanya tersenyum dan mengangguk.