Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 36 Runtuhnya Sekte Selendang Mayang



Diatas langit terlihat titik kuning menuju utara saat matahari sedang condong ke arah barat.


Gunung Kabut terlihat tertutup awan putih, sehingga tidak kelihatan apapun di dataran rendah yang terlihat hanya puncaknya seperti berasap.


Wira menyuruh Singa Emas untuk mendekat kearah gunung, setelah dekat terlihat banyak bangunan-bangunan besar yang terbakar.


Wira menyuruh Singa Emas mendarat di tanah lapang yang tidak berisi bangunan.


Wira meloncat dari punggung Singa Emas, terlihat banyak mayat bergelimpangan disekitar puncak gunung.


Dia memeriksa seluruh bangunan dan sekelilingnya untuk memeriksa siapa tau masih ada yang selamat.


"Rupanya sekte ini diserang musuh, sampai luluh lantak begini, benar-benar kejam bahkan anak kecil pun dibunuh," umpat Wira gemas dalam hatinya.


Kemudian Wira dibantu Singa Emas mengumpulkan mayat yang bergelimpangan dijadikan satu, Wira memukul tanah dengan menggunakan jurus Samudra Memecah Karang,


Duaaaaaaarrrrrrrr...


Lobang besar terbentuk dari pukulan yang dilontarkan Wira, dibantu oleh Singa Emas dalam waktu sekejap mayat dimasukkan ke dalam lubang dan ditimbun kembali dengan tanah.


Setelah yakin tidak ada lagi mayat yang tersisa Wira mengeluarkan Tikus hitam dan Bunglon Pelangi dari Dunia Dimensi Jiwa.


Tikus Hitam suruh anggota spesiesmu untuk mencari informasi siapa yang menghancurkan tempat ini, Bunglon Pelangi panggil beberapa anggota spesiesnya untuk memata-matai pelakunya.


Wira membuka gerbang Dunia Dimensi Jiwa, menyuruh Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi untuk memanggil beberapa rekannya


Tidak lama Tikus Hitam datang membawa sepuluh anak buahnya, Bunglon Pelangi membawa membawa lima belas rekannya.


Tikus Hitam segera menyuruh anggota spesiesnya untuk mencari pelaku yang menghancurkan Sekte Selendang Mayang, yang berdiri dipuncak Gunung Kabut.


Beberapa menit kemudian salah satu anggota Tikus Hitam datang memberi laporan bahwa di arah timur, ada prajurit membawa tawanan perempuan, sedangkan tikus lainnya membawa informasi sekitar lima puluh kilometer kearah utara sedang terjadi pertempuran.


Tikus Hitam, Bunglon Pelangi, suruh salah satu anggota kamu mengikuti rombongan yang membawa tawanan.


Satu anggota Tikus Hitam dan satu anggota Bunglon Pelangi kemudian bergerak mengikuti perintah pemimpinnya.


"Singa Emas dan yang lainnya tinggal disini, aku mau pergi melihat siapa yang bertempur," kata Wira, kemudian melesat pergi kearah utara.


Tidak sampai lima menit Wira terbang terlihat pertempuran yang tidak seimbang antara puluhan orang yang berpakaian sekte Selendang Mayang dengan prajurit kerajaan dibantu oleh anggota sekte Kelabang Iblis.


Sepuluh lelaki yang bersenjata cemeti dan lima belas wanita bersenjata selendang dikeroyok lima puluh prajurit dan dua orang yang terlihat berdiri menonton pertarungan yang tidak seimbang.


Ctaaar... craass... .


Ctaaar... , craass... .


Setiap kali selendang bergerak terbabat putus oleh senjata prajurit yang mengeroyoknya


"Hahaha....." pemimpin prajurit mentertawakan para wanita yang pakaiannya robek disana-sini


Lebih baik kalian menyerah saja, aku kasihan melihat kulit kalian terluka jika terus melawan, seorang pria tinggi besar dengan penutup mata disebelah kiri, tertawa senang melihat mangsanya yang sudah tidak berdaya.


