Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 8. Kekhawatiran seorang ibu



Diruang jamuan kerajaan, diatas meja makan, ada banyak sekali jenis-jenis masakan yang dihidangkan, para pelayan sibuk menyajikan makanan untuk menjamu putri sulung sang raja Dewi Nila Candra, dan suaminya yang merupakan mantan Penasehat tinggi di kerajaan Mahayong.


Jamuan makan ini hanya dihadiri oleh keluarga dekat raja saja, putra mahkota Kerajaan Mahayong, Raja Wideha, Permaisuri Suhita, Pangeran Kertapati, Rsi Bergunatha beserta keluarganya, mereka bersantap dengan tenang tanpa ada yang bersuara.


"Pelayan tolong bersihkan meja makan dan bawakan kami anggur dan beberapa minuman ringan serta buah-buahan ," sabda Permaisuri pada kepala pelayan,


"Baik yang mulia Permaisuri ," jawab pelayan, pelayan itu kemudian memberikan instruksi pada enam pelayan lainnya dengan suara berbisik, sesaat kemudian minuman beserta berbagai buah-buahan disajikan diatas meja oleh para pelayan yang bekerja dengan sigap rapi dan tanpa keributan.


Raja Wideha menanyakan kabar sang Rsi, mengingat sangat lama tidak berkunjung ke Mahayong, stelah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Penasehat tinggi di kerajaan Mahayong.


"Hamba baik-baik saja yang mulia, demikian juga dengan Putri dan Cucu-cucu anda, hamba menyepi untuk mendidik cucu-cucu paduka hingga siap jika diminta untuk mengabdi untuk rakyat dan kerajaan ini ," jawab Rsi Bergunatha dengan sopan.


"Berapakah usia cucu-cucuku sekarang,"


"Wirabuana 21, Wiraloka, 19 dan Mahawira 16," kata Rsi Bergunatha


"Masih sangat muda, tapi aku yakin mereka memiliki kemampuan yang hebat karna bimbingan Rsi yang terkenal hebat dan berpengetahuan luas sepertimu," timpal Raja Wideha.


"Wirabuana sudah mencapai Pendekar Suci tingkat 5 ayahanda ," Dewi Nila Candra menimpali, Wirabuana hanya tersenyum kecil mendengar ibundanya membanggakan dirinya


"Luar biasa ," seru Pangeran Mahkota takjub, " aku saja baru sampai Pendekar Suci tingkat 3... Kanda Dewi ," lanjutnya


"Bagaimana dengan Wiraloka ," Raja Wideha juga ikut penasaran dengan kejeniusan cucunya.


"Wiraloka sudah Pendekar Suci tingkat 4 puncak, sewaktu-waktu bisa menerobos ketingkat 5 ," jawab Dewi Nila Candra bangga,


"Keluarga monster !" kata Pangeran Mahkota, geleng-geleng kepala,


"Dengan adanya mereka di kerajaan kita, kita boleh merasa lega ayahanda, karna dimasa depan mereka akan semakin berkembang dan akan menjadi pilar penyangga bagi kerajaan kita, Pangeran Kertapati menambahkan sambil menoleh pada Raja Wideha.


"Lantas bagaimana dengan cucu kakek yang paling tinggi dan gagah ini ?" tanya Raja Wideha sambil menatap Mahawira dengan senyum ramah


"Mahawira tidak suka latihan silat ayahanda, dia lebih suka menghabiskan waktunya dengan bersamadi di kamarnya ," Dewi Nila Candra kembali menjawab melihat Mahawira tak kunjung menjawab pertanyaan kakeknya.


"Aku yakin Mahawira menyembunyikan kemampuannya, dengan cahaya cemerlang yang terpancar dari wajahnya dan aura kewibawaan yang dimilikinya serta sorot matanya yang seolah tidak takut pada sesuatu tidak mungkin dia lemah, bahkan aura wibawanya mengalahkan aura wibawa semua orang yang ada disini ," batin Raja Wideha.


"Tidak apa nak, dia tau apa yang harus dia lakukan," kata Raja Wideha pada putrinya dengan senyum misterius seolah tau sesuatu.


"Yang Mulia, kami ingin bercengkrama di taman dengan putriku, kalian lanjutkan bercakap-cakap disini ," kata Permaisuri sambil berjalan ke taman disusul Dewi Nila Candra,


"Aku ikut bunda ," Mahawira berdiri setelah mohon izin pada kakek dan ayahandanya, dia tidak ingin ditanya banyak hal tentang kehidupan pribadinya yang tidak ingin dia ungkap untuk saat ini.


