
Wira bersama kedua istrinya bercengkrama di gasebo apung ditengah danau.
Putri dan Nilotama sangat heran dengan kemampuan Wira yang bisa membuat bangunan dengan cara yang ajaib.
"Kakak bagaimana caranya bikin bangunan jadi dalam sekejap, ajari aku," Nilotama memohon.
"Itu bukan Kakak yang buat, barangnya memang sudah ada, kakak hanya mengambilnya dari Cincin Dimensi Samudra dan menggunakan kekuatan jiwa untuk membuatnya," Wira menjelaskan.
"Bagaimana caranya melatih kekuatan jiwa Kanda," Putri bertanya antusias,
"Nanti, setelah pondasi fisik kalian sudah kuat, kalian berlatih pada bangunan yang bertingkat dua puluh satu, mulai dulu dari bawah, kalian membutuhkan waktu enam tahun berlatih dibantu dengan buah-buahan ajaib yang ada disini, untuk menguatkan tulang, otot, kulit, serta memurnikan sumsum dan darah, setelah pondasi fisik kalian kuat Kanda akan latih kalian dengan jurus-jurus tingkat dewa, sambil melatih kekuatan jiwa, nanti kalau jiwamu sudah kuat Kanda akan melatih kalian dengan jurus tingkat Ilahi," ujar Wira pada kedua istrinya.
Jika tidak dibantu dengan tanaman ajaib dan air suci yang ada di Danau Emas, membutuhkan waktu enam puluh tahun untuk mencapai Pendekar Suci tingkat awal, kalau mendapat sumberdaya yang cukup bisa lima puluh tahun, kalian disini hanya sepuluh tahun saja, Kanda jamin bisa mencapai Pendekar Suci tingkat 9, bahkan bisa jadi sampai Pendekar Dewa Bumi.
"Sepuluh tahun kami tidak bertemu, siapa-siapa ?, Nanti tidak ada yang mengenali kami !" Seru Nilotama.
"Adik, sepuluh tahun disini sama dengan empat bulan di dunia luar, itu bukan waktu yang panjang," kata Wira menjelaskan dengan telaten
"Benarkah.....?!"
"Tentu..., Kakak pasti sering datang kesini setiap ada kesempatan."
"Sekali-sekali kami juga ingin keluar Kanda, untuk melihat dunia luar" ujar Putri.
"Kanda pasti membawa kalian keluar jika memungkinkan, wilayah kita sedang tidak aman, banyak perampokan dimana-mana, perang antar sekte banyak terjadi. Pangeran Gantar sedang melakukan pembersihan, bagi sekte yang tidak mendukung kekuasaannya pasti dihancurkan, makanya Kanda menyuruh kalian rajin berlatih supaya Kanda tidak khawatir, jika kalian kena culik dimana Kanda mencari istri secantik kalian," ucap Wira menjelaskan sambil menggoda istrinya.
"Ish....." Nilotama mencubit Wira gemas, sementara Putri hanya tersenyum kecil.
"Sudah...sudah..."
Wira merebahkan dirinya dilantai gasebo, menikmati udara yang sejuk ditengah Danau Emas, Putri dan Nilotama ikut merebahkan dirinya.
Tak berapa lama mereka tertidur nyenyak...
*****
Di daerah pegunungan yang terjal.....
Putri terus berlari menyelamatkankan diri dari kejaran manusia bertopeng besi dengan tubuh menyala-nyala mengeluarkan api biru yang sangat panas, dibelakangnya Nilotama mengikuti sambil berteriak, "Kakak Putri ayo kita sembunyi, aku sudah lelah Kak," Nilotama berkata lemah memanggil Putri.
Melihat Nilotama jatuh karna amat kelelahan Putri berbalik mendatangi Nilotama, kemudian mengangkat supaya bisa berdiri untuk mencari tempat sembunyi.
"Adik ayo berusaha sedikit lagi didepan sana ada gua kita sembunyi disana sambil memulihkan energi, Putri memeluk pinggang Nilotama dan melingkarkan tangan Nilotama dilehernya untuk memudahkan Nilotama berjalan, dengan usaha yang keras akhirnya mereka bisa masuk kedalam gua, mereka mencoba memulihkan stamina dengan duduk berkultivasi, namun tidak bisa karna pikiran mereka tidak tenang, sewaktu-waktu manusia api itu bisa saja menemukan mereka.
"Kakak Wira tolong bantu kami Kak," Nilotama berkata lirih, memanggil-manggil Wira,
"Tenanglah Adik, Kanda Wira pasti datang membantu kita," Putri menenangkan Nilotama sambil memeluk dan mengusap kepala Nilotama.
