Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 18. Dunia kecil 8



"Baiklah hamba akan menceritakan asal-usul hamba dengan jelas, sampai hamba masuk dunia kecil ini," jawab Wira


Wira menjelaskan bahwa ayahandanya seorang Rsi yang pernah menjadi penasehat Raja Wideha yang kerajaannya berada di seberang lautan, di timur laut kepulauan ini dialam manusia.


Ibundanya Putri Raja Wideha, Raja Kerajaan Mahayong, begitu Wira lahir ayahandanya sudah pindah kesebuah pulau kecil di wilayah kerajaan Singa Mandawa, tempat dia tinggal bernama Desa Rangdu Batu Madeg, disana ayahandanya mendirikan Perguruan Silat Gunung Kembar, ayahanda sekarang sudah jadi pertapa dipuncak gunung kembar, sementara kedua kakaknya kembali ke kerajaan Mahayong ditempat kakeknya.


Sejak berusia 16 tahun Wira mulai mengembara, dan bertemu putri Baginda Raja disebuah danau secara kebetulan. Karna putri hilang tanpa bekas Wira penasaran dan menemukan pintu menuju ke dunia kecil ini, demikian Wira mengakhiri ceritanya.


"Aku percaya dengan ceritamu, dan maaf jika selama ini aku menempatkan pasukan bayangan untuk mengetahui alasanmu memasuki dunia kecil yang sangat rahasia ini," ucap Raja Wreksasena.


"Sekarang giliranku untuk menceritakan alasan kenapa kami tinggal di dunia kecil ini," Pria Sepuh menyela.


"Sebelum kami pindah ke dunia kecil ini, aku adalah seorang raja di Dunia Apsara yang bernama Kerajaan Malawa Dewa, kerajaanku sangat makmur, rakyatku hidup rukun dan damai karna memang tanah di kerajaanku sangat subur, sehingga hasil bumi melimpah peternakan maju.


Ada banyak tambang di kerajaanku, tambang emas, Perak, Bijih Besi, Nikel, bahkan tambang uranium dan berbagai tambang mineral lainnya.


Kekayaan alam inilah yang membuat Kerajaanku makmur. Sementara kerajaan tetangga kami kondisinya tidak seberuntung kami, kerajaan ini bernama Kerajaan Samantha Pancaka, dahulu ketika Raja Subala yang menjadi raja, kerajaannya dengan kerajaan kami baik-baik saja karna aku dan dia berteman baik, namun ketika Raja Subala meninggal dan digantikan putranya Raja Durgati, bala tentara mereka menyerang kerajaanku, prajurit mereka dua kali lebih banyak dan lebih kuat. Raja Durgati mempelajari ilmu iblis sehingga kultivasinya meningkat pesat, begitu juga dengan orang-orang kepercayaannya, karna kami kalah jumlah dan kalah kuat dalam waktu singkat mereka dapat menguasai kerajaan kami, Putra Mahkota meninggal dalam perang begitu juga dengan dua putraku yang lain, ketika aku merasa tidak mampu lagi untuk bertahan aku membawa putra bungsuku untuk mundur dari Medan tempur bersama prajurit yang tersisa, dan membawa keluargaku yang masih hidup, untung aku memiliki artefak yang bisa bergerak cepat, aku kemudian masuk dunia kecil ini yang tanpa sengaja aku temukan saat aku berkelana ketika masih remaja.


Demikian Pria Sepuh menceritakan kisah hidupnya sampai tinggal sementara di dunia kecil.


"Lantas kenapa pelindung agung menceritakan semua ini kepada hamba yang bukan dari kerajaan Paduka,"


"Melihat kemampuanmu aku merasa yakin kamu mampu menolong kami," jawab Pria Sepuh


"Mohon Pelindung Menceritakan Tentang kekuatan dari kerajaan Samantha Pancaka ini secara menyeluruh," kata Wira


"Wira panggil saja aku kakek, aku merasa risih dengan panggilan pelindung yang disematkan padaku sementara aku tidak mampu berbuat banyak pada kerajaan dan rakyatku," kata Pria Sepuh.


"Baiklah Kakek akan menceritakan mengenai peta kekuatan kerajaan Samantha Pancaka." Pria sepuh melanjutkan.


"Kerajaan Samantha Pancaka...


Raja Durgati seorang Pendekar Dewa Bumi tingkat 3, Panglimanya Jaga Satru pendekar Dewa Bumi tingkat 3, Jenderal Utama ada empat, Kala Menjing Dewa Bumi tingkat 1, yang lainnya Pendekar Suci tingkat 9, Jenderal Muda ada 50 orang rata-rata Pendekar Suci tingkat 4 sampai 5, jumlah Prajurit satu juta orang.


