Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 75. Mengunjungi Sekte Melati Hitam.



Di hutan dekat markas sekte Melati Hitam, Wira di interogasi oleh pemimpin rombongan.


"Siapa namamu Tampan?"


"Wira ... Prawira," Wira menegaskan dengan tenang.


"Apa tujuanmu masuk kehutan ini?" Pemimpin wanita memandang tajam seolah mencari kejujuran.


"Tidakkah Kakak lihat!, aku sedang berburu binatang siluman ... untuk aku jual daging dan mustikanya." Wira menunjukkan raut wajah serius sambil menunjukkan busurnya.


Pemimpin wanita memandang wira penuh selidik, "Geledah pakaiannya!" dengan lirikan matanya, memberi isyarat pada rekannya.


Seorang diantara mereka mendekati Wira, kemudian memeriksa sampai pakaian dalamnya. Wira agak risih digeledah oleh wanita cantik sampai menyentuh bagian-bagian sensitif di tubuhnya.


"Kakak Biru!, ada lima mustika, dalam pakaiannya!" Wanita yang menggeledah Wira memperlihatkan mustika yang di dapat dari pakaian dalam wira.


Malaikat Biru, demikian nama pemimpin rombongan yang menangkap Wira, mengambil mustika yang disodorkan oleh rekannya.


"Mustika kelas rendah!, tak berguna buat kita!" Malaikat Biru meremas kelima mustika itu hingga jadi bubuk dan membuangnya ke tanah.


"Gemitir!, jaga dia dengan baik, kita tunggu sampai malam baru bergerak!" Malaikat Biru memberi perintah pada Gemitir dan seluruh rekannya.


Gemitir gadis cantik yang menggeledah Wira tadi mengangguk sembari membawa Wira untuk mencari tempat duduk.


"Jangan melakukan hal yang tidak-tidak!, kalau tidak ingin aku laporkan pada Ketua!" Malaikat Biru memandang Gemitir yang terlihat menyukai Wira.


Gemitir diam tak menjawab, "Tidak senang melihat orang lain senang," gerutunya dalam hati.


Memanfaatkan waktu yang ada, Wira berkomunikasi melalui telepati dengan Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.


Wira tau, mereka sengaja bergerak menunggu malam, supaya para tawanan tidak bisa mengingat rute yang dilalui. Mereka sangat berhati-hati, walaupun tawanan dalam kondisi lupa ingatan.


Wira tidak terlalu perduli kapanpun mereka berangkat, dengan adanya Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi Wira bisa datang dan pergi ke markas sekte Melati Hitam.


Dengan membiarkan dirinya tertangkap, Wira berharap pengawal Serundeng Wangi akan membawa Wira pada tujuan utamanya tanpa buang energi, hitung-hitung dapat penunjuk jalan gratis.


Markas sekte Melati Hitam sudah pernah dimasuki oleh Naga Shesa bersama Tikus Hitam ketika menyelamatkan Mutiara Jelita, putrinya Pangestu. Hilangnya Mutiara Jelita menyebabkan sekte Melati Hitam lebih berhati-hati dan lebih mengetatkan pengamanan.


Menjelang tengah malam Malaikat Biru mengajak rekan-rekannya untuk bersiap-siap bergerak.


mereka berkomunikasi dengan bahasa sandi dengan team pengintai yang banyak tersebar disekitar hutan itu.


Wira memahami itu karna suara burung yang Wira dengar dari tadi memancarkan tenaga dalam. Dengan mengedarkan kesadaran jiwanya Wira dapat mengetahui keadaan lingkungannya.


"Ikat mereka semua,"


Malaikat Biru memberi instruksi. Rekan-rekannya bergerak cepat mengambil tali khusus yang mereka keluarkan dari bajunya.


Kemudian mengambil pil berwarna hitam dari balik bajunya, "Telan," dia membuka mulut Wira kemudian memasukkan pil itu ke mulut Wira.


Wira menelan pil hitam tanpa perlawanan, sesaat kemudian khasiat pil hitam mulai bekerja ditubuh Wira, "Racun Pelumpuh Saraf."


Pandangan Wira mulai kabur, tubuhnya sempoyongan, pikirannya kosong, sesaat kemudian tubuh Wira bereaksi menetralisir racun yang masuk ke tubuhnya.


