Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 45. Kepanikan di sekte Lembah Kabut Racun



Wira dibangunkan oleh Bunglon Pelangi saat di kejauhan terlihat lembah yang berkabut tebal, diantara dua barisan pegunungan.


"Pemandangan disini sangat indah, Istriku pasti senang jika melihat pemandangan ini"


Wuuuusss...


Wuuuusss...


Putri dan Nilotama serta merta ada dipunggung Singa Emas dalam Aray Transparan yang biasa Wira pasang untuk mereka.


Putri dan Nilotama sedang beristirahat di gasebo besar, seusai latihan sambil berbincang riang ketika tiba-tiba mereka menghilang dan muncul begitu saja dipunggung Singa Emas.


"Kalian pasti senang melihat pemandangan disana," Wira menunjuk lembah Kabut yang masih berada di kejauhan.


Nilotama sangat senang melihat deretan pegunungan yang mengapit lembah dengan kabut tebal dibawahnya, lembah kabut tampak memutih seperti gula kapas, makanan yang sangat digemari oleh anak-anak.


Semakin lama semakin dekat mereka dengan kabut asap itu, Tikus Hitam, Bunglon Pelangi, dan Srigunting Perak tampak mulai gelisah. Secara naluriah insting mereka menanggapi adanya bahaya. Wira baru menyadari bahwa ke tiga binatang itu tidak memiliki kekebalan terhadap racun, Wira segera mengirim mereka ke Hutan Kristal, dibagian barat Istana Giok di Dunia Dimensi Jiwanya Wira.


"Dinda...,Adik..., waktunya melihat pemandangan indah sudah habis, sekte Lembah Kabut Racun sudah dekat," kata Wira sambil menciumi kedua istrinya.


Pipi Putri dan Nilotama memerah mendapat perlakuan romantis dari Wira.


"Aku ingin sebenarnya berlama-lama seperti ini dengan kalian, tapi aku takut kalian terluka jika ikut ke sekte Lembah Kabut Racun bersamaku," kata Wira


"Kami mengerti Kak," sahut Nilotama diamini oleh Putri.


Wira mengirim Putri dan Nilotama kembali ke Istana Giok.


"Singa Emas, kamu ingin ikut menghabisi sekte Lembah Kabut Racun?"


"Groaarrh...."


"Groaarrh....."


"Aku anggap ikut, aku tau kamu lebih kuat dariku dan kebal terhadap racun apapun, biarkan aku turun lebih dulu, ketika aku kasi tanda, kamu turun dan bikin kejutan untuk mereka" Wira memberi tahu rencananya.


Singa Emas mengangguk-anggukkan kepalanya senang, seolah ikut bergembira dengan rencananya Wira.


Wira melayang turun menuju sekte Lembah Kabut Racun.


Kehadiran Wira yang datang dengan busur dan wadah panah dipunggungnya membuat murid penjaga gerbang menahannya.


"Anak muda ada perlu apa datang kemari?" tanya salah satu murid yang menjaga gerbang sekte,


"Aku hanya ingin meminjam kunci gudang kekayaan sekte ini, tolong sampaikan pada Ketua," kawab Wira sambil membungkuk sopan.


"Baiklah....," salah satu murid pergi ingin memberi tahu tetua.


"Bodoh...!, kamu sedang diolok-olok !" kata seniornya yang berada diatas tembok gerbang.


Murid senior meloncat turun dan mendekati Wira,


"Jangan berolok-olok disini, aku tahu kamu memiliki kemampuan hingga tidak teracuni oleh kabut yang melindungi sekte ini, tapi perlu kamu ketahui bahwa sekte Lembah Kabut Racun adalah sekte aliran hitam terkuat di kerajaan ini !, tidak ada satu mahlukpun yang selamat sampai disini jika tidak seijin Ketua" kata murid senior mengancam.


"Buktinya aku selamat," Wira menjawab sambil menunjukkan badannya.


Murid senior menjadi ragu, jika dilarang takut salah, jika dibiarkan instingnya mengisyaratkan bahaya.


"Pergi dan katakan pada tetua yang giliran jaga, ada tamu berkunjung!" murid senior memberi perintah pada yuniornya yang tadi ingin masuk memberi tahu tetua.


"Hadeeh sok pintar, akhirnya aku.... juga," gerutu murid yunior dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian, seorang pria bertubuh pendek dengan perut buncit, dengan senyum tak pernah lepas dari wajahnya.


Setan periang, salah satu tetua senior di sekte Lembah Kabut Racun berdiri di depan Wira dengan wajah riangnya.


