
Setelah si gendut pergi
"Hitam, Pelangi ikuti dia," ujar Wira, Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi segera menyuruh anggota mereka pergi mengikuti anggota sekte Golok Racun yang berlari seperti dikejar setan.
Sementara Prawira yang sudah berganti wujud menjadi Wira, mencari penginapan untuk istirahat sambil menunggu informasi dari anggota Tikus Hitam.
Penginapan Rembulan Merah tempat Wira beristirahat adalah salah satu penginapan terbaik di Ibukota Kerajaan Malawa Dewa, penginapan ini tetap bisa berkembang tanpa diganggu penguasa baru karna selalu memberikan kontribusi emas pada penguasa yang sekarang, walaupun sesungguhnya itu dilakukan dengan terpaksa, supaya penginapannya tetap bisa menghidupi banyak karyawan yang bekerja untuk menyambung hidup keluarga.
Wira memasuki Dunia Dimensi Jiwa, setelah memasang Aray Pelindung di kamarnya dan menyuruh Tikus Hitam untuk berjaga.
Di bagian belakang Istana Giok Wira melihat pengikutnya sedang sibuk latihan,
Kelompok Biru, dipimpin Delima dan Intan membimbing anggotanya berlatih memanah, mereka sudah mampu menduplikasi panah sebanyak seratus, berkat jurus Sahasra Astra yang diberikan oleh Wira, mereka juga sudah bisa membuat pil penyembuh untuk luka luar dan dalam, serta membuat pil energi yang berfungsi memberi energi bagi yang kehabisan tenaga dalam.
Kelompok Hijau, dipimpin oleh Mustika dan Ratna membimbing anggotanya berlatih jurus pedang dan ilmu ketabiban
Kelompok Putih, dipimpin oleh Manik dan Suhita berlatih jurus cemeti dan ilmu Aray, mereka sudah menguasai berbagai jenis Aray Pelindung, dan Aray Pemusnah.
Wira merasa sangat senang melihat kemampuan para pengikutnya meningkat pesat, beberapa saran diberikan oleh Wira pada pengikutnya untuk menyempurnakan ilmu mereka.
Selesai memberi pengarahan pada pengikutnya, Wira menuju menara pelatihan jiwa untuk melihat Putri dan Nilotama yang sedang latihan penguatan jiwa.
Ketika Wira naik kelantai tujuh Putri dan Nilotama sudah menyelesaikan latihannya dan rencana naik kelantai delapan tetapi urung begitu melihat Wira datang.
Putri dan Nilotama memeluk Wira yang sudah beberapa bulan tidak bertemu di Dunia Dimensi Jiwa.
"Kakak, kami ingin latihan memanah dan ilmu Aray," ujar Nilotama.
"Kanda akan mengajarkan seluruh ilmu yang Kanda miliki, setelah pondasi fisik dan jiwa kalian kuat, saat pondasi fisik dan jiwa kalian kuat akan lebih mudah untuk belajar ilmu apapun," jawab Wira memberi pengertian pada kedua istrinya.
"Apa kalian lanjut kelantai delapan atau istirahat dulu ?" tanya Wira,
Nilotama memandang Putri menunggu jawabannya,
"Ayo kita istirahat dulu," ujar Putri yang selalu mengerti apa yang menjadi keinginan Nilotama.
"Ayo..., Kanda bawa kalian menuju Hutan Kristal tempat Singa Emas tinggal," ujar Wira.
Nilotama begitu penasaran dengan Hutan Kristal yang di katakan oleh Wira, banyak pertanyaan yang Nilotama lontarkan pada Wira mengenai Hutan Kristal.
"Pejamkan mata kalian," ujar Wira sambil memeluk kedua istrinya.
Didalam Dimensi Jiwa, Wira adalah penguasa atas segala yang ada, bahkan ruang dan waktu bisa dia kendalikan.
Wira membawa istrinya menuju Hutan Kristal hanya dalam sekedipan mata, mereka memasuki Aray Pelindung yang dipasang oleh Wira.
Putri dan Nilotama tak henti-hentinya heran menyaksikan keunikan dari Hutan Kristal, pohon-pohon berbuah seperti kristal dengan berbagai warna dan bentuk, hewan-hewan yang ada disana semua memiliki keunikan dan kemampuan yang tinggi, setiap kali mereka bertemu dengan hewan disana, mereka menunjukkan rasa hormat yang besar.