Sementara Penguasa yang dijadikan Pemimpin di kerajaan Malawa Dewa :


Rajanya Pangeran Gantar, seorang Pendekar Dewa Bumi tingkat 1, Panglima Jayeng Rana, Pendekar Suci tingkat 9, ada tiga Jenderal Utama semua Pendekar Suci tingkat 7, ada delapan Jenderal Muda rata-rata Pendekar Suci tingkat 4, itulah peta kekuatan musuh kita," Kata pria sepuh.


"Bagaimana dengan kekuatan laskar Yang Mulia ?" tanya Wira pada Raja Wreksasena,


"Ayahanda Pendekar Dewa Bumi tingkat 3, aku sendiri Dewa Bumi tingkat 1, Panglima Ringkin Pendekar Suci tingkat 9, Jenderal Utama ada 4, Jaya Kathong Pendekar Suci tingkat 8 yang lainnya Pendekar Suci tingkat 7 dan 6, Jenderal Muda ada 6 rata-rata Pendekar Suci tingkat 1 hanya 2 orang Pendekar Suci tingkat 3 jumlah prajurit ada 200.000 orang," Raja Wreksasena menjelaskan kekuatan yang dimilikinya.


"Hamba bersedia membantu yang mulia karna Raja yang bengis dan suka menindas rakyat harus dimusnahkan demi kedamaian rakyat," ucap Wira semangat.


"Terimakasih atas kesediaanmu membantu kami Wira," Ucap Raja Wreksasena sambil menggenggam erat tangan Wira.


Panglima dan Pelindung Agung juga mengucapkan rasa terimakasih yang sangat dalam kepada Wira.


"Lantas bagaimana rencana kita selanjutnya ?" Panglima Ringkin melempar pertanyaan,


"Sebelum membahas strategi untuk membebaskan rakyat kita dari penindasan yang sudah pasti akan memakan waktu, tenaga serta biaya yang tidak sedikit, aku ingin minta bantuan Wira untuk masalah yang lebih mendesak," Raja Wreksasena berkata dengan mimik serius.


"Katakanlah Baginda, sepanjang hamba bisa akan hamba bantu sekuat daya dan upaya yang hamba miliki," Wira meyakinkan Raja Wreksasena,


"Ini berkaitan dengan Putriku, beberapa hari ini dia terlihat sedih tidak seperti biasanya, aku mencoba untuk menanyakan namun Putriku tidak mau menjawab, sampai kemudian Permaisuri menjelaskan persoalan yang sedang dialami Putriku,"


"Katakanlah Baginda hamba siap membantu," ucap Wira serius


"Pergilah panggil Tuan Putri,"


salah satu prajurit yang selalu siap didekat pintu bergerak cepat melaksanakan titah raja.


Tak berapa lama Permaisuri dengan Putri Citra Sasmita beserta empat pelayan putri hadir,


"Salam Pelindung Agung, salam Yang Mulia," Permaisuri dan rombongannya menakupkan tangan, memberi hormat,


"Salam Permaisuri, salam Putri," Panglima Ringkin memberi hormat pada Permaisuri dan Putri diikuti oleh Wira.


"Duduklah....," titah Raja


"Putri ceritakan masalah yang kamu alami," kata Raja Wreksasena pada Putri Citra Sasmita.


Melihat kehadiran Putri dan keempat pelayan yang pernah dijumpainya dipinggir danau Tambalingan, perasaan Wira jadi tidak enak


Putri Citra Sasmita tidak kunjung bercerita mendengar titah Ayahandanya malah terisak sedih,


"Yang Mulia bolehkah hamba mewakili Putriku menceritakan aib yang sedang menimpanya?" Permaisuri mengajukan usul


"Katakanlah....," kata Raja


"Kejadian ini terjadi beberapa hari yang lalu dan berkaitan dengan anak muda yang ada bersama kita saat ini," ucap Permaisuri sambil menoleh kearah Wira


Wira semakin gelisah namun berusaha terlihat tenang, semua orang melihat kearahnya, Wira merasa seperti terdakwa yang sedang diadili


"Lanjutkan....," sabda Raja Wreksasena


"Putriku dilihat oleh Wira ketika sedang tanpa busana yang memadai saat mandi di danau dialam manusia, hal itu merupakan aib besar bagi seorang wanita menurut tradisi yang berlaku di kerajaan kita, hal itu yang membuat putriku bersedih sepanjang waktu, dan kejadian itu disaksikan oleh keempat pelayan yang ikut bersamanya," Permaisuri menjelaskan


"Pelayan benarkah apa yang dijelaskan Permaisuri," Raja meminta penjelasan pelayan


"Benar yang mulia, ketika itu Putri sedang mandi menggunakan sutra tipis tembus pandang dan dalam kondisi basah, kemudian pria ini muncul dari dalam air dan melihat keadaan putri yang seperti itu.....," pelayan Sang Putri menjelaskan lebih detail kejadiannya.


