Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 10. Cendana biru



Pagi-pagi dipuncak Gunung Kembar, Wira dan kedua orangtuanya terlihat membicarakan sesuatu.


"Ayahanda...Ibunda...., aku mau mengembara untuk menambah pengetahuan dan meluaskan pengalaman ", kata Wira mohon restu pada orangtuanya,


"Wira...usiamu baru 16, lebih sedikit dan belum cukup kemampuan untuk menjaga diri, Bunda khawatir engkau celaka dalam pengembaraanmu," Ibundanya menyahut,


"Aku bisa menjaga diri dengan baik Bunda....percayalah," jawab Wira meyakinkan Ibundanya,


"Asal kamu berhati-hati Ayah tidak keberatan," Sang Rsi menimpali,


"Bunda tidak mengizinkan," Dewi Nila Candra bersikukuh pada pendiriannya.


Wira menyadari kecemasan Ibundanya, setiap ibu pasti tidak ingin anaknya celaka, dia ingin sedikit memperlihatkan kemampuan kultivasinya.


"Bunda selama ini aku selalu berlatih secara diam-diam, aku memiliki kemampuan untuk menjaga diriku," kata Wira sambil memperlihatkan kultivasinya untuk meyakinkan ibundanya tanpa maksud menyombongkan diri.


Kemudian Wira memperlihatkan sedikit kultivasinya, dia tidak ingin memperlihatkan kemampuan yang sesungguhnya sudah diatas ayahandanya


"Pendekar Suci tingkat 4,"


"Kamu sudah menyamai kakakmu Wiraloka, bahkan kamu melampaui Panjalu," seru Dewi Nila Candra takjub.


Wira menyamarkan kembali kultivasinya,


"Kenapa selama ini kamu menyembunyikan kemampuanmu Nak?"


"Karna aku tidak ingin terlihat aneh Bunda, kemampuanku tidak sesuai dengan usiaku,"


"Bunda yakin kamu memiliki kemampuan lain yang kamu sembunyikan," kata Ibundanya penuh selidik.


"Yang pasti aku akan kembali pada Bunda tanpa kurang suatu apa," kata Wira,


"Tetaplah berhati-hati dan selalu waspada Nak, jaga sikap, banyaklah berbuat kebajikan dan keadilan," Ayahandanya menimpali.


Wira bersujud pada kedua orang tuanya, Rsi Bergunatha memberi berkat sementara Dewi Nila Candra memeluk putra bungsunya erat seolah tak ingin berpisah.


Rsi Bergunatha mengeluarkan kepingan emas yang lumayan banyak dari cincin dimensinya untuk diberikan pada wira sebagai bekal dalam perjalanannya, tetapi Wira menolak dengan halus,


"Aku sudah punya cukup bekal disini Ayah," Kata Wira sambil menunjuk cincin dimensinya,


"Aku lupa kamu memilikinya bahkan lebih dari punyaku," Sang Rsi tertawa


"Baiklah Wira pamit," kata Mahawira seraya bergerak cepat tak ingin melihat ibundanya bersedih.


"Aku tidak tau kemana harus menuju lebih dulu, lebih baik aku terbang tinggi untuk melihat-lihat terlebih dulu," pikir Wira.


Kemudian dia terbang tinggi untuk melihat kondisi,


"Pulau ini kecil, ada beberapa gunung dan bukit serta ada tiga danau, pemukiman paling padat ada didekat danau, sawah-sawah terlihat dibeberapa tempat, masyarakat disini lebih banyak bertani, walaupun pulau kecil ini dikelilingi pantai yang landai tapi sedikit masyarakat yang jadi nelayan," Wira bergumam sendiri.


Wira mutuskan mengelilingi pulau dari pinggir pantai baru kemudian menjelajahi ketiga danau, dan kota-kota kecil yang terlihat.


Dengan ilmu meringankan tubuhnya Wira berlari cepat kemudian berhenti ketika mendekati perkampungan.


Wira berjalan menyusuri pantai disekitar pemukiman nelayan, paling banyak ada 15 pemukiman.


"Apa nama kampung paman ?" tanya Wira pada seorang pria yang terlihat kekar,


"Ini Dusun Watu Kurung Gusti," jawab nelayan sopan.


Melihat penampilan Wira yang tinggi tegap, dengan wibawa yang besar, nelayan itu berpikir Wira bukan orang biasa.


