Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 57. cemburu membawa kebahagiaan



Nilotama dan Putri Citra Sasmita tidak mau bertegur sapa dengan Wira setelah kejadian ciuman tanpa sengaja antara Wira dan Putri Sekar Wangi.


"Dinda apa kita perlu mencari penginapan untuk istirahat saat malam tiba ?" tanya Wira hati-hati,


Putri melengos sembari berbalik badan, Nilotama mengikuti apa yang dilakukan oleh Putri.


Wira sadar bahwa dia dalam posisi bersalah walaupun itu ciuman tanpa disengaja, tapi Wira bisa memaklumi kecemburuan kedua istrinya, selama ini yang mereka berani lakukan hanya sebatas berpelukan, paling jauh cium pipi.


Kejadian yang tadi terjadi didepan mata membuat Putri dan Nilotama benar-benar marah, sebenarnya mereka tahu bahwa Wira sama sekali tidak bersalah, begitu juga dengan Putri Sekar Wangi, mereka dengan cepat bangun begitu hal tidak sengaja itu terjadi, tapi entah kenapa mereka belum bisa menerima kejadian itu.


Sementara Wira yang dipunggungi oleh kedua istrinya hanya bisa diam tak berdaya, Wira ingin menjelaskan situasinya takut mereka malah terbakar emosi,


"Singa Emas, terbang perlahan saja," kata Wira melalui telepati.


Wira berharap dengan diamnya dia tanpa mencoba mencari alasan, akan membuat istrinya kasihan kepadanya.


Berjam-jam Wira menunggu tapi kedua istrinya masih tidak mau bicara, dia memutar otak untuk mencari cara meluluhkan istrinya, sampai akhirnya malam tiba.


Wira menyuruh Singa Emas mendarat di hutan yang agak sepi, kemudian Wira membuat Aray Pelindung yang cukup besar dan tidak bisa dilihat dari luar,


"Singa Emas kita istirahat disini malam ini," kata Wira


"Ayo Dinda kita istirahat disini," ujar Wira sambil mengeluarkan permadani dan bantal bagi kedua istrinya yang sudah masuk kedalam Aray Pelindung.


"Licik...," Nilotama berucap,


Mereka diajak istirahat di hutan, mau tidak mau mereka tidur bertiga didalam Aray Pelindung, pertama takut karna baru pertama kalinya mereka tidur di hutan, kedua nyamuk pasti mengganggu mereka jika mereka tidak ikut masuk ke dalam aray.


Nilotama dan Putri merebahkan diri menjauh dari Wira, hampir berjarak dua meter.


"Bodoh, kenapa tidak bikin aray kecil saja tadi," rutuk Wira dalam hati menyesali kebodohannya, niat hati supaya bisa tidur nyaman makanya membuat aray agak besar, malah dimanfaatkan tidur berjauhan olehnya istrinya.


"Kanda minta maaf, Kanda tidak bisa menjaga diri, jika Dinda berdua masih marah, Dinda boleh menghukum Kanda, ucap Wira pelan sambil memasang wajah memelas mendekati mereka berdua, kemudian merebahkan diri di dekat kedua istrinya


Putri dan Nilotama tidak tahan melihat wajah sedih Wira, bagaimanapun Wira sama sekali tidak bersalah, pikiran itu juga membuat mereka luluh saat Wira meminta maaf.


Dengan mata berkaca-kaca Putri dan Nilotama mendatangi Wira yang tidur telentang didekatnya, Putri menggenggam tangan Wira dan menaruh di dadanya sedangkan Nilotama mengelus pipi Wira yang memejamkan mata.


Air mata Putri meleleh membasahi pipinya, menyesali diri karna membuat suaminya bersedih, atas prilakunya mereka menghukum suami dengan tidak mau bicara.


Melihat Putri menangis tanpa suara Nilotama juga ikut menangis sedih.


"Kanda maafkan kami," ucap Putri dan Nilotama sambil memeluk Wira dan menciumi pipinya.


Wira tersenyum senang dalam hatinya karna rencananya berhasil,


Kemudian Wira menjawab, "kalian tidak bersalah, Kanda yang bersalah"


Ucapan Wira yang merendah, tidak mau membela diri walaupun tau kalau dirinya tidak bersalah membuat Putri dan Nilotama menangis semakin sedih.