"Bagaimana penjelasanmu Wira," Raja memandang Wira meminta penjelasan


"Hamba Bersalah, hamba siap menerima hukuman, namun tidak ada kesengajaan dalam tindakan hamba, hamba tidak menduga di danau yang sepi seperti itu akan ada orang yang mandi, hamba sedang menyelam didasar danau dan muncul kepermukaan untuk mengambil nafas sekaligus ingin melihat sisi terjal danau Tambalingan," Wira menjelaskan keadaan saat itu


"Tidak ada yang bersalah dalam hal ini, keadaan lah yang membuat Putriku mengalami aib seperti ini," Raja Wreksasena berkata lirih


"Wira..., bersediakah kamu menikahi cucuku untuk menghilangkan aib yang menimpanya?" Pelindung Agung memberi saran dalam pertanyaannya.


"Tapi hamba masih sangat muda, bagaimana mungkin hamba melakukan sesuatu yang tidak hamba mengerti," kata Wira polos


"Kalau dia tidak mau menikahiku maka dia harus membunuhku diarena kesatria !, karna aku tidak mau bunuh diri," Putri menjawab perkataan Wira


"Tidak....tidak..., bukan seperti itu maksudku," Wira ingin meluruskan perkataannya,


"Jangan bertele-tele !, ayo kita ke arena kesatria bertarung !" teriak Putri merasa harga dirinya diinjak karna penolakan Wira.


"Tenanglah kalian..., ada beberapa pilihan untuk perkara seperti ini menurut tradisi dinegeri kami," Raja Wreksasena menenangkan suasana yang agak memanas,


"Pertama kalian menikah, kedua kalian bertarung sampai mati diarena kesatria, ketiga Putriku akan bunuh diri karna menanggung malu atas aib yang menimpanya,"


"Aku tidak ingin bunuh diri seperti pengecut, aku ingin mati dengan cara terhormat ayahanda," Putri Citra Sasmita menyela sebelum Wira sempat menjawab


"Jika anakku satu-satunya meninggal aku juga akan mati bersamanya," Permaisuri berkata memastikan


"Aku bersedia menikah jika Putri tidak keberatan," kata Wira


"Jangan menikahiku karna terpaksa, pernikahan yang dipaksakan tidak akan bahagia pada akhirnya, aku lebih memilih untuk bertarung," ucap Sang Putri ketus, sebab belum reda amarahnya


"Siapa yang tidak ingin menikah dengan Putri secantik dirimu, tambahan lagi jenius bela diri, aku hanya merasa tidak pantas, dan terlalu muda, takutnya nanti tidak bisa membahagiakanmu," jawab Wira


Muka Putri Citra Sasmita seketika memerah karna pujian Wira.


Putri ingin menjawab perkataan Wira, tetapi Raja Wreksasena mengangkat tangannya sebagai isyarat agar perdebatan dihentikan.


"Wira kamu seorang cucu raja tidak ada yang tidak pantas dalam hal ini, masalah usia aku tau pemikiranmu sangat jauh melebihi usiamu, untuk itu aku putuskan kalian menikah 3 hari lagi," Raja Wreksasena menurunkan titahnya.


"Kenapa harus secepat itu yang mulia," tanya Wira heran,


"Makin cepat menikah makin cepat aib cucuku hilang Wira," Pelindung Agung menjelaskan


"Karna masalah sudah terselesaikan kalian boleh meninggalkan ruangan, Panglima dan Wira kuharap kalian untuk tinggal untuk membahas hal lainnya," Raja Wreksasena bertitah,


Permaisuri, Putri dan pelayannya meninggalkan ruang tamu, menuju kediamannya masing-masing


"Wira kamu bisa masuk ke dunia kecil ini dengan mudah, kurasa kamu menguasai tehnik aray yang lumayan, untuk menghindari masalah yang mungkin terjadi aku ingin kamu memasang aray penghalang di pintu masuk dunia kecil yang kamu lalui,"


"Baik yang mulia tapi hamba tidak begitu ingat jalan menuju kesana," Wira menjawab


"Biar pelayan Putriku yang mengantarmu kesana," kata Raja Wreksasena,


"Kakek ikut bersamamu Wira,"


"Mari kek...," jawab Wira malu-malu, karna Pelindung Agung mulai menyebut dirinya kakek terhadap Wira


"Aku mohon diri Yang Mulia, Paman," kata Wira pada Raja Wreksasena dan Panglima Ringkin


Raja Wreksasena mengangguk,


"Semoga berhasil dengan baik," ucap Panglima Ringkin,


"Mudah-mudahan Paman," balas Wira


"Panglima, segera umumkan pernikahan Putriku dengan Wira tiga hari yang akan datang,"


"Baik Yang Mulia," jawab Panglima Ringkin hormat,


"jika tidak ada yang perlu dibahas lagi hamba mohon pamit untuk melaksanakan titah Paduka," Panglima menambahkan.


"Lakukanlah, jawab Raja pendek.