"Kenapa kamu masih manja, sekarang usiamu sudah 16 ledek Ibundanya,"


"Hanya ingin ikut menikmati keindahan taman bunda," jawab Mahawira,


"Biarkan saja Wira ikut, jangan terlalu keras padanya, wajar dia manja karna anak bungsu," Permaisuri menimpali.


"Engkau terlihat lebih muda dan cantik putriku !, apa yang menjadi rahasia kecantikanmu ?, bolehkah berbagi sama Bunda ?"


"Tidak ada yang rahasia Bunda, Nanda hanya bernasib baik mendapatkan berkah dari seseorang ketika melahirkan Mahawira."


Dewi Nila Candra menceritakan kejadian saat melahirkan Mahawira sampai mereka menyepi karna sabda gaib yang suaminya dengar, setelah menceritakan kejadian itu Dewi Nila Candra terperanjat, dia ingat mengenai keanehan-keanehan saat kelahiran Mahawira


"Pantas tadi ayahanda Raja tersenyum misterius, rupanya dia tau ada sesuatu yang tersembunyi pada diri Mahawira, semoga putraku selalu baik-baik saja, Yang Maha Kuasa lindungilah keluarga hamba," Dewi Nila Candra membatin.


Dewi Nila Candra memandangi Mahawira lekat-lekat berharap Mahawira tidak mengalami nasib buruk apapun,


"Putramu tak akan kemana-mana !, kenapa kamu memandangi putramu seolah dia akan pergi jauh dan tak akan ketemu dalam jangka waktu yang lama ?"


"Aku khawatir bunda, Wira tidak suka berlatih ilmu beladiri, aku takut suatu saat dia kenapa-napa karna tidak mampu menjaga dirinya,"


"Kekhawatiranmu berlebihan putriku, perhatikanlah putramu baik-baik, cahaya mukanya, sorot matanya, pembawaannya yang tenang dan aura wibawanya yang sangat mendominasi, bunda yakin putramu tidaklah bisa-bisa saja, bunda merasa ada kekuatan yang tersembunyi didalam dirinya ," kata Permaisuri menenangkan.


"Semoga saja demikian bunda," Dewi Nila Candra melepaskan nafas berat seolah beban ribuan kilo telah terlepas dari pundaknya.


Sementara diruang makan percakapan seru masih berlangsung,


"Kakek ingin kalian menjelajahi Kerajaan Mahayong dulu sebelum kalian mengabdikan diri untuk menjadi penasehat kerajaan, agar kalian tahu kondisi masyarakat dan kerajaan kita secara menyeluruh agar nantinya kalian memiliki kemampuan untuk memberi solusi tepat ketika masalah terjadi ," kata Raja Wideha,


"Hamba juga berpikir demikian kakek ," ucap Wirabuana dan disetujui oleh Wiraloka.


Sementara itu di ruang makan,


"Hamba tidak akan lama disini, paling lama satu bulan hamba harus kembali ke pertapaan, masalah Wirabuana dan Wiraloka hamba serahkan pada ayahanda raja untuk mengatur jalan terbaik bagi mereka ," Rsi Bergunatha menyampaikan pendapatnya.


"Kakek, sebulan lagi setelah ayahanda kembali, kami akan segera mulai pengembaraan kami ," kata Wirabuana,


"Begitu juga baik ," jawab Raja Wideha pada menantu dan cucunya,


"Bagaimana dengan Mahawira ," tanya Raja Wideha pada Rsi Bergunatha,


"Biar dia memutuskan sendiri, dia sangat dekat dengan Ibundanya, mungkin dia ikut pulang bersama kami," Rsi Bergunatha menjelaskan.


Sebulan kemudian Wirabuana dan Wiraloka keluar istana memulai pengembaraannya setelah keberangkatan ayahanda, ibunda dan adik kecil mereka.


Sebelum kepulangan ayahandanya, Raja Wideha kakek mereka sempat berdebat agar Mahawira berdiam di istana kerajaan, Mahawira bersikukuh ikut pulang dengan ibundanya.


"Wira, nenek belum puas melepaskan kangen denganmu, nenek berharap kamu tinggal disini beberapa bulan lagi," kata Permaisuri mencoba membantu Raja Wideha untuk menahan cucunya,


"Maafkan Wira Nenek, aku ingin menyelesaikan sesuatu hal disana, nanti setelah Wira selesai Wira akan datang mengunjungi nenek dan kakek disini," jawab Wira.


Akhirnya Raja Wideha dan Permaisuri Suhita memahami tujuan Wira dan mengikhlaskan mereka kembali pulang.