Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 61. Pembersihan di Benteng Utara



Wira kembali ke kediamannya setelah selesai berjalan-jalan diseputaran benteng.


Keesokan harinya Wira menyuruh Jenderal Tumbak Bayuh memberi hukum gantung pada Munding Pati, dengan alasan telah berani meragukan keputusannya, sebagai Kepala Benteng Utara.


"Baiklah Tuan Muda," ujar Jenderal Tumbak Bayuh hormat.


Jenderal Tumbak Bayuh memerintahkan Jenderal Muda Galih Kaliki, membawa prajurit penegak hukum untuk membawa Munding Pati ke aula penegakan hukum.


"Munding Pati, kami diperintah oleh Jenderal Tumbak Bayuh untuk membawamu ke aula Penegakan hukum," ujar prajurit penegakan hukum.


"Atas dasar apa kalian ingin membawaku ke aula Penegakan hukum," ujar Munding Pati.


"Ini surat perintah penangkapanmu, jika kamu ingin memberikan argumentasi lakukan nanti di aula," jawab prajurit Penegakan hukum.


Munding Pati tidak mau melawan Kepala Benteng saat ini karna akan berdampak buruk, tapi dia pasti akan melaporkan pada Kepala keluarga mengenai masalah ini.


Akhirnya Munding Pati bersedia dibawa menuju aula Penegakan hukum untuk dimintai keterangannya.


Jenderal Galih Kaliki yang memimpin sidang dakwaan terhadap Komandan Munding Pati menanyakan mengenai perkataan Munding Pati di tempat ramai yang meragukan keputusan Jenderal Tumbak Bayuh.


Munding Pati menolak dakwaan Jenderal Muda Galih Kaliki, karna yakin tidak akan ada yang berani bersaksi memberatkan dirinya,


"Maaf Jenderal Muda, siapa yang menyaksikan bahwa aku meragukan keputusan Jenderal Tumbak Bayuh.


"Aku yang mendengarkan secara langsung pembicaraan yang sengaja kamu ucapkan dengan keras agar banyak orang yang mendengar," ujar Wira.


Munding Pati memandang tajam pada Wira,


"Demikian banyak orang yang ada di restoran, kenapa yang lain tidak ikut bersaksi," ucap Munding Pati dengan pandangan mengejek pada Wira.


"Lantas siapa yang ingin engkau hadirkan untuk bersaksi ?" tanya Jenderal Muda Galih Kaliki.


"Aku ingin menghadirkan Komandan Rangga Wilis yang ikut makan bersamaku di restoran kemaren," ujar Munding Pati.


"Prajurit !, datangkan Rangga Wilis kemari!" ucap Jenderal Muda Galih Kaliki, pada salah satu prajurit penegak hukum.


Tak berselang lama, Rangga Wilis hadir dan bersaksi membenarkan ucapan Munding Pati yang meragukan keputusan Jenderal Tumbak Bayuh di hadapan orang banyak, dan Rangga Wilis sempat menegur Munding Pati agar tidak berbicara keras, supaya tidak didengar banyak orang.


Munding Pati terbelalak keheranan terhadap kesaksian yang diberikan oleh Rangga Wilis yang selama ini sangat patuh kepadanya, Rangga Wilis selama ini sering mendapat bantuan dari Kepala keluarga Munding Pati hingga karirnya menanjak cepat.


"Manusia tidak tahu berterima kasih," ujar Munding Pati emosi pada Rangga Wilis, lihat nanti pembalasanku," ujar Munding Pati mengancam.


"Karna kesalahan yang diperbuat oleh Komandan Munding Pati sangat berat, ditambah lagi merendahkan Tuan Muda Wira sebagai ahli strategi yang dikirim oleh Pangeran Gantar maka ditetapkan hukum gantung sebagai hukumannya," ujar Jenderal Muda Galih Kaliki.


"Aku keberatan, aku meminta Jenderal Tumbak Bayuh sebagai pemimpin tertinggi di Benteng ini memberikan kebijakan," ujar Munding Pati mulai ketakutan.


"Silahkan lakukan hukuman yang diputuskan oleh penegak hukum," ujar Jenderal Tumbak Bayuh.


Prajurit penegak hukum segera meringkus Komandan Munding Pati dan menggantungnya dialun-alun.


