Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 47. Menemukan gulungan Jurus Unik



Ruang bawah tanah, berisi beberapa gudang penyimpanan, gudang yang ditemui Wira tadi sudah dikuras habis isinya, Wira masih terus menyusuri ruang yang lain, diujung lorong ruang bawah tanah ada satu gudang kecil yang sudah sangat kotor penuh dengan sarang laba-laba, Wira masuk tidak ada barang berharga yang dia temukan selain gulungan-gulungan jurus yang ditulis pada bambu.


"Gudang ini sudah tidak pernah dipakai dalam waktu yang sangat lama, gulungan bambu yang ada disini hampir semuanya lapuk," gumam Wira.


Dia mengambil satu gulungan yang kotor namun tidak begitu lapuk, ternyata bukan gulungan bambu, Wira menepuk-nepuk gulungan itu untuk menghilangkan debu yang sangat tebal yang menempel digulungan itu.


"Ternyata gulungan kulit," batin Wira sambil membuka gulungan itu.


Wira tidak bisa membaca isi yang ada pada gulungan itu, Wira membuka lagi lembar yang lain, disana ada gambar tubuh manusia dengan titik-titik akupresur di sekujur tubuh, ada sepuluh lembar isi gulungan itu Wira memasukkan kedalam cincin fimensinya.


Setelah tidak mendapatkan apa-apa lagi diruang bawah tanah Wira keluar menemui Singa Emas,


Melihat Wira datang Singa Emas mendekat dan menjilatinya.


"Groorh...groorh..."


"Halah ngomong apa kamu ini,"


"Kita istirahat sebentar disini Singa Emas," kata Wira melalui telepati sambil memasang Aray Pelindung.


Wira masuk ke Dunia Dimensi Jiwa bagian barat, dia menemukan Prabawangsa dan Dewa Senyum sedang bercakap-cakap.


"Selamat datang tuan," kata Dewa Senyum membungkuk hormat di ikuti Prabawangsa.


"Paman sudah pulih seperti semula," Wira memperhatikan tubuh Dewa Senyum yang sudah kembali normal.


"Paman Prabawangsa dan Paman Dewa Senyum, aku berharap paman berdua bisa mendidik anak-anak ini budi pekerti disamping latihan beladiri dan kultivasi, untuk menunjang latihan mereka agar semakin cepat berkembang suruh mereka berkebun, menanam tumbuhan ajaib ini," kata Wira sambil menyerahkan bibit tanaman ajaib yang sangat banyak dari cincin dimensinya.


"Nanti setelah tanaman ini tumbuh dan berbuah aku akan menjelaskan kegunaan dari tanaman ini," icap Wira melanjutkan.


"Paman !, Aku menemukan gulungan ini di gudang yang sudah tak terpakai diujung lorong," Wira menyodorkan gulungan kulit yang dia dapatkan.


"Tidak ada yang bisa membaca gulungan ini semenjak didapatkan secara tidak sengaja oleh salah satu tetua sekte, itulah sebabnya di taruh bersama gulungan-gulungan bambu lainnya yang sudah disalin menjadi kitab," Dewa Senyum menjelaskan.


"Boleh paman melihatnya," Prabawangsa penasaran.


"Owh ini tulisan sandi, kebetulan paman bisa membacanya, kalau tuan mau biar paman menterjemahkan dalam tulisan biasa, paling lama sebulan sudah selesai," Prabawangsa menjelaskan.


"Baiklah Paman," Wira memberi gulungan kulit itu pada Prabawangsa.


"Gunakan fasilitas yang ada untuk meningkatkan kultivasi dan melatih anak-anak sesuai dengan bakatnya," kata Wira pada Dewa Senyum dan Prabawangsa, kemudian melesat pergi menuju Istana Giok.


Sampai di Istana Giok Wira menanyakan keberadaan Putri dan Nilotama pada pengikut istrinya,


"Yang Mulia Putri dan Yang Mulia Nona Kecil berada di menara pelatihan jiwa," ucap salah satu pengikut istrinya.


"Baiklah"


Wira keluar dari Dunia Dimensi Jiwa, dia mendapati Singa Emas sedang meringkuk tidur dalam ukuran normalnya, padahal Wira ingin mengajak Singa Emas untuk melihat isi cincin dimensi milik majikan Singa Emas yang pertama yang belum sempat dilihatnya.


"Mungkin dia kelelahan setelah bertempur,"


Wira menunggu sampai Singa Emas bangun sendiri, dia duduk berkultivasi sambil menunggu Singa Emas bangun.


"Groaarrh..... groaarrh......"


"Rupanya kamu sudah bangun !, Singa Emas mari kita lihat apa saja yang ada didalam cincin dimensi majikan pertamamu," Wira mengeluarkan cincin dimensi yang diambil dari majikan Singa Emas yang pertama.


Wira menemukan banyak barang didalam cincin dimensi, ada Batu Sihir tingkat Ilahi, sebanyak satu juta peti ukuran besar, melihat ukuran peti itu Wira memperkirakan masing-masing peti berisi lima juta batu sihir.


"Wow, ada banyak makanan mu disini," Wira memberi Singa Emas lima buah Batu Sihir.


"Krauuk.... krauuk.... krauuk...."


Singa Emas langsung mengunyah Batu Sihir yang diberikan oleh Wira.


"Energi yang sangat besar terkandung di dalam Batu Sihir ini," pikir Wira.


