
Sementara Wira berlatih dalam dimensi jiwanya untuk memperdalam aray, Sarwadahana pergi menghadap raja, melaporkan segala hal tentang Wira.
"Apa pendapatmu tentang Wira," tanya Raja pada Sarwadahana.
"Maaf yang mulia, ini pendapat pribadi hamba"
ijinkan hamba menyampaikan, tentu analisa hamba sangatlah dangkal karna kebodohan hamba,
"Lanjutkan," kata Raja
"Anak muda ini pembawaannya tenang, tubuhnya selalu memancarkan bau harum cendana yang lembut, terlihat seolah tidak pernah takut akan apapun, wibawanya sangat besar, jika diperhatikan dengan teliti badannya terlihat seperti memancarkan cahaya yang sangat redup, dan hamba sangat yakin dia berilmu tinggi namun memiliki kemampuan untuk menyamarkan kultivasinya, awalnya hamba menduga dia seorang kultivator senior yang menyamar namun setelah hamba cek tulangnya, ternyata dia memang masih muda,"
"Kalau betul seperti dugaanmu sebaiknya kamu jangan pernah menyinggung anak muda ini, Panglima Ringkin juga menyampaikan hal yang hampir serupa dengan dugaanmu."
"Yang mulia, Wira besok berencana akan ikut Berpartisipasi memeriahkan pertandingan," Sarwadahana menambahkan.
"Baiklah.... lanjutkan tugasmu," kata Raja memberi perintah.
Di istana dalam ruang dimensi jiwanya Wira terus mendalami berbagai bentuk aray dan belajar menciptakan bermacam-macam aray ratusan aray tingkat dewa sudah ia kuasai.
Hampir dua belas hari Wira berada di dimensi jiwanya, hari ini akan keluar setelah mandi dan sarapan buah Apel Emas kegemarannya.
Wira yakin diluar sekarang masih pagi dia tidak mau ditunggu oleh Sarwadahana dan Nilotama, Wira bergegas menuju ruang tamu, ternyata belum ada siapapun diruang tamu.
"Ini masih sangat pagi Tuan Muda, nona muda mungkin masih membersihkan diri mohon di tunggu beberapa saat," kata seorang pelayan menjelaskan.
Tidak berapa lama pelayan lainnya datang membawa minuman dan cemilan,
"Silahkan dinikmati Tuan Muda," pelayan mempersilahkan.
"Wira...,rupanya tidurmu nyenyak, sepagi ini sudah menunggu disini," sapa Sarwadahana,
"Panglima sudah menunggu diruang makan, tuan berdua dimohon sarapan bersama" kata
seorang pelayan menyampaikan pesan.
Mereka berjalan mengikuti pelayan keruang makan, pelayan mengambilkan nasi dan lauk sesuai permintaan masing-masing,
"Wira makan yang banyak....., bukankah kamu berniat ikut bertanding hari ini?" Dewi Damayanti menawarkan daging dan sayuran pada Wira.
"Ini sudah cukup Bibi"
"Benar kata Ibunda, kakak Wira harus makan banyak, tenaganya supaya besar nanti saat bertarung," Nilotama menambahkan.
"Wira menambahkan sayuran kepiringnya agar tidak menyinggung perasaan tuan rumah."
Selesai sarapan Wira mohon izin untuk berangkat ke arena pertandingan
"Berhati-hatilah Wira, jangan terlalu memaksakan diri !, jika lawanmu terlalu kuat sebaiknya mundur saja," Panglima Ringkin memberi saran, didalam hatinya panglima Ringkin mulai menaruh simpati pada Wira karna pembawaannya yang rendah hati dan beretika, dia tidak ingin melihat Wira terluka parah.
"Saran Paman Panglima pasti saya ingat," balas Wira dengan sopan.
Esok harinya......
Wira mencari tempat yang strategis untuk menonton pertandingan, hari ini arena yang digunakan hanya satu saja, karna yang akan bertanding adalah para komandan prajurit yang sudah mencapai level Pendekar Raja keatas yang mungkin mendapat promosi menjadi Jenderal Muda.
Banyak pembesar yang hadir untuk menonton pertandingan, Panglima Ringkin dan 4 jenderal utama, serta 20 jenderal muda hadir, banyak menteri yang hadir dan pembesar lainnya.
"Yang Mulia Raja telah tiba," seorang prajurit berteriak mengumumkan kehadiran Raja Wreksasena, Wira terkejut melihat gadis muda yang duduk disamping Raja adalah orang yang dilihatnya ditepi Danau Tambalingan.
