Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 37. Membuat Tempat latihan



Puncak Gunung Kabut.....


Dua puluh lima murid sekte Selendang Mayang yang diselamatkan oleh Wira sudah ada di puncak Gunung Kabut lebih dahulu, ketika Wira sampai bersama tiga puluh lima orang yang dibebaskan oleh Wira.


Mereka duduk agak jauh dari Singa Emas, Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi, kelihatan jika mereka ngeri melihat tiga binatang aneh yang ada di reruntuhan sektenya.


"Kalian silahkan kumpul dulu dengan rekan-rekan kalian, aku masih ada sedikit urusan" kata Wira pada tiga puluh lima orang yang baru dia selamatkan.


"Bunglon Pelangi pilih anggotamu untuk memata-matai Pangeran Gantar dan para Pembesarnya, beberapa kirim ke kerajaan Samantha Pancaka untuk memata-matai Raja Durgati dan Pemimpin lainnya, Tikus Hitam Kalian cari informasi mengenai jumlah pasukan, kekuatan dan penempatan dari prajurit yang dimiliki Pangeran Gantar dan Raja Durgati," Wira membuka gerbang Dunia Dimensi Jiwanya.


Dua ratus ekor Tikus Hitam bersama empat ratus ekor Bunglon Pelangi keluar dari gerbang Dunia Dimensi yang terbuka.


Begitu semua binatang keluar Wira menutup kembali gerbang Dunia Dimensi Jiwanya.


Setelah mereka berkumpul mereka mendapat beberapa pengarahan dari pemimpinnya untuk memahami tugas mereka, Wira mengingatkan mereka agar jangan bikin gaduh di dunia apsara ini, setelah mereka mengecilkan tubuh mereka sampai sebesar kecoak, anggota Tikus Hitam segera pergi dan menghilang dengan cepatnya, regu dari Bunglon Pelangi juga pergi dengan ukuran tubuh sebesar jangkrik gerakan mereka sulit untuk diikuti oleh mata.


"Aku melupakan satu hal"


Wira mengeluarkan Srigunting Perak dengan satu anggota spesiesnya, Wira memberikan pesan tertulis pada kulit kayu dan lima peti besi ukuran besar, lalu menyuruh anggota Srigunting Perak ke Kota Awan dan memberi barang itu pada Kepala Kota.


Wira menyentuh kepala Srigunting Perak untuk memberi informasi mengenai letak Kota Awan dan Mahardika sebagai Kepala Kota Awan, Srigunting Perak mengecilkan benda-benda yang akan dibawanya kemudian memasukkan ke mulutnya, tidak lupa Wira memberi tahu Srigunting Perak agar menyusul ke Benteng Utara.


Wira mendekati murid sekte Selendang Mayang setelah selesai dengan urusannya, dia ikut sedih melihat, semua murid-murid sekte yang tersisa, berkumpul dan tanpa bisa dibendung mereka menangis sedih melihat sekte tempat mereka tumbuh besar hancur, ketua sekte beserta seluruh tetua meninggal, murid sekte yang berjumlah sekitar dua ribu orang sekarang hanya tinggal enam puluh orang saja.


Sekte Selendang Mayang sekarang hanya tinggal puing-puing saja, dihancurkan oleh Sekte Kelabang Iblis bersama prajurit elitnya Pangeran Gantar, adik Raja Durgati.


Enam puluh murid yang tersisa sekarang bagaikan anak ayam kehilangan induk, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.


"Maaf Tuan Penolong kami lupa menanyakan identitas Tuan," seorang diantara mereka bertanya pada Wira,


"Aku Mahawira, utusan Raja Wreksasena," kata Wira sambil mengeluarkan lencananya,


"Maafkan kami Pangeran Mahkota, kami tidak tahu, maafkan kebodohan kami," mereka serempak menjatuhkan diri memberi hormat.


