
Setelah jauh dari sekte Kalajengking Hitam Wira mengeluarkan Singa Emas dan menyuruh Tikus Hitam untuk menuntun arah menuju Kota Awan, Wira tidur dipunggung Singa Emas, Tikus Hitam ditemani Shesa duduk dileher Singa Emas sambil mengamati situasi.
Keesokan harinya Wira sampai di Kota Awan, Mahardika menyambut Pangeran Mahawira dengan gembira, demikian juga halnya dengan Sarwadahana.
"Dimana paman Kratu ?"
"Kratu berada di sekte Pedang Kilat," sahut Sarwadahana menjawab pertanyaan Wira,
"Semua prajurit dan relawan ditempatkan disana termasuk prajurit elite Raja Wreksasena," ujar Mahardika menjelaskan.
"Sudah berapa banyak prajurit elite yang datang ?" tanya Wira,
"Setiap hari mereka datang sebanyak sepuluh ribu prajurit dengan menyamar sebagai masyarakat biasa," Mahardika menjelaskan.
"Apa masih ada sekte aliran hitam di jalur perjalanan dari lokasi Dunia Kecil menuju kemari ?" tanya Wira,
"Sekte Melati Hitam, hanya sekte kecil dengan jumlah anggota tiga ribu orang, Ketuanya Serundeng Wangi, Pendekar Suci tingkat 8, wanita yang sangat kejam dan licik, sampai sekarang prajurit mata-mata kita belum mengetahui wajah nya karna kemampuannya menyamar sangat hebat, dia memiliki pasukan pengawal sebanyak limapuluh orang yang semuanya pandai menyamar, semua pengawalnya pendekar Suci tingkat 3, banyak prajurit bayangan yang meninggal saat mencari informasi kesana," ucap Sarwadahana menjawab pertanyaan Wira.
Selesai menerima informasi dan laporan dari Mahardika dan Sarwadahana Wira menyuruh Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi untuk pergi ke Sekte Melati Hitam untuk mengumpulkan informasi sesuai perintah Wira.
Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi segera menyuruh anggotanya untuk menjalankan perintah Wira.
Dua ekor Tikus Hitam sebesar harimau berubah menjadi seukuran kecoak dan dua ekor Bunglon Pelangi seukuran komodo berubah menjadi seukuran jangkrik dengan warna kulit yang berubah sesuai tempatnya, bergerak cepat setelah menerima perintah dari pemimpinnya.
Keesokan harinya setelah cukup beristirahat Wira mengajak Mahardika dan Sarwadahana untuk pergi menuju sekte Pedang Kilat.
Dengan menggunakan ilmu lari cepat yang mereka miliki hanya satu jam mereka sudah sampai di dekat gapura sekte Pedang Kilat, Wira menyuruh Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi untuk melepaskan anggotanya memata-matai tempat itu, kemudian Wira melanjutkan perjalanan menuju sekte Pedang Kilat.
"Salam Kepala Kota, salam Tuan Sarwadahana" ujar salah seorang penjaga gerbang dengan hormat begitu melihat Mahardika mendekati gerbang sekte, sementara penjaga yang lain pergi dengan cepat melaporkan kedatangan Mahardika.
Sepanjang perjalanan menuju aula sekte, Mahardika dan Sarwadahana selalu mendapat penghormatan dari prajurit, relawan maupun anggota aliansi sekte aliran putih, mereka semua sudah sangat mengenal Mahardika sebagai pemimpin pergerakan melawan penjajah dan Sarwadahana sebagai pemimpin seluruh relawan, mereka belum mengenali Wira yang berjalan paling depan dengan postur tubuh setinggi 196 centimeter Wira terlihat agung dan berwibawa walaupun senyum ramah selalu terukir diwajahnya setiap kali ada orang yang menyapa mereka.
Banyak orang kasak-kusuk membicarakan Wira yang baru pertama kali datang berkunjung ke sekte Pedang Kilat.
"Apa dia Pangeran Mahkota Mahawira yang sering di sebut oleh Tuan Mahardika," ujar seorang relawan pada rekannya,
"Bisa jadi, kita semua bisa melihat kalau Tuan Mahardika dan Tuan Sarwadahana sangat hormat pada anak muda itu," jawab yang lain.
"Tetapi kenapa sama sekali tidak ada aura tenaga dalam yang terpancar, dia terlihat seperti orang biasa, walaupun wibawanya sangat besar," ujar yang lain menimpali.
"Jika Pangeran lemah begini memimpin kerajaan perjuangan kita akan sia-sia," ujar yang lain menimpali,
"Ucapanmu akan mengundang masalah jika terdengar oleh pemimpin relawan Randu," ujar rekannya pada pria tinggi kurus yang bernama Randu,
"Maaf Kakang aku hanya menyuarakan kebenaran," kata Randu berdalih.
"Hentikan perdebatan kalian dan kembali pada kegiatan masing-masing," seorang pemimpin relawan datang menghentikan pembicaraan mereka.
Semua orang bubar dan kembali pada kegiatan masing-masing.
Sementara di aula sekte, Mahardika, Sarwadahana dan Wira diterima oleh Bismaka selaku Ketua aliansi sekte aliran putih dan beberapa Ketua sekte yang lain yang ikut dalam aliansi.
Mereka terdiam setelah mendengar Mahardika memperkenalkan Wira sebagai Pangeran Mahkota, selama ini Mahardika sering memuji kemampuan Pangeran Mahkota yang luar biasa, demikian juga Sarwadahana dan Kratu selalu memuji kemampuan Pangeran Mahkota, tetapi yang hadir didepan mereka hanya anak muda yang berusia 16 tahun dengan aura tenaga dalam yang sama sekali tidak terlihat, walaupun wibawanya sangat besar.
