
Zidan memasukkan handphonenya, dan mulai menyalakan mobilnya, pikirannya melayang, bagai anak SMA yang baru pertama kali pacaran, bahagia itu yang Zidan rasakan sekarang ini.
Semoga saja kehidupannya yang sekarang lebih baik dari kehidupan bersama istri pertama.
Dalam waktu kurang dari 30menit, Zidan sudah sampai di depan rumah Abah, Umi yang sedang mengaji pun berjalan keluar, dan membuka pintu, Nadia yang berjalan akan menyambut putri sulungnya pun berjalan di belakang Umi.
"Nadia, calon suami kamu malam-malam datang kemari, ada apa?"
"Zalfa nangis Umi, tahu kakak-kakaknya tidur sama Nadia, jadi teriak-teriak mau tidur sama saya." ucap Nadia.
"Ooalah... ya sudah Umi yang keluar saja, kamu gak boleh keluar, kang santri sudah pada bangun pasti banyak yang lewat, nggak bagus."terang Umi.
"Baik Umi." Nadia pun berdiri di belakang pintu tengah.
Zidan dan ibunya menghampiri Umi yang sudah berada di depan pintu, dengan perasaan malu Zidan menggendong Zalfa menemui Umi.
"Assalamualaikum umi, maaf tamunya gak kenal waktu, anak saya cari ibunya." tutur Zidan cengengesan.
"Waalaikum salam, ayok silahkan masuk dan duduk,Kalau begini setiap hari Zid, mending nikah saja dulu, bawa Nadia kerumah kamu, masalah buku nikah sejadinya gak apa-apa, kasihan anak-anak kamu, harus bolak-balik kesana kemari, gak baik."
nasehat Umi pada Zidan.
"Iya Umi, tadi di jalan saya sudah bicara pada Zidan, untuk segera menikah, tapi bagaimana Nadia nya, dia kan masih gadis, kami ingin melalui proses pernikahan yang seperti semestinya." ujar Ibu Zidan.
Mendengar hal itu, Nadia pun menjawab dari belakang pintu, dan menyetujui usul dari umi.
"Nadia setuju saja Umi, kasihan anak-anak,kalau harus bolak balik, bagi saya, asalkan pernikahan sah di mata agama dan negara, sudah cukup, Nadia sudah bahagia, dengan memiliki keluarga seperti kalian." Jawab Nadia
Zalfa yang mendengar suara Nadia pun langsung menangis, dan meminta untuk bersama maminya.
"Mami... mami... mami... hik hik hik..."
Hampir saja zidan membentak putrinya, kalau tidak melihat ibu dan Umi di depannya.
"Sayang sudah jangan nangis ya, mami ada di dalam sana, jalan masuk nanti ketemu mami, oke?" ucap Zidan pada Zalfa, yang di balas dengan anggukan.
Abah yang baru saja kembali dari solat tahajjud berjamaah pun masuk ke dalam rumah, terlihat disana sudah ada Zidan, beserta ibunya.
"Assalamualaikum... wah... ada tamu tengah malam ya?"
"Maaf Abah, jadi merepotkan Abah dan Umi, kami datang tengah malam."
"Zidan, kan aku sudah ngomong sama kamu, bukan urusan dirimu saja sekarang, ada anak-anak yang akan membikin kamu bolak balik, sudah aku prediksi, anakmu yang bungsu akan datang kemari, ya sudah nanti malam kalian nikah, setelah itu kalian bawa Nadia kerumah kamu, kan sudah halal, masalah acara resepsi pernikahan hari Jumat, tetap di laksanakan, aku pengen Nadia menikah selayaknya seorang gadis."
"Apa Abah tidak apa-apa, seperti ini?"
" Iya, saya ikhlas, tapi hari Jumat siang bawa Nadia kemari, aku ingin melihat dia memakai pakaian pernikahan dan itu adalah impianku, melihat anak-anak ku menikah dan bahagia."
" Terima kasih Abah, apa yang Abah inginkan untuk saya membawa anak Abah?"
"Aku bukan menjual anakku Zidan, walau aku tahu, kamu bisa memberikan apa yang aku butuhkan, tapi aku bukan ayah yang seperti itu."