"Keduanya adalah istriku," jawab Wira, melalui telepati
Mendengar kedua perempuan yang bersama Raja adalah istrinya, semua hewan memberi hormat pada Putri dan Nilotama.
Putri dan Nilotama mengelus hewan yang berada didekatnya dengan kasih sayang, melihat Putri dan Nilotama sangat menyayangi mereka hewan yang lain datang mendekat ingin dielus dan disayang.
Setelah beberapa saat berlalu Wira baru teringat dengan Singa Emas yang menjadi pemimpin Hutan Kristal.
Wira mengedarkan kesadarannya untuk melihat Singa Emas, ternyata Singa Emas sedang berkultivasi di dalam hutan.
Setelah puas bermain di Hutan Kristal Wira mengajak istrinya kembali, terus menuju ke tepi Danau Emas, bagi Wira Danau Emas adalah tempat yang paling romantis untuk mengekspresikan perasaannya pada Istrinya.
Kadang hanya dengan berpegangan tangan Wira dan kedua istrinya saling menuangkan perasaan diantara mereka, pandangan Putri dan Nilotama pada Wira mengungkapkan banyak makna yang sulit diuraikan dengan kata-kata.
Kata-kata hanyalah bagian kecil dari cara kita mengungkapkan buah pikiran. gerak tubuh, ekspresi wajah serta cahaya mata juga salah satu cara untuk mengungkapkan buah pikiran kita.
Begitulah Putri dan Nilotama sangat menyukai saat kepalanya dielus oleh Wira, atau saat jemarinya digenggam erat, dan yang paling kedua istrinya sukai saat tidur sambil menciumi keteknya Wira, itulah cara mereka mengungkapkan perasaannya.
Mereka bertiga masih tenggelam dalam perasaan bahagia ketika Naga Kecil datang dengan dengan ekspresi gembira.
"Ish.... mengganggu saja," batin mereka kecewa,
Tapi ungkapan cinta yang tulus yang terlihat dari cahaya mata Naga Kecil, membuat kekecewaan mereka pudar.
Mereka bertiga bermain dengan Naga Kecil sampai akhirnya Wira mohon izin pada kedua istrinya dan Naga Kecil untuk keluar karna ada panggilan telepati dari Tikus Hitam.
Sampai di kamar penginapan hari menjelang sore, Tikus Hitam menyampaikan informasi mengenai letak sekte Golok Racun dan kekuatan orang-orang yang ada di sana, mulai dari Ketua sekte, jumlah Tetua dan kemampuan yang mereka miliki serta jumlah anggota sektenya.
Sekte Golok Racun termasuk sekte aliran hitam yang mengandalkan senjata rahasia dan racun dalam pertempuran, Kepala sektenya seorang Pendekar Suci tingkat 8, sebagian besar tetua sektenya Pendekar Suci tingkat 6, jumlah anggotanya sekitar seratus ribu orang.
Dari segi jumlah anggota sekte Golok Racun termasuk sekte besar, namun dari segi kemampuan masih terkatagori sekte menengah.
Dari gambaran yang disampaikan oleh Tikus Hitam, Wira sendiri dan Singa Emas sudah cukup untuk menghancurkan seluruh sekte, tapi Wira berencana untuk mengajak Dewa Senyum dan Paman Sesha supaya makin terbiasa untuk bekerjasama dalam pertempuran.
Pagi-pagi sekali Wira keluar dari penginapan menuju gerbang selatan Ibukota, setelah diperiksa prajurit penjaga gerbang kota Wira menuju arah selatan sesuai petunjuk Tikus Hitam.
Wira menyuruh Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi agar menyuruh anggotanya keluar dari sekte Golok Racun, karna sebentar lagi akan terjadi pembantaian disana.
Wira tak pernah mengampuni orang-orang yang berasal dari sekte aliran hitam, kecuali benar-benar tulus untuk berubah, seperti Prabawangsa dan Dewa Senyum.
Hanya dengan satu jam saja jarak seratus kilometer sudah terlewati dengan ilmu lari cepat yang mereka gunakan, itupun karna Dewa Senyum agak lambat, tidak mampu mengimbangi kecepatan Wira dan Paman Sesha.
Dari kejauhan sebuah pemukiman padat penduduk terlihat dari pohon tinggi tempat Wira dan kedua bawahannya berpijak.
Wira mengeluarkan Singa Emas dan memberi mereka tugas agar mengurung mereka dari empat arah sementara Wira akan menyerang dari Pintu gerbang.