Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 11. Dunia kecil



Tiga hari kemudian Wira selesai berkultivasi, dia mendekati pohon Cendana Biru yang besarnya delapan pelukan orang dewasa dengan tinggi hampir seratus meter, dia mengambil pohon itu dan menanamnya didekat Kolam Emas dalam dimensi jiwanya.


Seketika daerah itu menjadi harum karna keberadaan pohon Cendana Biru.


Setelah selesai menanam pohon Cendana Biru Wira keluar dari dimensi jiwanya, kemudian kembali ke lobang menuju dasar danau, Wira menggeser batu penutup lobang ke posisi semula dan berenang menuju permukaan.


"Sebaiknya istirahat disini sejenak hari sudah mulai gelap besok aku akan kearah barat untuk melihat Danau Tambalingan yang letaknya tidak begitu jauh dengan Danau Buhuyan,"


Wira membuat api untuk menghangatkan tubuh sembari makan buah yang diambil dari cincin dimensinya,


"Aku harus menanam banyak buah-buahan ajaib, dan herbal untuk kebutuhan dimasa depan, gunung yang ku buat juga masih belum berisi pohon aku harus menemukan pohon yang bermanfaat untuk hutan di dimensi jiwaku," Wira sudah merencanakan tapi belum menemukan pohon dan tanaman yang sesuai keinginannya.


Menjelang pagi Wira sudah bergerak menuju kearah barat tidak sampai tiga puluh menit Wira sudah melihat danau yang ukurannya hampir sama dengan Danau Buhuyan, hanya airnya terlihat biru gelap.


Sisi sebelah utara danau sangat terjal dengan dinding batu cadas yang hampir sembilan puluh derajat kemiringannya, mustahil untuk dilalui manusia, sisi sebelah barat dan selatan landai.


Wira menyelam mengitari danau kearah selatan berharap menemukan sesuatu yang berharga seperti di Danau Buhuyan.


Setelah sampai di bagian dasar danau sebelah barat berhenti untuk melihat tanaman dipinggir kolam siapa tau ada yang cocok untuk ditanam di Dimensi Jiwa.


Wira kembali menyelam kebagian sisi sebelah Utara setelah tidak melihat sesuatu yang berharga, kemudian muncul kepermukaan ingin melihat tebing yang sangat terjal karna biasanya tumbuhan herbal yang langka tumbuh dibagian yang sulit terjangkau. Jika tumbuhnya dibagian yang mudah ditemukan tentu sudah diambil orang lebih dulu.


"Jangan kesini !!! "


Seorang gadis cantik yang terlihat berpakaian sutra transparan dengan lekuk tubuhnya yang indah membentak Wira,


Gadis itu Seketika bersimpuh dan menyilangkan lengannya didepan dadanya untuk melindungi bagian tubuhnya yang tabu untuk dilihat, bajunya yang basah semakin memperjelas bentuk tubuhnya, sesaat Wira terpana kemudian cepat-cepat membalikan tubuhnya.


Tiga orang gadis cantik lainnya bergegas membawakan pakaian untuk gadis yang sedang bersimpuh


"Putri ini pakailah,"


sambil membantu memakaikan baju pada gadis yang dipanggil putri,


"Siapa kamu, kenapa bisa sampai kesini, manusia biasa tak ada yang berani datang kesini," tanya Putri,


Wira membalikan badannya kemudian menjawab sopan


"Hamba pengembara biasa yang kebetulan lewat dan ingin mandi di telaga ini, rasa penasaran yang membuat hamba menjelajahi danau ini," kata Wira tidak ingin menyembunyikan apapun.


"Jangan pernah datang kesini lagi, ini daerah pemandian para gadis, karna kamu tidak sengaja maka kamu aku maafkan,"


Wira masih diam tanpa menjawab, rasa kagetnya belum hilang, "di wilayah yang sepi begini ada gadis cantik seperti mereka ?" belum habis Wira merenung


'Balikkan badanmu perintah Putri pada Wira,"


Segera Wira membalikan badannya. Lama Wira mematung tak terdengar apapun bahkan sekedar langkah kaki, Wira memberanikan diri untuk menoleh,


"Kemana mereka pergi, hilang tanpa jejak ?"


Wira naik ke darat dan mulai mengenakan pakaiannya, melayang untuk meneliti keadaan sekitarnya, tebing ini sangat tinggi hampir mencapai dua ratus meter ketinggiannya, Wira sangat yakin ada sesuatu yang aneh disini, tidak mungkin manusia bisa hilang begitu saja tanpa jejak.