"Gemitir!, pimpin jalan!" Gemitir Bergerak kedepan, rombongan mulai bergerak mengikuti Gemitir, Malaikat Biru berada paling belakang tepat dibelakang Wira.


Hampir empat jam mereka berjalan masuk ke tengah hutan kemudian mereka berhenti dekat sebuah pohon yang sangat besar diantara semak-semak rimbun.


"Cit ... Cit ... Cuit ... Cuit ... Cuit ... ."


Gemitir bersiul meniru suara burung beberapa kali. Tak berapa lama, suara yang sama terdengar samar, disusul suara kriiiit ... .


Setelah suara berderit berhenti, Gemitir memberi kode dengan tangan sambil bergerak diantara celah semak belukar.


Semua tawanan disuruh berjalan mengikuti Gemitir dengan dikawal oleh rekan-rekan Malaikat Biru.


Malaikat Biru menepuk punggung Wira, memberi isyarat untuk berjalan mengikuti yang lain.


Wira berjalan dengan pura-pura linglung sambil terus memperhatikan segalanya dengan teliti.


Didekat batu besar mereka berjalan menuruni tangga batu cadas.


"Rupanya batu besar itu adalah pintu masuk yang hanya bisa dibuka dari dalam," Wira mencerna situasi dengan cepat.


Menuruni hampir 300-an anak tangga, mereka dibawa memasuki lorong dengan tinggi hanya satu meter dengan lebar satu meter setengah, mereka semua berjalan merangkak. Lorong sempit itu hanya diterangi cahaya redup yang keluar dari permata yang sengaja dipasang di dinding lorong. Tiap-tiap sepuluh meter ada pintu besi yang tebalnya hampir 30 centimeter, cara membukanya dengan mengangkat pintu besi itu keatas.


Setiap ada pintu penghalang, Gemitir mengangkat pintu dengan posisi jongkok, kemudian memasang besi penyangga yang memang ada disana ditempat yang tersembunyi, terakhir Malaikat Biru menutup kembali pintu yang terbuka dengan mengambil besi penyangga dan menempatkan lagi ditempat yang hanya diketahui oleh penjaga dan petinggi sekte. Cahaya yang sangat minim tidak memungkinkan untuk melihat apa yang mereka lakukan.


Para tawanan hanya bergerak ketika mereka disuruh bergerak, lain halnya dengan Wira, dengan mengedarkan kesadaran jiwanya dia tau apa yang mereka lakukan.


Sekitar dua ratus meter mereka merangkak, dengan penghalang pintu besi yang lumayan banyak, akhirnya cahaya terang mulai terlihat di ujung lorong, ukuran lorongnya menjadi dua meter dengan lebar yang sama, mereka bisa berjalan dengan posisi berdiri. Tidak berapa jauh mereka berjalan akhirnya mereka keluar dari lorong.


Begitu keluar lorong, Wira sangat terkejut, dia berada di dinding sumur raksasa dengan diameter hampir 300-an meter, dengan kedalaman sulit diukur, yang secara alami di bentuk oleh alam. Di bawah sana tidak terlihat apapun karna terlalu dalam, ditambah lagi kabut tipis juga ikut menghalangi penglihatan.


Mereka kemudian dibawa menuruni tangga yang yang sengaja dibuat terlindung dari sisi curam, menutup kemungkinan terjatuh ke lubang yang sangat dalam, dan agar tidak terlihat dari sebelah atas sumur.


"Pantas sekte Melati Hitam, tak ada yang mengetahui markasnya, pengamanannya sangat baik, dan terlindung secara alami, selain Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi, hanya yang bisa terbang yang bisa lolos dari markas ini ... " Wira menyembunyikan rasa senangnya karna menemukan rencana yang bagus untuk tempat ini ... .


Hampir 10.000-an tangga mereka turuni hingga akhirnya ... Mereka sampai pada pemukiman yang sangat ramai. Banyak bangunan megah berdiri layaknya kota kecil. Hampir semua bangunan dibuat menjorok kedalam agar tidak terkena sesuatu dari atas, kecuali aula dan tempat latihan beladiri. Berbeda dengan diatas, didasar sumur raksasa ini diameternya hampir 1000-an meter.


"Ini benar-benar 'Kota Tersembunyi' yang merupakan kombinasi hasil kerja manusia dan alam," Wira berdecak kagum dalam hati sambil tetap memperlihatkan wajah linglung.