"Tidak perlu sampai seperti itu, lagian ini tidak di istana kerajaan, bangunlah !" perintah Wira,


"Aku tahu saat ini kalian sedang tertekan dan tidak bisa berpikir jernih, aku hanya mencoba memberi saran pada kalian. Begini saranku, yang perempuan menjadi pengikut istriku yang lelaki menjadi prajurit bagi kami, pikirkanlah baik-baik," kata Wira.


Mereka setuju dengan saran yang disampaikan Wira, pertama mereka sangat membenci prajurit penjajah yang telah menghancurkan sektenya. harapannya, dengan menjadi prajurit Raja Wreksasena berkesempatan untuk membalas dendam dalam perang untuk menghancurkan musuhnya, yang kedua saat ini mereka tidak ada tempat untuk bernaung.


Wira memberikan masing-masing seribu koin emas, kemudian menyuruh mereka untuk pergi ke kota awan, melamar menjadi prajurit, Wira memberi mereka surat untuk disampaikan pada Kepala Kota Awan.


Untuk lima puluh orang murid perempuan yang akan menjadi pengikut istrinya Wira membagi mereka menjadi tiga kelompok.


Kalian yang sudah level Pendekar Raja maju kedepan dan perkenalkan diri kalian.


"Hamba Delima, level Pendekar Raja tingkat 4, usia dua puluh enam tahun"


"Hamba Intan, level Pendekar Raja tingkat 2, usia dua puluh empat tahun"


"Hamba Mustika, level Pendekar Raja tingkat 3, usia dua puluh lima tahun."


"Hamba Ratna, level Pendekar Raja tingkat 2, usia dua puluh empat tahun."


"Hamba Manik, level Pendekar Raja tingkat 3, usia dua puluh lima tahun."


"Hamba Suhita, level Pendekar Raja tingkat 2, usia dua puluh tiga tahun."


Selesai memperkenalkan diri Wira mengumumkan ketiga Kelompok yang akan menjadi pengikut istrinya


"Kelompok Biru, Pemimpin Delima, wakilnya Intan, kalian khusus berlatih jurus Tangan Kosong, Ilmu Memanah dan Ilmu Alkemis, jumlah dua puluh orang." ucap Wira


"Kelompok Hijau, Pemimpin Mustika, wakilnya Ratna, kalian khusus berlatih jurus Tangan Kosong, Jurus Pedang dan Ilmu Tabib, jumlah lima belas orang."


"Kelompok Putih, Pemimpin Manik, wakilnya Suhita, kalian khusus berlatih jurus Tangan kosong, Jurus Cemeti dan Ilmu Aray, jumlah lima belas orang."


Setelah mengangkat pemimpin untuk kelompok yang dibentuknya, Wira lenyap memasuki Dunia Dimensi Jiwa.


"Wuuuusss"


Hampir dua puluh hari telah berlalu saat Wira masuk Ke Dunia Dimensi Jiwanya, Wira menemui kedua istrinya yang sedang bercengkrama di gasebo sambil melihat keindahan Danau Emas yang di pinggirannya dipenuhi tanaman ajaib.


"Kakak aku merindukanmu," teriak Nilotama dengan ceria, berlari mendekati Wira sambil menarik tangan Kakak Putrinya.


Mereka berpelukan, Nilotama dan Putri menciumi pipi Wira saking rindunya, Wira memeluk kedua istrinya dan berjalan menuju gasebo.


"Kalian disini dulu sebentar saja, kakak mau ke dekat istana.


Booommm...


Booommm...


Sekitar satu kilometer dibelakang Istana Giok, Wira menaruh bangunan bertingkat tiga belas berfungsi untuk latihan kultivasi dan bangunan bertingkat dua puluh satu untuk latihan penguatan jiwa.


Booommm...


Wira menaruh bangunan yang sangat besar disamping kedua bangunan yang lain, untuk latihan beladiri diri, termasuk latihan memanah, lengkap dengan semua fasilitasnya.


