
"Sekarang tugas pertamamu adalah membawa Jenderal Muda yang menjadi bawahanmu, masuk keruangan ini satu persatu, apa kamu faham maksudku ?" tanya Wira.
"Baik Tuan Muda," ucap Jenderal Tumbak Bayuh hormat,
"Kalau ada sediakan ruangan yang agak luas," Wira menambahkan.
"Bagaimana jika ruang latihan Tuan Muda?"
"Boleh, ayo kita kesana, jawab Wira sembari merubah tampilannya kembali seperti Kirani.
Untuk jaga-jaga Kirani membawa Sesha ikut keruang latihan, sampai diruang latihan yang tertutup Kirani kembali ke wujud semula sebagai Wira, karena mereka yang terkena Segel Jiwa, harus tahu wujud orang yang memasang Segel Jiwa tersebut.
"Aku tunggu disini, nanti suruh anak buahmu masuk satu persatu masuk ruangan, katakan saja pada mereka, bahwa mereka dapat sumberdaya langka untuk meningkatkan kekuatan," kata Wira sambil memberi satu Apel Emas pada Jenderal Tumbak Bayuh.
Tak lama kemudian Jenderal Tumbak Bayuh mengumpulkan sepuluh Jenderal Muda yang menjadi bawahannya di Benteng Utara.
"Kalian semua aku kumpulkan disini karna ada anugrah dari Raja Durgati berupa sumberdaya langka untuk menaikkan kekuatan kalian semua, sebentar lagi kalian masuk satu persatu keruang latihan untuk mendapatkan buah Apel Emas seperti yang aku punya, ujar Jenderal Tumbak Bayuh sambil memperlihatkan Apel Emas ditangannya.
"Kenapa satu persatu, kenapa tidak sekaligus?" tanya salah satu Jenderal Muda,
"Karna kalian langsung dibantu untuk menyerap, esensi energi yang terkandung dalam buah Apel Emas ini," ujar Jenderal Tumbak Bayuh memberi pemahaman.
Sementara itu Wira menotok setiap Jenderal Muda yang masuk keruang latihan, kemudian memasang segel jiwa dan meneteskan darahnya ditengah-tengah segel jiwa pada sepuluh Jenderal Muda bawahan Jenderal Tumbak Bayuh.
Sepuluh Jenderal Muda itu mulai duduk untuk menyerap energi luar biasa yang diakibatkan oleh Esensi darah Wira yang masuk kedalam tubuhnya.
Selesai menyerap energi mereka semua bersujud pada Wira dengan penuh hormat, Wira memberi mereka masing-masing dua Apel Emas untuk dikonsumsi supaya kekuatan mereka naik dengan cepat.
Setelah menyerap esensi darah Wira dan Mengkonsumsi dua Apel Emas yang diberikan Wira, sepuluh orang Jenderal Muda naik menjadi Pendekar Suci tingkat 6.
"Paman tolong panggil Jenderal Tumbak Bayuh kesini," ujar Wira pada Sesha.
Tidak berapa lama Jenderal Tumbak Bayuh bersama dengan Sesha sudah ada di ruang latihan.
Wira memberi satu peti besar buah Apel Emas pada Jenderal Tumbak Bayuh,
"Besok aku akan pergi, kalian berlatih baik-baik dengan mengkonsumsi buah Apel Emas itu supaya kekuatan kalian cepat meningkat, aku akan membutuhkan kalian pada saatnya nanti, mulai sekarang kalian hanya patuh kepadaku, jika aku tidak ada maka Jenderal Tumbak Bayuh yang menjadi pemimpin yang harus kalian patuhi !" ujar Wira,
"Baik Tuan Muda," jawab mereka serempak.
"Sekarang lakukan kegiatan seperti biasa seolah-olah tidak terjadi perubahan apapun disini," ujar Wira.
Selesai memberikan pengarahan Wira membubarkan mereka untuk kembali pada kegiatan mereka masing-masing.
Keesokan harinya Kirani meninggalkan Benteng Utara di iringi oleh Jenderal Tumbak Bayuh dan sepuluh Jenderal Muda bawahannya dengan penuh hormat.
"Tidak biasanya Jenderal kita memperlakukan wanita seperti itu, dia biasanya selalu memandang rendah semua orang apalagi wanita," ucap salah satu prajurit.
"Diamlah !, jika beliau mendengar kepalamu bisa lepas," jawab temannya.