Kedatangannya seketika membuat murid yang berjaga di pintu gerbang sekte ketakutan,


"Salam tetua Setan Periang" murid jaga memberi hormat sangat sopan.


"Apa yang dapat kami bantu anak muda ?" tanya Setan Periang ramah.


"Maaf tetua kami ingin meminjam kunci gudang penyimpanan sekte Lembah Kabut Racun," jawab Wira sambil membungkuk sopan.


"Hahahaha"


"Jangan bercanda Anak Muda, itu bisa membuat nyawamu hilang dalam sekejap," kata setan periang sambil tertawa riang.


Entah kenapa Wira menyukai sosok setan periang ini.


"Tetua apa aku terlihat sedang bercanda ?, kenapa tidak disampaikan saja pada Ketua sekte agar urusannya cepat selesai," kata Wira serius.


Setan periang melihat anak muda didepannya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, wibawanya terpancar kuat, tetapi tidak ada aura kultivasi yang terpancar darinya.


"Baiklah tunggu sebentar disini anak muda," Setan periang berkelebat cepat menuju kediaman Ketua sekte.


Dikediamannya, Ketua sekte dia sedang berbincang dengan wakil ketua membicarakan mengenai permintaan Pangeran Gantar, agar sekte Lembah Kabut Racun ikut berkontribusi mengirimkan muridnya memperkuat Benteng Utara.


"Salam Ketua, di pintu gerbang ada tamu yang ingin bertemu Ketua untuk meminjam Kunci gudang penyimpanan harta," kata tetua Setan Periang hormat.


"Julung, pergi hajar manusia kurang ajar yang berani mengolok-olok sekte kita," kata Ketua sekte marah.


Wakil ketua yang dipanggil Julung melesat pergi Ketika menerima perintah Ketua sekte,


Boooom...


Ledakan keras terdengar dari arah gerbang sekte.


"Kakak Setan Periang apa kamu tidak sadar bahwa kamu sedang diolok-olok ?" Ketua sekte bertanya sambil tersenyum, melihat kepolosan Setan Periang.


"Hahahaha"


"Rupanya Julung memberi pelajaran terlalu keras pada anak muda itu, sayang sekali dia anak muda yang sopan," ucap Setan Periang menyesali tindakan Julung yang dianggap berlebihan.


Setan Periang berasumsi suara ledakan keras tadi adalah hukuman Julung pada Wira.


Di sekte Lembah Kabut Racun sesungguhnya Setan Periang yang terkuat, Ketua sekte levelnya Pendekar Dewa Bumi tingkat awal, sedang Setan Periang sudah mencapai Pendekar Dewa Bumi tingkat 2, tapi karna kepolosannya, dia tidak ingin hidup rumit mengurusi banyak hal, maka ketika ketua lama meninggal dia dipilih untuk menjadi ketua, Setan Periang malah mengusulkan adik seperguruannya untuk menjadi Ketua dan Julung sebagai wakilnya.


Ketika lama ditunggu dan Julung tidak segera kembali Ketua ingin Setan Periang untuk keluar memeriksa, belum sempat ketua membuka mulut, suara lonceng tanda bahaya berbunyi.


Teng...teng...teng...teng...


suara lonceng tanda bahaya membuat seluruh penghuni Sekte Lembah Kabut Racun keluar menuju tempat biasa mereka berkumpul.


Ketua sekte didampingi Setan Periang muncul melihat situasi, Julung terlihat terkulai tak bernyawa di dekat pintu gerbang yang hancur berantakan.


Setan Periang keliru, suara boom yang didengarnya adalah Tubuh Julung yang membentur gerbang, akibat pukulan Wira yang keras.


Suuiiit...


Suara nyaring terdengar.......


Wira bersiul nyaring memanggil Singa Emas, tak lama kemudian,


Wuuuusss...


Sesuatu bergerak sangat cepat,


"Groaarrh..."


Singa Emas muncul sambil mengeluarkan suara mengintimidasi. Setiap orang yang ada disana langsung bergetar hebat mendengar raungan Singa Emas.


Murid-murid sekte yang levelnya dibawah Pendekar Langit kebawah, meninggal seketika mendapatkan tekanan aura dari Binatang Ilahi yang kekuatannya setara Pendekar Dewa Bumi tingkat 4.


Wira bergetar mendengar raungan Singa Emas yang dialiri kekuatan penuh.


"Luar biasa, Singa Emas membunuh banyak orang hanya dengan raungannya !, aku percaya bahwa kultivasinya dulu memang sangat tinggi sebelum dia terkurung di Aray Pelindung dalam gua," batin wira.