Semua bangunan yang ditaruh dibelakang Istana sesungguhnya adalah Artefak Ilahi yang diambil dari Cincin Dimensi Samudranya.


Mendengar keributan dibelakang Istana Giok, Putri dan Nilotama berlari menuju datangnya suara.


"Wooooow,"


Ada bangunan baru yang sangat luas, Nilotama keheranan karna berdiri bangunan luas hanya dalam sekejap mata.


"Berapa luas bangunan ini dan untuk apa Kanda?" tanya Putri


"Luasnya sekitar seribu hektar, bangunan besar itu untuk latihan jurus-jurus lengkap dengan semua fasilitasnya termasuk areal panahan. Bangunan bertingkat tiga belas itu untuk latihan kultivasi. Bangunan bertingkat dua puluh satu untuk latihan penguatan jiwa." Wira menjelaskan


"Bukankah sudah ada Danau Emas untuk meningkatkan Kultivasi?" tanya Putri,


"Tidak semua orang boleh berendam di Danau Emas, seseorang harus memiliki kekuatan tulang, organ tubuh serta sumsum yang cukup kuat untuk menahan kekuatan energi yang meledak-ledak yang masuk kedalam tubuh," jawab Wira


"Kanda sudah mencarikan kalian pengikut untuk membantu dan menemani kalian disini"


"Dimana mereka?" tanya Putri dan Nilotama serempak.


"Tunggu sebentar"


Wira keluar dari Dunia Dimensi Jiwa, sesaat kemudian datang dengan membawa lima puluh orang wanita.


Mereka semua memperkenalkan identitas dan kelompoknya pada junjungan mereka.


Kemudian Wira membawa mereka ke lokasi pelatihan yang ada dibelakang Istana Giok dan menjelaskan seluruh bagian dan fungsi yang ada dalam bangunan besar, fungsi bangunan tingkat tiga belas, fungsi bangunan tingkat dua puluh satu dan cara-cara berlatih.


"Tempat tinggal kalian di Istana Giok, istriku yang akan menunjukkan untuk kalian, tugas kalian adalah melayani istriku dan berlatih jurus serta kemampuan lain yang sudah aku bagikan sesuai kelompok," kata Wira.


Selanjutnya mereka disuruh melihat-lihat agar bisa beradaptasi dengan tugas dan kewajiban mereka.


Wira membawa kedua istrinya kembali ke gasebo begitu selesai memberi arahan pada semua pengikut istrinya.


Gasebo ini harus ditambah jika mereka ingin menikmati keindahan Danau Emas," ucap Wira


"Buat satu gasebo besar khusus untuk kita Kanda," Putri memberi saran.


Booom...


Gasebo berukuran dua puluh meter dengan lebar sepuluh meter seketika muncul dibagian timur dipinggir Danau Emas, terbuat dari Giok putih dilapisi emas, selaras dengan warna air Danau Emas, dibelakang berisi tempat penyimpanan makanan dan minuman dipojok kiri dan kanan dibagian timur bangunan.


Kemudian Wira terbang ke tengah Danau Emas


Praasss...


Gasebo terapung muncul sekitar seratus meter dari pinggir sebelah timur, terbuat dari kayu dengan ukuran sepuluh meter persegi, dihiasi dengan banyak ukiran , bertiang 4 tanpa dinding, hanya berisi tirai yang bisa digulung keatas,


Wira sebenarnya ingin keluar untuk melanjutkan perjalanan, namun melihat istrinya begitu riang dia tidak ingin merusak kegembiraan yang dirasakan istrinya, akhirnya Wira memutuskan untuk istirahat sehari di Dunia Dimensi Jiwa.


Wira mengajak istrinya ke bangunan yang ada ditengah danau, setelah memasukan Singa Emas, Tikus Hitam, Bunglon Pelangi dan Srigunting Perak, kedalam Dunia Dimensi Jiwa di Hutan Kristal.


"Kita istirahat disini sejenak," kata Wira sembari memasang tirai agar tidak terlihat dari luar.