Wira menjadi bingung untuk menghentikan tangis kedua istrinya,


"Mudah-mudahan cara ini berhasil,"


Wira mencium bibir Putri dan Nilotama bergantian, seketika mereka berhenti menangis, wajah mereka merona merah karna tidak menyangka akan dicium bibirnya oleh Wira.


Putri dan Nilotama membalikkan diri dan tidur menelungkup, Wira memanfaatkan kesempatan ini dengan merengkuh Putri dan mendudukkan di pahanya sambil terus mengulum bibir Putri.


Mmmmm...


Mmmmm...


"Kanda berhenti !, malu sama Adik," kata Putri berbisik pelan,


"Nanti dia akan mendapatkan gilirannya," jawab Wira berbisik.


Putri menengok kearah Nilotama dan mendapati kalau Nilotama sudah tertidur dengan posisi masih menelungkup.


Putri mulai berani membalas ciuman Wira walau agak malu-malu, hampir satu jam mereka memadu kasih sampai akhirnya Putri meminta berhenti sebelum menjadi lebih panas.


Putri menyuruh Wira tidur di dekat Nilotama sementara dia mencoba menenangkan diri disisi yang lain, akhirnya Putri bisa menenangkan diri dan tertidur.


Wira yang sedang memanas mendekati Nilotama dan membalikkan tubuh Nilotama menjadi telentang, Wira menciumi Nilotama yang sedang tidur pulas sambil tangannya berkeliaran meraba bagian-bagian tertentu, kegiatan yang dilakukan Wira pada tubuhnya membuat Nilotama terbangun dan mendapati dirinya sedang diciumi oleh Wira.


Hentikan..., hentikan... .


Nilotama berkata pelan pada Wira, Wira yang sedang memanas malah semakin menjadi.


Plak...


Wira seketika sadar setelah telapak tangan Nilotama mendarat keras di pipinya.


Wira menghentikan kegiatannya menelusuri sesuatu, kemudian menoleh pada Putri yang sudah tertidur.


"Dinda Putri sudah tidur dari tadi," ujarnya


Nilotama melihat Putri yang tidur jauh disisi yang lain menjadi curiga.


"Apa yang Kakak lakukan pada kakak Putri, kenapa dia menjauh,"


"Tidak ada," jawab Wira berbisik sambil memegang pipi Nilotama dengan kedua tangannya sambil mengulum bibir Nilotama karna ingin berlaku adil pada kedua istrinya.


Nilotama gelagapan dan sulit bernafas karna ciuman Wira yang mulai naik suhunya, Nilotama membalas ciuman Wira tak kalah panas, dia mulai terbawa suasana.


Mmmmmmm......


Mmmmmmm......


"Kakak pelan-pelan, aku sulit bernafas," bisik Nilotama.


"Baiklah kita berhenti sebelum menjadi lebih panas," ucap Wira pelan, mulai menenangkan diri.


Nilotama bergeser mendekati Putri dan tidur di dekatnya.


Menjelang pagi ayam hutan berkokok bersahutan, burung-burung berkicau riang menyambut pagi.


Wira terbangun karna badannya terasa berat, ternyata kedua istrinya masih tertidur dengan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal,


Mereka tidak bisa tidur berjauhan ketika Wira ada didekatnya, aroma lembut wangi Cendana yang keluar dari tubuh Wira menyebabkan mereka selalu nyaman tidur sambil mendekap Wira.


Melihat istrinya masih tertidur Wira tidak mau bangun, khawatir akan menggangu tidur kedua istri cantiknya.


mendengar suara kicauan burung yang bersahut-sahutan diluar, Putri terbangun dari tidurnya, disusul Nilotama.


Wira membawa mereka ke Istana Giok untuk mandi dan berganti pakaian.


Selesai mandi Wira pergi kearah pohon Cendana Biru menemui Naga Kecil dan pengasuhnya,


"Salam Tuan," ucap Pria Tua yang merupakan pergantian wujud naga besar yang menjadi pengasuh dari Naga Kecil.


Naga Kecil menjilati Wira seperti biasanya ketika mereka bertemu.


"Aku mau membuat tempat tinggal buat kalian disini," ujar Wira


Boom... .


Sebuah Istana kecil terbuat dari Emas muncul berjarak dua ratus meter dari pohon Cendana Biru,


Selanjutnya Istana Emas ini kalian yang menempati ," ujar Wira pada Naga Kecil.


Naga Kecil menjilati tubuh Wira sebagai ungkapan rasa terimakasihnya.