"Bunglon Pelangi, Tikus Hitam, segera mata-matai orang dekatnya Munding Pati dan kumpulkan informasi.


"Aku harus membersihkan benteng ini dari orang-orang yang loyal pada Durgati dan Pangeran Gantar, harus dipastikan para prajurit yang loyal pada pengikutku yang diangkat menjadi komandan prajurit," batin Wira dalam hati.


Esoknya para komandan prajurit yang tidak loyal terhadap Jenderal Tumbak Bayuh dan sepuluh Jenderal Muda, dihukum gantung dialun-alun, rata-rata mereka yang tidak terima dengan keputusan Jenderal Tumbak Bayuh adalah orang-orang kepercayaan Durgati.


Wira membersihkan Benteng Utara dari kekuasaan Durgati dan Pangeran Gantar menggunakan tangan Jenderal Tumbak Bayuh dan sepuluh Jenderal Muda yang sudah menjadi pengikutnya.


Ada beberapa mata-mata Durgati dan Pangeran Gantar sengaja dibiarkan hidup agar memberikan laporan pada majikannya.


Sepuluh hari kemudian utusan Raja Durgati bergerak menuju Benteng Utara dipimpin oleh Jenderal Kala Menjing bersama 200.000 pasukan untuk memperkuat Benteng Utara, sekaligus menghukum Jenderal Tumbak Bayuh dan Jenderal Muda Galih Kaliki, yang dianggap tidak loyal pada Raja Durgati


Wira menghadang Jenderal Kala Menjing saat mereka masih sangat jauh dari Benteng Utara.


Jalan terdekat dari Kerajaan Samantha Pancaka menuju Benteng Utara melewati pegunungan yang terjal dan bersalju, Jenderal Kala Menjing memilih jalur ini agar secepatnya sampai di Benteng Utara, namun dia tidak menduga jika informasi perjalanannya bocor, karna anak buah Bunglon Pelangi dan Tikus Hitam mengikuti mata-mata yang sengaja dibiarkan lolos oleh Wira.


Ketika Jenderal Kala Menjing mulai memasuki jalan sempit, di sebelah kirinya jurang yang sangat dalam, disebelah kanannya tebing tinggi yang bersalju.


Booommm.....


Tebing tinggi disebelah kanan jalan runtuh dan menutup jalan kecil yang ada di depan para prajurit, mereka seketika panik dan berlari berbalik arah, sehingga banyak yang mati karna jatuh ke jurang, ketika mereka ingin bergerak mundur secara perlahan, dibelakang Wira dengan Singa Emas menutup jalur mereka kembali, melihat ada Singa Emas dengan ekor seperti tombak dan setiap saat mengeluarkan cahaya dari mulutnya, membuat mereka bergerak maju akhirnya mereka terjebak dijalan yang sempit, didepan jalan sudah tertutup salju dan sulit dilewati ditambah lagi ada Naga Sesha yang panjangnya mencapai 200 meter, dibelakang ada Singa Emas yang terus menyerang tanpa ampun.


Jenderal Kala Menjing sudah tidak mampu mengatur pasukannya yang panik diserang dari dua arah, akhirnya dia terbang kearah belakang tempat Singa Emas mengamuk.


Melihat binatang yang demikian besar dengan wujud aneh serta kekuatan yang terpancar jauh diatas kemampuannya yang hanya Pendekar Dewa Bumi tingkat 1, Jenderal Kala Menjing menjadi frustasi, namun pengalamannya yang kenyang dalam berbagai pertempuran membuat dia bisa menenangkan diri.


"Sekalipun Harapan menang tidak ada, kita tetap harus bertempur sekurangnya bawa musuh kita mati bersama," ucap Jenderal Kala Menjing memberi semangat.


Prajurit yang tadinya terus merangsek kedepan yang membuat rekan-rekannya jatuh berguguran kedalam jurang akhirnya berhenti dan mulai memberikan perlawanan.


Perlawanan yang diberikan oleh prajurit kepada Singa Emas membuat mereka mati lebih cepat, cahaya biru yang keluar dari mulut, cakar serta ekor Singa Emas semuanya adalah alat bagi malaikat maut untuk mencabut nyawa prajurit yang dibawa Jenderal Kala Menjing.