Mahardika, Sarwadahana dan Kratu paham akan pemikiran mereka, karna pada awalnya mereka juga menyangsikan kemampuan Wira sebelum akhirnya melihat sendiri kemampuan Pangeran Mahkota.
Wira tau apa yang ada dipikiran para pemimpin yang hadir, demikian juga rasa kecewa Mahardika, Sarwadahana dan Kratu melihat para pemimpin seperti meremehkan Pangeran Mahawira.
Bismaka yang melihat suasana kurang baik akhirnya angkat bicara, "Pangeran Mahkota baru sampai di Kota Awan kemaren dan hari ini sudah langsung mengunjungi kita disini, akan lebih baik jika kita membiarkan Pangeran Mahawira beristirahat sementara, esok atau lusa kita membahas hal penting lainnya."
Wira menyetujui apa yang disampaikan oleh Bismaka, Mahardika bernapas lega setelah mendengar Pangeran Mahawira setuju dengan usulan Bismaka, Mahardika khawatir tragedi dibuntunginya tangan Argadana karna kurang ajar terhadap Wira terulang.
Bismaka membubarkan pertemuan atas izin Wira kemudian mengantar Wira menuju bangunan khusus yang memang sudah disediakan untuk Wira dari awal terbentuknya aliansi atas saran dan biaya dari Mahardika.
Wira sesungguhnya enggan membahas strategi dan rencana perang pada para pemimpin aliansi dan pemimpin relawan sebelum yakin bahwa mereka semua bersih dari penyusup.
Dua hari setelah Wira ada di sekte Pedang Kilat Wira memanggil seluruh pemimpin melalui Bismaka, Sarwadahana dan Mahardika.
Bismaka sebagai Ketua aliansi sekte aliran putih mengajak Para Ketua sekte, Mahardika sebagai Pemimpin seluruh prajurit membawa para Pemimpin prajurit, sedangkan Sarwadahana membawa para Pemimpin relawan untuk hadir dalam pertemuan, membahas rencana dan strategi perang melawan Pangeran Gantar dan Raja Durgati.
Setelah memberi beberapa kata sambutan Bismaka selaku tuan rumah dan pemimpin aliansi mempersilahkan Pangeran Mahkota Mahawira untuk memimpin pertemuan.
Wira menyampaikan terima kasih pada seluruh hadirin karna niat mereka yang tulus untuk membantu perjuangan melawan penjajah, Wira juga menyampaikan bahwa dia mewakili Raja Wreksasena sampai beliau sendiri hadir memimpin seluruh kekuatan yang ada, sebelum Wira lanjut untuk membahas hal penting lainnya Wira ingin menunjukkan sesuatu pada semua yang hadir.
Wira memberi isyarat pada Sarwadahana,
"Bawa para penghianat itu kesini..." ujar Sarwadahana pada prajurit bayangan.
Dua ratus orang dibawa ke aula pertemuan dengan tangan terikat dan tenaga dalam sudah dilumpuhkan.
"Mereka semua adalah mata-mata yang sengaja disusupkan pada sekte dan relawan serta beberapa prajurit yang baru direkrut, mata-mataku menemukan mereka dan aku sudah menginterogasi mereka satu persatu secara rahasia bahkan ada satu Ketua sekte yang ada disini adalah mata-mata musuh," ujar Wira
Kratu segera meringkus dan melumpuhkan Pangestu, Kratu yang sengaja ditempatkan disamping Pangestu, Ketua sekte Puncak Sinunggal untuk berjaga-jaga menghindari hal yang tidak terduga.
"Aku tidak mentolelir penghianat," ujar Wira sambil mengeluarkan bukti-bukti dan asal-usul mereka satu persatu, dalam kertas laporan yang dibuat oleh prajurit bayangan setelah mendapat informasi dari Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi.
Kemudian Wira memerintahkan hukum gantung di depan aula sekte disaksikan oleh prajurit, relawan dan anggota aliansi.
Setelah menghukum dua ratus orang penghianat itu Wira menanyakan alasan Pangestu yang dikenal sangat baik dan berjiwa mulia oleh para Tetua di sektenya dan semua anggota aliansi mengetahui kebaikannya.
"Maafkan hamba Pangeran, anak hamba diculik dan disekap oleh Ketua sekte Melati Hitam dan mereka mengancam akan membunuh Putri hamba satu-satunya jika hamba tidak bersedia mengikuti perintah mereka, hamba mohon Pangeran menghukum gantung hamba seperti penghianat yang lain namun selamatkan putri hamba Pangeran," ujar Pangestu dengan mata berkaca-kaca menyesali ketidak mampuannya menyelamatkan putrinya hingga terpaksa menjadi penghianat.
Wira memberi isyarat pada Sesha yang ada dibelakangnya, Sesha berjalan keluar aula pertemuan, sesaat kemudian datang sambil membawa seorang gadis kecil cantik berumur sekitar 14 tahun.
Pangestu berlari menyongsong putrinya dan memeluknya erat karna dia sadar itu adalah pertemuan terakhir dengan putrinya.
Semua orang terharu melihat kondisi Pangestu, mereka berpikir Pangestu sedang dipermainkan takdir, dia orang baik yang tertimpa nasib buruk, demikian orang-orang berpikir mengenai Pangestu.
Jangan lupa like, komen dan share supaya menambah semangat bagi author untuk menulis, kalau ingin ngasi vote author sangat berterima kasih.