Sebagian besar masyarakat disini tubuhnya kecil-kecil paling tinggi hanya 170 cm untuk yang lelaki, bagi yang perempuan sekitar 155 sampai 160 paling tinggi, sangat jauh berbeda dengan ukuran tubuh Wira yang memang berasal dari suku jauh diseberang lautan, ditambah lagi selalu makan buah-buahan ajaib yang membuat kulitnya sangat halus seperti giok dengan warna coklat muda, dengan Tulang-tulang yang kokoh.


Penampilan Wira yang tinggi kokoh dan aura wibawa yang sangat besar membuat setiap orang yang berpapasan dengannya selalu membungkuk hormat.


Wira terus berjalan menyusuri pantai jika tidak ada pemukiman Wira menggunakan ilmu peringan tubuh dan berlari cepat.


Kehidupan masyarakat di pulau ini sangat damai hampir tidak ada gejolak, Kerajaan pasti memberikan perlindungan yang baik pada masyarakatnya, demikian Wira menyimpulkan.


Hampir sebulan Wira mengelilingi pulau, kadang-kadang terbang tinggi untuk meninjau lokasi, Wira tidak melihat kesulitan yang berarti pada masyarakat yang dijumpainya.


Aku sudah mengelilingi pulau ini selama sebulan semua pesisir sudah aku ketahui, saatnya melihat masyarakat di daerah pegunungan batin wira.


Dengan berlari cepat diatas pepohonan Wira tiba pada daerah pegunungan yang berhawa dingin Wira terus berjalan sampai daerah yang paling tinggi.


Wira menjumpai beberapa pemukiman, dari ketinggian Wira melihat danau yang pernah dia lihat ketika dia terbang tinggi memantau lokasi, kemudian Wira bertanya pada seorang gadis kecil yang dijumpai sedang membersihkan halaman.


"Permisi nona," tanya Wira pelan.


Gadis kecil terkejut, secepatnya membalikkan badannya, dengan terbelalak dan mimik wajah keheranan gadis kecil mematung,


"Ibuuuuu...., ada Dewa diluar kata gadis kecil manggil ibunya," seorang wanita muda keluar sambil memenangkan anaknya.


"Seorang laki-laki muda, kulitnya halus dan bercahaya, tampan dengan wibawa yang luar biasa, tapi kakinya menyentuh tanah."


Perempuan muda yang dipanggil ibu tersebut menganalisa pria didepannya.


"Gusti ada perlu apakah berkunjung ke pondok kami ?" tanya perempuan muda sopan,


"Aku hanya ingin sedikit bertanya, apakah nama dusun ini ?, Danau apa yang ada dibawah pemukiman ini ?" tanya Wira sambil menunjuk danau yang ada di bawah pemukiman.


"Ini Dusun Wanagiri Gusti, dan danau itu namanya Danau Buhuyan," jawab perempuan muda sambil tetap menunduk.


"Terimakasih jawab Wira," sembari melangkah pergi setelah mohon pamit pada perempuan muda.


Danau Buhuyan tidak begitu besar, airnya terlihat berwarna hijau karna ada banyak rumput dan ganggang hijau yang tumbuh di dasarnya.


"Danau ini airnya sangat tenang dan terlihat misterius, aku ingin menjelajahi Danau ini,"


Wira mulai menjelajahi pinggiran danau, dibagian selatan danau tidak terjal seperti bagian utara, Wira berjalan sampai bagian selatan danau.


Lama Wira diam merenungkan keadaan sekitarnya yang terkesan misterius,


"Tidak ada yang aneh terlihat disini tetapi kenapa danau ini nampak misterius," Wira duduk diam mengamati dengan memancarkan kesadarannya ke segala arah.


"Tidak ada sesuatu yang istimewa disini," kata Wira dalam hatinya.


Dia memutuskan menyelam untuk melihat keadaan didasar danau.


Wira mulai menyelam dengan hanya menggunakan pakaian dalam, sementara pakaian lainnya disimpan pada cincin dimensinya.


Kemudian mengitari danau sampai ke dasarnya, belum menemukan sesuatu yang ganjil yang menjadi alasan kemisteriusan danau ini.


Kelelahan membuat Wira memutuskan untuk naik kepermukaan, sambil istirahat dia memikirkan kembali apa yang dia lihat disisi bagian dalam dan dasar danau, tapi dia masih tidak menemukan sesuatu yang aneh, dia memutuskan untuk menyelam lagi dan memeriksa lebih teliti.


Wira menyelam kembali dari sisi bagian selatan meneliti dengan seksama terus kebagian barat kemudian lanjut kebagian utara danau dibagian timur dia memperhatikan batu besar yang ada disasar danau disisi sebelah timur


"Batu ini sudah dapat aku periksa tadi tidak ada keanehan."