"Ini tidak biasa, sangat jarang raja hadir menyaksikan pertandingan, bahkan hampir seluruh pembesar turut hadir," kata penonton yang duduk disamping Wira.
"Putri sangat cantik....., siapa yang beruntung bisa berjodoh dengan putri,"
para penonton berbisik satu dengan yang lain,
"Putri seorang genius langka, diusianya yang baru menginjak 17 tahun sudah mencapai level Pendekar Raja tingkat 5," penonton yang lain menambahkan dengan penuh kekaguman.
Wira tersenyum, "Jika mereka tau aku mencapai level Pendekar Dewa Bumi tingkat 3 di usiaku 16 tahun mereka mungkin muntah darah,"
"Kalian boleh mulai pertandingannya," titah Raja pada Panglima Ringkin yang saat ini memimpin acara.
Panglima Ringkin menyuruh seorang jenderal utama untuk menjadi wasit dalam pertandingan.
Jenderal Jaya Kathong segera meloncat ke arena, setelah memohon izin Raja Wreksasena, Jenderal Jaya Kathong mengingatkan kembali mengenai peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap orang yang ikut bertanding.
Cupak Basur, salah satu prajurit berpangkat komandan naik memasuki arena, dengan tubuh pendek berbahu lebar kekar, lengannya besar dengan otot-otot yang menonjol, memakai baju kulit harimau tanpa lengan, berkumis tebal dengan bulu janggut yang menyatu dengan jambangnya yang brewok, dengan penampilan yang seperti itu, Cupak Basur terlihat sangat sangar.
Setelah memberi hormat kearah podium, tempat Raja duduk dengan para pembesar, Cupak Basur memberi hormat pada Jenderal Jaya Kathong yang menjadi wasit pertandingan.
"Sardula.....,jika kamu memiliki keberanian aku ingin sedikit bermain denganmu," Cupak menantang Sardula yang seorang komandan juga seperti dirinya. Cupak Basur sering merasa jengkel dengan Sardula karna sering mengejek dirinya dengan menyebut "Komandan Gorila".
"Sekarang kesempatan untuk membalas keusilanmu," Cupak membatin.
Mendapat tantangan Cupak, Sardula segera naik kearena, "Kamu terlalu serius menanggapi candaanku teman," Sardula sadar yang membuat Cupak menantangnya karna keusilannya yang terlalu sering.
Sardula menjura kearah podium seperti yang dilakukan Cupak,
"Kalian boleh mulai" wasit mempersilahkan.
Cupak menyerang Sardula dengan kecepatan penuh mengincar lutut Sardula, diluar kebiasaan, para petarung biasanya mengincar titik vital lawannya, seperti uluhati, perut, kepala atau bahu untuk melumpuhkan lengan lawan.
Sardula terkejut serta merta dia menarik kakinya kanannya kebelakang,
Cupak melanjutkan serangannya memukul kearah perut,
Sardula menangkis dengan tangannya serta mundur selangkah, melihat Sardula menangkis dan menarik kaki kirinya, Cupak menarik pukulannya.
"Turun tujuh.....," Cupak menjatuhkan dirinya menangkap pergelangan kaki kanan Sardula,
"Tendangan belalang...," Cupak melakukan tendangan kearah rahang Sardula seperti belalang.
Dengan kaki kanannya yang sudah tertangkap Sardula kehilangan keseimbangan, membuat tendangan Cupak mendarat telak dirahangnya,
Sardula melayang keatas, untung masih sempat mengalirkan tenaga dalam kerahangnya, kalau tidak...... rahang Sardula bisa pecah, dengan keadaan yang sudah tidak seimbang, Cupak melepaskan tendangan keras kearah perut,
Brug.......
Sardula mental keluar arena, walaupun tidak terluka parah, karna sudah keluar arena maka wasit menyatakan kemenangan untuk Cupak.
Melihat Cara Cupak mengalahkan Sardula dengan jurus yang sedikit aneh, penonton berdecak kagum sambil meneriakkan namanya.
"Mantap Komandan Cupak," teriak anak buah Cupak,
"Luar biasa, Rupanya Komandan Cupak sudah mendapat ilmu baru," ujar salah seorang bawahannya
Bisa dipastikan komandan Sardula tidak akan berani lagi macam-macam sama komandan kita, kata anak buah Cupak dengan perasaan penuh kebanggaan, "Divisi kita akan sangat diperhitungkan," kata salah satu anak buah Komandan Cupak.