MAMI FOR US

MAMI FOR US
ITU DULU SAYANG.



Mami.... Ayuk pulang, kakak sama adek mau ke Bandung, mami gak ikut?" tanya Zalfa pada Nadia.


"Bagaimana mungkin mama ikut, kalau papa tidak ikut, siapa yang akan menyiapkan pakaian dan kebutuhan papi nanti." ucap Vienna merajuk.


"Papi manja deh, dulu aja sebelum ada mami, papi biasa saj kok beresin pakaian sendiri." tutur Vania dengan muka cemberut.


"Itu kan dulu sayang, sebelum ada mami, sekarang sudah ada mami, jadi mami yang siapin." jelas Nadia pada Vania.


"Ya sudah mami, ayok kita pulang, mami juga yang harus beresin kebutuhan Zalfa." Zalfa yang antusias pun menggandeng tangan Nadia


"Siap tuan putri mami yang cantik." Nadia mencubit hidung Zalfa dengan gemas.


"Kakak gak di siapin ni mami?" goda Vania pada Zalfa.


"Kakak sudah besar, jadi bisa milih sendiri baju mana yang akan di pakai." ungkap Zidan pada sang kakak.


"Bercanda Pi, Vania juga gak ingin mami capek, mendengar mami sakit kayak tadi, bikin Vania menangis." Vania memeluk papinya.


"Pintarnya anak papi dan mami, kasihan kan mami, harus menjaga dan mengurus kalian. Jaga adik kamu dan jaga diri kalian, papa dan mama akan pergi ke Bali, jadi tolong jaga adik mu ya Vania, Vania pengen punya adek lagi kan dari mami?"bisik Zidan pada j


"Tentunya papi, Vania pengen adeknya cowok, dan Vania maunya kembar, bagaimana papi?" pinta Vania pada Zidan.


"Doakan saja ya, semoga mami cepet hamil." Zidan memeluk putri sulungnya.


"Amiin ya.ronbal alamiin." jawab Vania.


Dalam perjalanan pulang, Zidan beserta istri dan ketiga putrinya mampir ke sebuah mini market, membeli perlengkapan untuk ketiga putranya, dan juga untuk Zidan dan Nadia.


Sesampainya di.rumah, kehebohan pun terjadi, bi Asiyah dan mbak Warni, membantu Vania dan Vika, sedangkan Nadia sendiri membantu Zalfa berkemas, Nadia sedikit pusing, karena Zalfa ingin membawa semua bonekanya, dengan telaten, Nadia mampu membujuk Zalfa untuk membawa 2 boneka saja.


Tepat pukul10 malam, om rain dan Aunty Maria sudah datang dan bersiap membawa ketiga putrinya,


Perpisahan sementara membuat Nadia menangis, bahkan Nadia enggan untuk masuk ke dalam rumah, sebelum mobil yang membawa ketiga putrinya tak nampak di mata.


"Sayang... Ayuk masuk, sudah malam lo, nanti masuk angin, kamu kan lagi capek sayang." bujuk Zidan pada Nadia.


"Iya mas, mereka belum hilang dari pandangan ku, kalau mobil sudah gak kelihatan, aku akan masuk."


Zidan pun setia menunggu istrinya sampai puas melepaskan pandangan pada mobil yang di tumpangi anak-anak nya.


"Ayuk mas masuk, mereka sudah tidak kelihatan, aku capek banget, pengen istirahat." Nadia menggandeng tangan suaminya.


Zidan pun menurut pada Nadia yang menariknya masuk kedalam rumah, dan tak lupa menguncinya dari dalam.


Zidan yang sangat bahagia, karena malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua, zidan masuk ke dalam kamar, namun yang di dapati Nadia sudah tertidur pulas, tanpa menunggu kehadiran Zidan seperti biasanya.


Saat memeluk Nadia, Zidan merasakan detak jantung Nadia berdetak lebih kencang dari biasanya. Zidan pun paham Mengapa istrinya berpura-pura tidur, hanya ingin terlepas dari kegiatan malam pertama mereka, karena sudah tidak ada gangguan lagi, dengan anak-anak yang pergi berlibur bersama Om dan Aunty mereka.