Wira mencoba menyerap energi yang ada didalam batu sihir, beberapa saat kemudian Wira berhenti menyerap energi yang ada didalam Batu Sihir karna ada penolakan dari tubuhnya.


"Mungkin tidak cocok dengan tubuhku," batin Wira.


Wira melihat lagi, kedalam cincin dimensi itu, ada bermacam macam pil,


Wira sangat gembira melihat banyak benda pusaka yang sangat dia inginkan, ada Tungku Eliksir, Tungku Penempa untuk mencairkan bahan senjata, ada Palu Petir untuk menempa senjata Pusaka lengkap dengan Landasan Tempa. Semuanya Pusaka Ilahi tingkat tinggi. Ada juga bahan-bahan pembuatan obat yang sangat langka, bahkan ada bibit tanaman ajaib berbagai jenis.


Wira tidak bisa menahan kegembiraannya, dia berteriak kegirangan,


"Secepatnya aku akan berlatih membuat pil dan membuat senjata pusaka sendiri," gumam Wira dengan mimik bahagia tersirat jelas diwajahnya.


Melihat Singa Emas masih menyerap energi dari Batu Sihir yang dimakannya, Wira masuk ke dalam Dimensi Jiwanya menemui pengikut istrinya, dan memberikan bibit tumbuhan ajaib yang didapatnya dari cincin dimensi tuannya Singa Emas.


"Tanam ini disekitar Danau Emas, supaya tumbuh dan berevolusi," ucap Wira.


"Baik Pangeran," jawab pelayan sopan, kemudian mengajak teman-temannya untuk membantu menanam bibit yang diberikan Wira.


"Danau dengan luas mencapai seratus hektar, jika ditanami semua pinggirannya sampai selebar seratus meter keliling, aku tidak akan pernah kekurangan tanaman ajaib dan makin lama akan semakin luas karna bibitnya akan semakin banyak," Wira menghayal dalam hati, melihat koin emas dalam tanaman ajaibnya.


Wira melihat dengan kesadaran Ilahi diluar sana Singa Emas sudah selesai menyerap energi dan sedang ribut kesenangan karna ada peningkatan energi yang cukup besar dalam dirinya.


"Groaarrh.... groaarrh...."


Wuuuusss...


Wira keluar dari Dunia Dimensi Jiwa dan berada disamping Singa Emas


"Halah.... ngomong apa lagi kamu ini"


"Ayo kita kembali ke kota Mojo Agung untuk mengambil pakaian yang kita beli," ucap Wira pada Singa Emas.


"Ini kenapa gak dihabisi...?" Wira mengambil dan memasukkan tiga butir batu sihir yang tidak dimakan oleh Singa Emas.


"Groaarrh.... groaarrh"


"Ya.....ya...."


Jawab Wira pura-pura mengerti, sembari meloncat ke punggung Singa Emas dan telentang bersantai, ada kesempatan empat jam untuk bersantai, jika Singa Emas terbang dengan kecepatan penuh menuju kota Mojo Agung.


Setelah satu jam Wira rebahan dia bangun ingin melihat keadaan.


"Eh..., kenapa pemandangannya beda ?, Wira memperhatikan dengan teliti.


"Aiissh..., Kamu salah arah," kata Wira melalui telepati,


"Raja ini sudah benar menuju utara," jawab Singa Emas, tak terima disalahkan.


"Aiissh....., Aku bilang kembali ke Kota Mojo Agung ngambil pesanan," kata Wira.


Singa Emas bermanuver 180 derajat,


"Raja tadi cuma kumur-kumur gak jelas mana aku ngerti, coba kalau perintah melalui telepati kan gak buang-buang waktu dan energi, kirain kita langsung ke utara," gerutu Singa Emas dalam hati.


Wira mengeluarkan Tikus Hitam, Bunglon Pelangi dan Srigunting Perak,


"Srigunting perak..., mana anak buahmu kenapa lama sekali kembali dari Kota Awan ?" tanya Wira pada Srigunting Perak melalui telepati


"Itu dia dileher Singa Emas sedang tidur santai," jawab Srigunting Perak,


"Aiissh...., kenapa anak buahmu tidak lapor !?" tanya Wira,


"Dia sudah lapor pada hamba," jawab Srigunting Perak,


"Lantas kenapa kamu tidak lapor ?"


"Raja sibuk bertempur, kemudian kita menuju Lembah Kabut Racun, Raja bersama Yang Mulia Permaisuri dalam Aray Pelindung dipunggung Singa Emas, sampai di lembah Kabut Racun Raja memasukkan hamba ke Hutan Kristal, sekarang baru hamba dikeluarkan," jawab Srigunting Perak menjelaskan.


"Kenapa aku jadi pelupa begini ya ?, mungkin karna terlalu banyak pikiran," herutu Wira dalam hati.


"Raja, pesan sudah disampaikan, barang yang dikirim sudah diterima oleh Kepala Kota Awan secara langsung," kata Srigunting Perak memberi laporan sambil menyerahkan kertas kecil pada Wira, balasan dari Mahardika.


Wira menerima kertas kecil yang diserahkan kepadanya, membaca kertas kecil itu kemudian membakarnya dengan api biru.


Selesai dengan laporan Srigunting Perak Wira Memberi perintah pada Tikus Hitam agar berhenti di daerah yang sepi didekat Kota Mojo Agung.


Wira kemudian memasang Aray Pelindung dan melanjutkan istirahat.