Jenderal Tumbak Bayuh mengumpulkan seluruh prajurit setelah kepergian Kirani dari Benteng Utara
"Dengarkan baik-baik perintahku !, barang siapa yang melakukan tindakan apapun tanpa seijinku, aku akan memberlakukan hukum penggal kepala. Karna dalam situasi panas yang terjadi sekarang ini, jika kalian melakukan sedikit kesalahan akibatnya akan merugikan kita secara keseluruhan," ujar Jenderal Tumbak Bayuh tegas.
"Baik Jenderal"
Ucap seluruh prajurit dengan patuh.
Setelah itu Jenderal Tumbak Bayuh memberi perintah kepada sepuluh Jenderal Muda agar mengontrol dengan disiplin seluruh Komandan yang menjadi bawahannya, jika ada yang melanggar langsung penggal supaya menjadi pelajaran bagi yang lain.
Beberapa hari kemudian Wira kembali ke Benteng Utara dan diperkenalkan oleh Jenderal Tumbak Bayuh kepada seluruh prajurit sebagai ahli strategi perang yang ditugaskan di Benteng Utara dan bertugas mendampingi Jenderal Tumbak Bayuh.
Di dalam Benteng Utara ada beberapa komandan yang prilakunya tercela dan sangat arogan karna merasa keluarga bangsawan yang satu marga dengan Raja Durgati, terkadang mereka mengabaikan atasan karna merasa keluarga raja, Jenderal Muda juga sering terlihat mendiamkan saja perilaku mereka karna sungkan dengan status kebangsawanan mereka.
Sementara itu di Benteng Utara, Wira memanfaatkan waktunya untuk berlatih membuat pil dan ilmu menempa, dia tidak mengijinkan siapapun untuk mengganggu saat berlatih, sudah hampir dua tahun enam bulan wira berlatih di Dunia Dimensi Jiwa, sama dengan tiga puluh hari di dunia luar, sekarang Wira sudah menguasai ilmu membuat berbagai jenis pil, dan sudah mampu membuat senjata pusaka level Surgawi.
Putri Citra Sasmita sudah mencapai level Pendekar Suci tingkat 5, dengan pondasi tubuh yang lumayan tinggi, sedangkan Nilotama Pendekar Suci tingkat 3, pengikutnya Pendekar Suci tingkat 2, paling rendah Pendekar Raja tingkat 9 puncak yang sedikit lagi naik menjadi Pendekar Suci tingkat 1, Sumberdaya yang melimpah dan pasilitas latihan yang serba luar biasa yang disediakan oleh Wira yang menyebabkan mereka naik tingkat dengan pesat dalam waktu tiga tahun, setara 36 hari di dunia luar.
Wira ingin pergi ke Ibukota Kerajaan Malawa Dewa dalam beberapa hari kedepan untuk mengambil beberapa pesanan di Rumah Pelelangan Istana Salju, tapi sebelum itu Wira ingin mengenal dengan cermat tentang situasi di Benteng Utara, disamping ingin mencari beberapa orang yang pernah dilepaskan dulu saat membantu Kirani melawan prajurit dari Benteng Utara.
Pagi ini Wira berjalan-jalan disekitar Benteng untuk melihat situasi di benteng secara langsung. Ketika melihat restoran Wira mampir karna biasanya restoran tempat yang paling cocok untuk mendapatkan informasi.
"Tuan ingin memesan apa ?, tanya pelayan ramah,
"Berikan makanan dan minuman spesial yang ada di restoran ini," jawab Wira, sambil mencari tempat yang strategis.
Sambil menunggu hidangan Wira menajamkan pendengarannya untuk menangkap informasi yang dia anggap penting, dibagian utara dari tempat duduk Wira ada beberapa orang yang berbicara tentang dirinya.
"Jenderal Tumbak Bayuh terlalu melebih-lebihkan anak muda yang katanya ahli strategi yang ditempatkan oleh Pangeran Gantar di Benteng ini, ujar salah satu komandan prajurit yang kelihatan tidak terlalu suka dengan Wira.
"Pelankan suaramu Munding Pati, dia sedang ada di sini, ucap temannya sambil melirik kearah Wira,
"Jika dia tersinggung itu lebih baik, supaya Jenderal Tumbak Bayuh terbuka matanya," jawab komandan prajurit yang disebut Munding Pati.
Wira tidak ingin membuat keributan di tempat yang ramai, hingga dia memilih diam saja sambil menyantap hidangan yang disajikan oleh pelayan.
Tetapi Wira sudah mencatat nama-nama yang harus dia singkirkan agar tidak menggangu rencana besarnya.