Batu dengan ukuran sebesar rumah dengan warna hitam dan ditumbuhi banyak lumut berwarna hijau, iseng Wira Menggeser batu hitam itu sampai dua meter tau-tau kaki Wira terperosok, Wira melihat ada lubang, digesernya lagi batu hitam itu lebih jauh agar seluruh lubang terlihat.


"Lubang seukuran dua meter ada dibawah batu ini pasti bukan suatu kebetulan ada orang yang sengaja menutupinya," pikir Wira


Dengan rasa penasaran yang besar Wira menyelam kedalam lubang itu, makin kedalam makin gelap sampai tak terlihat apapun saking gelapnya.


Wira mengambil batu cahaya dari cincin dimensinya, sekitar dua puluh meter menyelami lubang vertikal, kemudian lubang itu berbelok horizontal kearah timur, Wira terus menyusuri, setelah beberapa meter mulai terlihat ada cahaya redup Wira memperhatikan ternyata didinding lobang ada batu-batuan yang memancarkan cahaya, Wira memasukkan kembali batu cahaya miliknya ke cincin dimensinya.


Selanjutnya menyusuri lobang horizontal sejauh seratus meter Wira menemukan tangga terbuat dari batu, naik sekitar seratus tangga Wira menemukan permukaan tanah yang kering.


Ketinggian ruangan ini lebih tinggi dari air danau makanya tidak digenangi air.


Disebelah timur ruangan ada celah sempit seukuran satu meter Wira berjalan kesana dan menemukan dimensi alam gaib.


Wira memasuki dimensi alam gaib itu tanpa hambatan apapun, bau harum menerpa hidungnya, sejauh mata memandang hanya ada rumput pendek dan beberapa tanaman rambat.


Satu-satunya pohon berjarak dua kilometer terlihat oleh Wira, kemudian dia mendekati pohon dengan ukuran sangat besar dan lumayan tinggi,


"Rupanya bau harum terpancar dari pohon ini,"


Dibalik pohon ada kerangka manusia yang sudah sangat lama meninggal, itu terlihat dari bajunya yang sudah lapuk dan kerangka tulangnya juga sudah ada yang lapuk.


"Orang ini sudah meninggal ratusan tahun yang lalu, maaf aku tidak bermaksud untuk mengganggu rasa penasaranku yang membawa diriku sampai kesini," kata Wira,


Wira kemudian menguburkan jasad tersebut dengan layak,


"Aku tidak tau hubunganmu dengan pohon ini, tapi izinkan aku untuk mengambil pohon ini untuk ditanam diruang Dimensi jiwaku,".kata Wira sambil meneliti pohon itu lebih lanjut, sebuah gulungan kulit hewan terlihat terjepit di celah-celah diantara akar pohon itu, Wira mengambil gulungan kulit tersebut kemudian membersihkan dengan tangannya.


Ada tulisan dengan huruf kuno pada gulungan kulit, "Siapapun yang berjodoh dengan buah Cendana biru pastilah manusia agung, hanya orang yang berilmu sangat tinggi yang mampu mengambil manfaat darinya," setelah membaca tulisan itu Wira kemudian melompat keatas pohon untuk menemukan buah Cendana Biru.


Sesuai namanya buah Cendana biru berwarna biru terang bentuknya seperti kristal dengan ukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa,


Wira mencoba memetik buah itu, rupanya buah itu melekat kuat pada tangkainya, Wira mengerahkan tenaganya mencoba kembali memetik buah itu tapi tetap tiada hasil, Wira ingin memakai kapak Parasu tetapi takut akan merusak buahnya.


Wira turun kebawah dan mulai duduk bersila mengambil sikap Samadi, menarik seluruh panca inderanya dan memasuki kesadaran Samadi, kemudian Wira melihat buah Cendana biru bercahaya terang kemudian memasuki tubuhnya, Wira merasakan energi yang sangat kuat memasuki tubuhnya, energi itu diserap kedalam dantiannya.


Booommm,


Wira naik ke tingkat tiga pendekar dewa bumi, setelah menyerap energi besar yang memasuki tubuhnya selama lima jam, perlahan Wira membuka matanya, hidungnya merasakan bau harum cendana yang sangat lembut terpancar dari tubuhnya.


Wira masih duduk untuk berkultivasi menyerap energi alam yang sangat berlimpah yang ada di dimensi alam gaib ini.