"Habisi semuanya…"


"Yang perempuan lumpuhkan..."


"Aku tidak sudi menjadi budak penjajah, lebih baik mati sebagai pejuang !" teriak wanita yang menjadi pemimpin mereka.


"Kamu tidak punya pili......."


"Creb...."


Sebuah panah menancap di tenggorokan menghentikan perkataan pria yang mata kirinya memakai penutup, yang merupakan pemimpin gerombolan yang membantu prajurit kerajaan untuk menghancurkan sekte Selendang Mayang


"Siapa pengecut yang berani membokong, perlihatkan di....."


"Creb....."


Kembali sebuah panah menghentikan perkataan Pemimpin prajurit, tanpa mampu menangkis.


"Pengecut seperti kalian tidak tau malu mengatakan orang lain sebagai pengecut," Wira berbicara sambil melayang di udara.


"Pendekar Dewa Bumi!" teriak mereka melarikan diri.


"Bodoh...tidak ada kesempatan bagi kalian manusia iblis untuk hidup," Wira memasang sepuluh anak panah pada Busur Naga Writa, dipunggungnya terpasang wadah panah Manipuspaka.


Sing... , sing... , sing... ,sing... ,sing... .


Cres... , cres... , cres... , cres... , cres... .


Wira membidikkan panah berulang-ulang dengan kecepatan yang sulit di ikuti mata.


Semua prajurit tewas tanpa sempat menoleh, bahkan mereka yang terhalang pohon tetap mati tertembus Panah Suci Sugosa, Pusaka Dewa tingkat Tinggi.


Begitu selesai melaksanakan tugasnya Wira memasukkan kembali, busur, wadah panah beserta anak panahnya kedalam cincin dimensinya, kemudian melayang turun menghampiri murid sekte Selendang Mayang.


Wira membagikan pil penyembuh pada mereka,


"Terimakasih Tuan," kata wanita yang menjadi pemimpin mereka, dengan menakupkan tangan diikuti oleh murid yang lainnya.


"Aku tidak punya banyak waktu, aku mesti menyelamatkan teman-teman kalian yang menjadi tawanan, kalian kembali ke sekte kalian tunggu aku disana," perintah Wira pada mereka, kemudian melesat pergi.


"Baik Tuan"


"Eh.........," sudah hilang gumam wanita itu.


"Mari kembali ke sekte," kata Pemimpin pada teman-temannya.


"Kakak bagaimana kalau disana masih ada prajurit dan anggota sekte Kelabang Iblis yang menunggu ?"


"Tidakkah kamu dengar pendekar tadi berkata, akan menolong temanmu yang menjadi tawanan, artinya dia sudah melihat kondisi dipuncak gunung, kemudian menyelamatkan kita lebih dulu yang sedang bertempur baru menyelamatkan saudari kita yang tertawan,"


"Baiklah jawab mereka," mengikuti langkah pemimpinnya.


Sementara itu prajurit yang membawa tawanan lebih dari lima ratus orang, tawanan dibawa dengan dua gerobak besar yang ditarik empat ekor kuda, gerobak itu berbentuk kerangkeng besi, ada pintu kecil dibagian belakang yang dipasangi gembok, masing-masing gerobak dikawal dua orang prajurit berkuda.


Di depan gerobak ada dua ratus prajurit berkuda, dibelakang gerobak ada sekitar tiga ratus prajurit berkuda.


Wira berpikir cara untuk membebaskan tawanan sambil melayang jauh diketinggian, kemampuan Wira melihat jarak jauh menguntungkan dirinya ditambah lagi Wira mampu menyamarkan auranya tanpa terdeteksi bahkan oleh pendekar yang jauh diatas levelnya.


Wira melihat ada tebing batu cadas di depan sekitar tiga ratus meter dari prajurit paling depan.


Booom......


