
Hari yang di tunggu tunggu pun telah tiba, nanti malam adalah malam pertemuan anak-anak bersama Mama dan papa Daren, sejak sore Nadia sangat heboh mempersiapkan segala hal kepada ketiga putrinya.
"Kak... kakak gak mau pakai baju yang ini? yang ini bagus lo kak?" Nadia memilih pakaian dari dalam lemari Vania.
"Bagus yang mana menurut Mami, warna hijau atau warna biru laut ini?" tanya Vania mengeluarkan sebuah t-shirt baru dari tumpukan pakaian di lemari Vania.
" Yang biru kayaknya lebih bagus buat kakak, lagi pula lebih fresh deh."ucap Nadia.
"Ya sudah, nanti kakak pakai yang ini ya Mi." Vania memadukan t-shirt dengan celana jeans yang panjang, dan tidak lupa Vania mengeluarkan sebuah kerudung baru yang di sesuaikan dengan warna pakaiannya, namun tanpa sepengetahuan sang Mami.
Setelah keluar dari kamar kakak Vania, Nadia menyiapkan pakaian serta kelengkapan untuk Vika juga Zalfa, sehingga waktu berlalu dengan sangat cepat, saat azan magrib berkumandang, tanpa menunggu komando, anak-anak mengambil air wudhu dan menuju musola khusus di rumah, dan solat berjamaah.
Selesai solat Maghrib berjamaah, Nadia mengantar ketiga putrinya menuju rumah Selly yang berjarak beberapa rumah saja dari rumah Zidan.
Saat menunggu ketiga putrinya di depan rumah, Zidan dan Nadia di kagetkan dengan perubahan Vania yang memakai t-shirt lengan panjang, dan celana jeans panjang, namun yang membuat mereka terkejut adalah, putrinya yang memakai jilbab biru, yang senada dengan pakaiannya.
" Kakak... Masya Allah... cantik sekali, apakah benar ini putri Papi dan Mami, Masya Allah... .Masya Allah, semoga Istiqomah ya kak." ucap Nadia dengan meneteskan air matanya.
"Masya Allah... anak Papi sudah perawan, terima kasih ya kak, sudah memakai jilbab, dosa Papi sekarang sedikit berkurang, karena tanggung jawab Papi yang harus mendidik anak-anak Papi, dan mendapatkan dosa dari Allah, berkurang, karena kakak sudah memakai jilbab dengan sendirinya."
"Terimakasih Papi, Mami, Insyaallah... Vania akan Istiqomah, dan jangan takut, mulai Senin ini, Vania juga akan memakai jilbab bila ke sekolah."
"Alhamdulillah, sekarang Mami jadi gak khawatir lagi, karena kakak sudah tertutup, jadi aurot nya sudah tidak terlihat lagi." Nadia yang bahagia mencium pipi Vania berulang kali.
"Nanti Vika sama Zalfa juga mau pakai jilbab Mi, tapi nggak sekarang, kan sebentar lagi Vika mau masuk SMP, jadi tahun ajaran baru aja ya Pi." pinta Vika pada sang Papi dan Mami.
" Hidayah itu harus di jemput Lo kak, jadi kalau dengan alasan pakaian seragam, Papi gak sayang kok harus mengeluarkan uang demi mengganti seragam sekolah kalian, toh Papi dan Mami juga sangat bahagia, bila kalian berhijab." ucap Zidan pada Vika.
"Jangan di paksa Papi, terserah mereka, biar Vika memutuskan sendiri." ucap Nadia.
" Iya Mi, terserah anak-anak saja, melihat kak Vania saja Papi sudah bahagia." tutur Zidan penuh bahagia.
Akhir nya mereka berjalan kaki menuju ke rumah Mama Selly dan Papa Daren. Selly yang melihat ketiga putrinya datang dengan wajah ceria pun mengajak mereka masuk.
"Assalamualaikum, selamat malam Mama Selly, kami datang Mama, apa kabar?" ucap Nadia pada Selly.
"Waalaikum salam... Alhamdulillah sehat, selamat datang anak-anak Mama, mama kangen banget sama kalian." ucap Selly memeluk satu persatu ketiga putrinya.
"Kabar kami baik-baik saja Mama,, dan Mama apa kabar, dedek Raka mana Ma." tanya Vania pada Mama Selly.
"Dedek Raka lagi bobok, sebentar lagi akan bangun" ucap Selly.
Selly yang salah tingkah, dan merasa canggung, tak di pungkiri, dirinya melewatkan momen terindah bersama ketiga putrinya. Selly semakin menangis, melihat perubahan Vania, yang sudah berjilbab sekarang ini, sungguh Selly merasa bahagia sekaligus kecewa.
Nadia yang merasa Selly membutuhkan ruang bersama ketiga putrinya pun pamit undur diri.
"Ya sudah Mami pulang dulu ya, nanti akan di antar Mama sama Papa pulang, ya kan Mama Selly?" ucap Nadia pamit.
"Iya Mami, nanti mama yang antar mereka bertiga." ucap Selly.
"Mami pergi ya sayang sayangnya Mami, jangan lupa bahagia." ucap Nadia pada ketiga putrinya.
"Mami... pergunakan waktu Mami sama papi dengan baik, karena kami tahu, Mami juga butuh waktu berduaan dengan Papi." ucap Vania ketika memeluk sang Maminya.
"Kamu ada aja kak, jaga adik-adik ya kak, ingat... surga ada di bawah telapak kaki ibu, kalau tidak ingin membantahnya, kakak diam saja Ok" bisik Nadia.
" Ok Mami, jangan khawatir dengan kami."
" bye bye Mami." ucap ketiga putrinya.
Nadia pun meninggalkan rumah Selly dengan di gandeng sang suami, yang setia menunggu di luar rumah, karena Papa Daren tidak ada di rumah.