"Bersandarlah pada Kakak supaya nyaman!"
Nilotama duduk dengan menyandarkan punggungnya di dada Putri.
"Kakak Wira tolong kami Kak... ," Nilotama terus memanggil Wira dengan lirih.
Srek... , srek... , srek... .
Putri menutup mulut Nilotama dengan tangan ketika mendengar ada suara seperti langkah kaki mengendap-endap, Putri meraih batu sebesar kepalan yang ada didekatnya, sebagai upaya terakhir jika manusia api itu menemukan mereka.
Putri tidak berani bernafas keras, begitu juga dengan Nilotama, mereka menjaga nafasnya tetap pelan agar tidak menimbulkan suara sekecil apapun.
Srek... , srek... , srek... .
Suara kaki itu semakin mendekati mulut gua, Nilotama mulai gemetar ketakutan, sementara Putri mencoba menghalau rasa takutnya dengan mengangkat tangannya bersiap untuk melempar batu yang ada dalam genggamannya.
Putri menaruh batunya pelan agar tidak menimbulkan suara, kemudian melihat disekitar tempat mereka duduk, dia tidak menemukan batu yang lebih besar, satu-satunya batu besar adalah tempat mereka bersandar, akhirnya Putri mengambil kembali batu yang dia taruh tadi sambil mengacungkan tinggi-tinggi.
Sesosok mahluk ada di mulut gua sambil memandang kearah Nilotama dan Putri,
"Ini bukan manusia api yang mengejar kita tadi," kata Nilotama pelan.
"Disini rupanya kalian sembunyi, aku cari-cari dari tadi," kata pria itu dengan suara yang terdengar aneh karna mulutnya tertutup kain tebal.
Pria tinggi besar yang hanya terlihat matanya saja mendekat cepat kearah mereka.
"Plok"
Putri melempar batu kearah pria yang berjalan cepat kearahnya, dengan mudah pria itu menghindarinya.
"Kenapa kalian melemparku ?"
Pria itu membuka kain yang membungkus wajahnya, dia lupa kalau wajahnya sedang tertutup kain tebal, tudung yang menutupi kepalanya juga dibukanya.
"Kakak... ."
"Kanda... ."
Nilotama ingin bangun tapi tidak bisa, karna kakinya banyak luka dan rasa lelah yang belum reda, sementara Putri tidak mungkin bangun karna Nilotama bersandar di dadanya.
"Diamlah kalian... ."
Wira mendekati mereka seraya mengeluarkan pil untuk mengobati luka dan memulihkan stamina.
Nilotama dan Putri membuka mulutnya ketika Wira memasukkan pil berwarna hijau bergaris kuning dengan aroma yang khas kedalam mulutnya.
Wira mendudukkan Nilotama dan Putri berjejer berdekatan, kemudian dengan perlahan membuka baju mereka sebatas punggung. Setelah itu Wira menempelkan tangannya pada punggung kedua istrinya lalu mengalirkan tenaga murni untuk membantu menyerap khasiat Pil Sambung Raga yang Wira berikan pada kedua istrinya.
Sesaat kemudian Putri dan Nilotama sudah segar kembali.
"Kalian diam disini Kanda mau mencari bantuan." ujar Wira,
"Jangan pergi kakak... ."
"Jangan tinggalkan kami Kanda... ."
Wuuuusss...
Wira bergerak cepat meninggalkan mereka,
Nilotama menangis sedih, Putri berusaha menenangkan Nilotama.
"Kanda Wira pasti melakukan hal yang terbaik buat kita," ucap Putri sambil mengusap-usap kepala Nilotama.
Nilotama masih menangis karna merasa diabaikan olek Wira, Nilotama merasa lebih baik menghadapi masalah ini bertiga apapun hasilnya, dari pada ditinggal walaupun untuk mencari bantuan.
"Ssssstt... , Adik diamlah !, diluar terdengar suara langkah kaki pelan," bisik Putri.
Baru selesai kalimat Putri, manusia bertopeng besi dengan api biru di sekujur tubuhnya sudah masuk kedalam gua.
Manusia api memegang lengan Putri dan Nilotama, rasa panas yang luar biasa menyengat lengan dan menjalar cepat ke sekujur tubuh mereka.
"Kakaaaak Wiraaaaa" Nilotama berteriak memanggil Wira kemudian pingsan.
"Inilah pertemuan terakhir kita kanda... , semoga dikelahiran berikutnya kita bertemu dan menjadi suami istri lagi" batin Putri, kemudian terkulai tidak ingat apa-apa lagi.