
"Vania... sekarang minta maaflah pada Papa, semalam Vania sudah berjanji bukan? akan meminta maaf, dan mejelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Vania mengangguk. Melihat Vania yang penurut pada Nadia, Abah, umi, dan Zidan pun terkejut.
Vania mendekat pada Papa nya, mencium tangannya, mencium kedua pipi papanya, seraya berkata, "Papa... maafkan kakak, semalam kakak pergi tidak meminta izin pada bi Asiyah, dan tidak memberi kabar pada Papa." sembari memeluk papanya.
Zidan yang melihat putri sulungnya meminta maaf, sungguh baru kalia ini dia melihat, ketulusan di mata putrinya, tanpa terasa air mata Zidan pun tak bisa terbendung lagi, Zidan memeluk putrinya dengan sangat erat. Zidan mengangguk kan kepalanya.
"Maafkan papa, yang egois, maafkan papa yang selalu sibuk, maafkan papa yang belum bisa membuat kalian bahagia, maafkan papa ya kak, adek" Zidan memeluk ketiga putrinya bersamaan.
Nampak Abah dan Umi menagis, melihat nasib ketiga putri anak santrinya.
Nadia pun ikut sedih, mengingat kembali kebahagiaan Nadia yang terenggut musibah, Umi Nur yang melihat Nadia menagis pun membawanya ke dalam pelukannya.
"Nad... Umi berharap, kamu bahagia, kami keluarga mu, jangan sedih ya nak." Umi membelai punggung Nadia dengan lembut. Nadia pun mengangguk, dan mengurai pelukan dari Umi Nur.
Abah yang merasakan keheningan pun membuka perbincangan. " Nadia, ajak anak-anak masuk dan bermain lah bersamanya, Abah sama umi ingin berbicara serius dengan Papa mereka." Perintah Abah pada Nadia,
" Baik Abah, sini Vania, ajak adek-adek nya main ya, Ayuk ke dalam, bermain dengan yang lain." Setelah Nadia dan ketiga putri Zidan sudah tidak terlihat, Abah memulai berbicara serius dengan Zidan.
" Zid, apa kamu tidak ingin mencarikan ibu untuk ketiga anakmu, setidaknya, ada yang menjaga mereka saat kamu bekerja dan merawat mereka saat sakit, dan ingat, anak-anak mu sangat membutuhkan sandaran dan tempat bercerita, mungkin saat ini mereka masih bisa bercerita padamu, namun saat mereka sudah mulai baligh, pada siapa mereka akan bercerita, salah salah nanti bercerita dengan teman yang menjerumuskannya.." Terang Abah,pada Zidan.
"Iya Zidan, lihatlah Nadia, baru sehari saja, dia sudah bisa membuat ketiga putri mu sangat akrab dengan nya, dia gadis yang baik Zidan, dia sekarang sebatang kara, keluarga nya terbawa arus banjir bandang, yang terjadi 7 tahun lalu." Tambah umi.
"Abah, Umi, sebenarnya Zidan masih sangat trauma dengan pernikahan, tapi kalau semuanya demi ketiga putriku, Zidan akan pertimbangkan." Jawab Zidan tegas.
"Zidan... niat kamu menikah bukan hanya karena ketiga putrimu, tapi harus ingat, dirimu pun harus ada yang mengurus, selain pakaian, makanan, ada juga hasrat yang kamu pendam, dan kamu kubur karena kebencian, tidak semua wanita seperti itu Zidan, jadi luruskan dulu niatmu dalam menikah, karena Umi tidak akan melepaskan putri Umi, bila hanya untuk di sakiti." Ungkapan Umi membuat Zidan terkejut.
Pagi ini sungguh Zidan sangat terkejut dengan perkataan Abah dan Umi, dirinya sangat tidak memikirkan perasaannya, karena dirinya sudah melupakan berapa tahun dia tidak merasakan kasih sayang seorang istri, semenjak mengetahui istrinya telah mengkhianatinya, dan memilih berselingkuh dengan kekasihnya.
Dalam lamunan nya, Zidan ingin membuka hatinya untuk Nadia, gadis yang mampu membuat putri sulungnya yang susah di kendalikan oleh siapapun, ketika sedang marah, bahkan dirinya sendiri pun kadang kewalahan menghadapi Vania.
"Zidan, Abah harap, secepatnya memberikan keputusan mu, karena ada yang ingin mengkhitbah Nadia, Abah hanya tidak ingin membuat Vania kecewa, cobalah mengerti keadaan Vania sekarang." Abah sedikit menggertak pada Zidan.
"Insya Allah dalam waktu dekat, tapi anakku ada tiga bah, kalau Vania sudah bisa menerima kehadiran Nadia, tapi bagaimana dengan kedua adiknya?" jawab Zidan sedikit bimbang.
"Kalau menurut umi, Vania pasti mampu mengatasi kedua adiknya, dekatilah Nadia, ambil hatinya, jelaskan keseriusan kamu, jelaskan masalah yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga mu, aku rasa Nadia akan menerima, karena yang Akau tahu, dia bahagia melihat Vania tersenyum. Semoga berhasil." imbuh Umi Nur menasihati Zidan.
Pukul 10 siang Zidan dan ketiga putrinya meninggalkan pondok pesantren Al Buchori, disana tampak Vania menangis meninggalkan Nadia, di satu sisi dia ingin bersama bundanya, di satu sisi dia tak ingin jauh dari Papanya.
Derai air mata membasahi pipinya, namun tidak dengan kedua adiknya, mereka belum terbiasa dengan kehadiran Nadia di sisinya.
Zidan membawa ketiga putrinya kerumahnya, dan beberapa kali Zidan menoleh ke arah Vania, air matanya masih saja terlihat disana, betapa hancur hati Zidan saat ini, belum sempat bertanya pada putrinya, akan masalah yang sebenarnya.
Sesampainya di rumah, Vania masuk ke kamarnya, dan mengunci pintu, Zidan yang melihat tingkah laku putrinya, sedikit ada rasa ketakutan, bila mana depresi yang di alami putrinya akan datang dan lebih parah, Zidan harus lebih ekstra menghadapai semuanya.
Zidan membiarkan Vania untuk sendiri, untuk melepaskan semua beban pikiran yang ada.
Hari ini Zidan tidak masuk ke kantor, dengan masalah putri sulungnya yang meninggalkan rumah, membuat dirinya merasa tidak sanggup pergi jauh dari mereka.
Setelah makan siang, di ruang kerja Zidan, Zidan mencoba berdiskusi dengan ketiga putrinya, karena sudah menjadi rutinitas mereka, membahas masalah dengan tuntas, sebelum meninggalkan ruangan tersebut.