MAMI FOR US

MAMI FOR US
MAMI BERJANJI



Jam menunjukkan pukul 10 malam, Nadia dan Zidan sedang menunggu kedatangan ketiga putrinya, diantar pulang oleh sang Mama dan papa Daren.


"Mas... anak-anak belum juga pulang? sudah malam ini." ucap Nadia khawatir.


"Biarin saja sayang, kan mereka pergi juga sama Mama nya, bukan siapa-siapa, gak usah di pikirin, kasihan baby twin nya." ucap Zidan menenangkan Nadia.


" Bener juga, lagian kan mbak Selly ibu kandungnya, kenapa aku yang parno ya mas?" ucap Nadia.


"Sebentar lagi juga mereka akan datang, jangan khawatir deh, kalau sudah capek istirahat dulu sana, nanti kalau mereka datang, aku suruh masuk ke kamar kita, kasihan kan kamunya, dari tadi baby twin ngajak ngobrol terus." ucap Zidan.


"Iya iya, gak khawatir kok, ya sudah aku ke kamar dulu ya, mau rebahan, pegel dari tadi duduk terus.." ucap Nadia sembari berlalu dari hadapan Zidan.


Zidan kembali menunggu kedatangan ketiga putrinya, tepat pukul 10 lebih 12 menit, ketiga putrinya datang di antar oleh sang Mama dan papa Daren. Setelah bersalaman dengan sang Papi, ketiga putrinya masuk ke kamar sang Mami.


"Assalamualaikum... selamat malam mas, maaf terlalu malam pulang nya." ucap Daren pada Zidan,karena merasa tidak enak.


"Waalaikum salam... Tidak apa-apa." jawab Zidan.


" Kamu itu ya mas, lain kali kalau janjian sama anak-anak, harus bener-bener kami punya waktu luang, kasihan Nadia,dari tadi pasti sudah menunggu mereka." ucap Selly sewot.


"Maaf sekali lagi, tadi ada klien datang, jadi mau tidak mau, waktu buat jalan-jalan tertunda." ucap Daren.


"Iya nggak apa-apa, maaf ya Selly, Nadia sudah beristirahat, jadi nggak menyambut kedatangan kalian, padahal baru saja dia di sini, ya karena kehamilan Nadia ini kan baby twin, jadi dia memang lebih cepet lelah dan letih." ucap Zidan.


" Nggak apa-apa kok mas, saya mengerti, kalau begitu, kami pamit dulu mas, Raka juga sudah tidur di mobil, mari mas, assalamualaikum..." ucap Selly.


"Maaf ya mas Zidan, assalamualaikum..."


"Waalaikum salam, hati-hati di jalan." ucap Zidan sembari mengangguk anggukkan kepalanya.


Zidan mengantar Daren dan Selly sampai di depan pintu utama, dan meninggalkan teras ketika mobil Daren sudah tidak terlihat lagi oleh Zidan.


Setelah mengantar Daren dan Selly, Zidan menuju ke kamar nya, karena ketiga putrinya masih berada di dalam kamarnya.


"Assalamualaikum... apa kabar anak-anak Papi, bagaimana makan malam nya?"


"Kabar kami baik-baik saja Pi, biasa saja Pi, karena papa Daren kan sibuk, jadi makan malamnya tertunda deh." ucap Zalfa yang sudah ada di pelukan Zidan.


"Oh ya, kapan rencana kalian akan makan malam lagi?" ucap Nadia.


"Kapan-kapan aja lah Mi, Vika masih banyak tugas dari sekolah." jawab Vika.


"Kalau Zalfa mau main ke tempat adek Raka?"


"Adek banyak tugas juga Pi, kan adek sekarang mau naik kelas 2, jadi adek mau belajar dengan rajin."


"Tunggu tunggu... papi gak mengerti dengan kalian, kan sebelum berangkat kalian seneng banget mau bertemu dengan Mama dan Papa Daren, kenapa ketika sampai di rumah jadi kusut semua wajahnya?" tanya Zidan


"Papi, bukan kami membedakan Mami dan Papi dengan Mama dan Papa, tapi kami cukup tahu diri untuk meminta perhatian lebih dari yang Mami dan Papi berikan." Jelas Vania.


" Mami... Papi... jadi STOP meminta kami untuk lebih dekat dengan mereka, tugas kami sebagai anak sudah kami lakukan, selebihnya kami tidak mau membahas lagi, kalau sekedar untuk bersilaturahmi, akan kami lakukan dengan senang hati, dan Mami tetap Mami yang terbaik untuk kami." ucap Nadia dengan penuh bahagia.


"Mami tahu, kami sangat rindu pada Mami, makan malam tanpa Mami, terasa hampa, dan gak selera." ucap Vika.


"Iya Mami, sekarang aja Zalfa masih laper Lo, Mami masak apa tadi?" tanya Zalfa pada Nadia.


"Kakak juga laper Mami." ucap Vania pada Nadia.


" Tapi Mami capek sayang sayangnya Papi, bagaimana kalau Papi saja yang masak mie instan buat kalian, tapi jangan keseringan, mau tidak?" tanya Zidan pada ketiga putrinya.


"Ok, tapi kak Vika sama kak Zalfa, bantuin Papi ya, Mami masih pengen di pijit sama kak Vania." ucap Nadia.


" Baiklah, Papi... we are coming." ucap Vika dan Zalfa menyusul sang Papi ke dapur.


Sementara Nadia masih memandang ke arah putri sulungnya, di sana tampak kekecewaan yang mendalam, karena Vania terlihat pendiam saat ada di depan Nadia.


"Kakak... ada yang bisa kakak jelaskan pada Mami?" tanya Nadia pada Vania.


"Tidak ada Mami... Vania baik-baik saja, nggak ada apa-apa." jawab Vania.


" Kaka nggak bisa Lo sembunyi in sesuatu pada Mami, kalau kakak mau bercerita, Mami siap kok menjadi teman kakak, dan Mami berjanji, tidak akan bicara dengan siapapun." ucap Nadia.


"Tapi Mami berjanji ya, Setelah ini, tidak memaksa kami untuk bertemu dengan Mama Selly, dan menyuruh kami bertemu dengan mereka, kalau tidak bersama kalian." ucap Vania kepada Nadia, sembari menyisir jari kelingkingnya.


"Mami janji, apapun alasan kakak dan adek nanti, mami tidak akan memaksa kalian untuk bertemu dengan mereka lagi." ucap Nadia dengan tegas, seraya menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Vania.


"Vania memulai menceritakan kejadian di rumah Selly, bahkan semua yang Selly lakukan ketika merek berada di rumah nya Vania ceritakan dengan sangat detail dan lengkap, yang membuat Nadia terlihat shock dan terkejut, dengan Selly, serta sikap Daren yang terkesan terbebani dengan kehadiran ketiga putri istrinya itu.


"Nadia hanya mampu menarik nafas dalam-dalam, mendengar semua kelakuan Mama kandung dari ketiga putrinya.