Lama Wira memeriksa wilayah bagian tebing,


"bodoh !", Wira baru ingat menggunakan kesadarannya untuk memindai wilayah sekitarnya,


"Itu dia......benar-benar tersembunyi,"


Wira mendekati sebuah batu hitam dengan lebar satu meter dengan bentuk agak lonjong keatas tingginya sekitar seratus enam puluh centimeter, Wira menapak batu hitam sambil memejamkan mata.


Tiba-tiba Wira melihat hutan dengan jalan setapak didepannya dia melangkah kedepan mengikuti jalan setapak, ketika Wira menoleh kebelakang lorong tempat dia masuk tidak ada, hanya pohon besar dengan lobang dibagian bawah seukuran pria dewasa yang ada persis ditempat ketika dia masuk.


Tebing disisi Utara Danau tidak ada, bahkan danaunya juga tidak terlihat,


Sekitar sepeminuman teh Wira berjalan, kemudian menemukan pemukiman yang sangat ramai, dua orang penjaga seperti prajurit kerajaan menjaga di pintu gerbang pemukiman.


"Berhenti," tanpa basa-basi penjaga gerbang menahan wira.


"Apa alasan kalian menahan saya," tanya Wira dengan mimik heran,


"Kamu pasti penyusup," kata penjaga gerbang,


"Sabarlah tuan penjaga izinkan saya menjelaskan keadaan dengan sebenarnya ", kata Wira berniat meluruskan tuduhan prajurit penjaga gerbang,


"Kamu boleh jelaskan nanti didepan yang mulia raja, yang pasti kamu bukan dari bangsa kami adalah wajar jika kami mencurigaimu," jawab penjaga bersikukuh.


Seorang penjaga mengantar Wira menuju Sebuah bangunan seperti pendopo yang lumayan besar.


"Ada apa penjaga," tanya salah seorang yang berpakaian seperti pembesar kerajaan ,


"Maaf Tuan Panglima, orang ini bukan dari bangsa Apsara memasuki wilayah kita," jawab penjaga.


"Yang Mulia ada bangsa manusia masuk ke wilayah kita," Panglima menyampaikan tujuan penjaga.


"Bawa kemari...Panglima,"


"Baik Yang Mulia," jawab Panglima


Panglima Ringkin membawa Wira menaiki tangga menuju aula pertemuan


Ada banyak petinggi kerajaan disisi kiri dan kanan aula.


Panglima berhenti dekat tangga dibagian paling bawah, ada sekitar tiga puluh tangga lagi menuju lantai yang lebih tinggi dimana seorang Raja duduk disebuah singgasana, dibelakang singgasana ada tujuh orang berdiri berjejer mengawal.


"Rata-rata orang-orang ini Pendekar Suci, Rajanya Pendekar Dewa Bumi tingkat 1, Panglima yang berdiri di sampingku Pendekar Suci tingkat 9, Wira menyebarkan kesadarannya untuk membaca situasi," Wira berdiri tenang menunggu.


"Anak muda ini bukan orang biasa, cahaya mukanya dan aura wibawanya yang besar serta ketenangannya dalam menghadapi situasi menunjukan dia bukan orang sembarangan," batin Raja Wreksasena.


"Anak muda ceritakan asal-usul dan tujuanmu datang kemari," tanya Raja dengan nada pelan namun tegas


"Hamba Mahawira putra Rsi Bergunatha, dari pulau kecil tempat wilayah ini berada, tujuan hamba hanya mengembara menjelajahi pulau tempat hamba tinggal dan tanpa sengaja tiba disini."


Kemudian Wira menceritakan perjumpaannya dengan seorang putri dan pelayannya yang menghilang begitu saja, rasa ingin taunya menyebabkan sampai disini, tentu saja Wira tidak menceritakan kondisi si gadis saat berpakaian ala kadarnya.


"Setelah sampai ditempat ini apa yang ingin engkau lakukan," tanya Raja lebih lanjut,


"Hamba berniat keluar dari tempat ini dan melanjutkan pengembaraan,"


"Jika niatmu mengembara kenapa engkau tidak berdiam disini beberapa saat untuk menambah pengalamanmu,"


"Aku ditahan secara halus untuk diselidiki," pikir Wira dalam hati."


"Jika Raja mengizinkan hamba dengan senang hati ingin mengenal wilayah ini lebih banyak," jawab Wira sopan.


"Sarwadahana, bawa anak muda ini berkeliling, dan sediakan tempat untuk istirahat," kata Raja,


"Jika yang mulia tidak keberatan biar anak muda ini tinggal ditempat hamba selama dia disini," Panglima Ringkin menawarkan,


"Baiklah Panglima,"


"Sarwadahana antar wira ketempat panglima dan dampingi dia jika ingin berjalan-jalan," titah Raja,


"Titah Paduka hamba laksanakan," Sarwadahana menjawab dengan menundukkan kepala.