Batu cadas didepan mereka meledak, akibat dihantam panah Wira.


Mereka langsung berhenti dan membuat lingkaran besar mengelilingi gerobak dengan sikap waspada.


"Ini kesempatan baik," pikir Wira


Dua orang prajurit menghentakkan kudanya melaju mendekati tebing, mereka memeriksa penyebab ledakan namun tidak menemukan apapun karna panah Wira yang dilapisi tenaga dalam tinggi langsung hancur jadi serpihan sangat kecil ketika berbenturan dengan batu.


Dua prajurit kembali setelah memeriksa kondisi tebing.


"Tidak ada sesuatu yang ganjil disana koman..."


Booommm......


Ledakan kembali terdengar sebelum prajurit selesai menyelesaikan laporannya.


Semua mata melihat kearah tebing, yang kembali meledak.


Wuuuusss....


Wira berdiri didekat gerobak setelah selesai memasang Aray Pelindung transparan pada gerobak yang ditaruh berdekatan.


Semua prajurit riuh melihat keberadaan Wira yang tiba-tiba.


"Kalian ingin mati dengan cara bagaimana?" tanya Wira sambil tersenyum senang.


Setelah Wira berhasil memasang Aray Pelindung pada gerobak yang berisi tawanan, boleh dikatakan tugasnya sudah selesai, dari tadi Wira mencari cara untuk menyelamatkan tawanan terlebih dahulu sebelum bertarung.


Hahaha...


Hahaha...


Hahaha...


Banyak prajurit tertawa mendengar kata-kata Wira yang mereka anggap lelucon.


"Hanya ada lima orang diantara kalian yang hidup lebih lama untuk menjawab pertanyaanku" kata Wira pada mereka, sambil mengarahkan anak panah keatas.


Siiiiinng...


Busur Naga Writa, menembakkan Panah Suci Sugosa, setelah terlebih dulu diberi Mantra Sahasra Astra oleh Wira, setelah melepaskan panah Wira memasuki Aray Pelindung.


Duuaaaaaaaaaaaaarrr...


Dengan Kekuatan Mantra Sahasra Astra, Panah Suci Sugosa menduplikasi diri menjadi seribu dengan kekuatan yang sama pada tiap-tiap panah.


Mereka yang awalnya tertawa melihat kata-kata Wira mulai khawatir melihat langit menjadi hitam dipenuhi oleh panah.


Triiing... , tring... , tring... , tring... .


Panah Suci Sugosa tidak mampu menembus Aray Pelindung tingkat Ilahi yang dipasang oleh Wira.


Creb... .


Creb... .


Creb... .


Sudah terlambat bagi mereka untuk menghindar, prajurit yang hanya level Pendekar Raja ke bawah tewas seketika terkena Panah Suci Sugosa.


Tiga orang level Pendekar Suci tingkat Dasar mengalami luka kecil setelah menangkis panah Wira.


Dua orang Pendekar Suci tingkat 3 selamat tanpa luka.


Lima orang yang sudah diprediksi selamat oleh Wira mematung tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya.


Wira mendekati mereka dengan menenteng Kapak Rajabala, setelah memasukan busur dan panah kedalam Cincin Dimensi Samudranya.


Kapak bermata dua dengan lebar mata pisau sekitar satu meter dan gagang sepanjang dua meter di ujungnya berisi mata tombak, terlihat menyala terkena sinar matahari, semakin membuat Wira terlihat bagaikan dewa kematian.


"Aku tau kalian prajuritnya Raja Durgati yang ditugaskan di Malawa Dewa untuk menindas rakyat," kata Wira sambil menunjuk dua orang prajurit level Pendekar Suci di depannya.


"Siapa yang menyuruhmu membantai Sekte Selendang Mayang begitu kejam bagaikan iblis, " tanya Wira.


"Kalau mau bunuh, bunuh saja, kami tidak takut mati"


Crash...


Dua prajurit level Pendekar Suci tingkat Dasar begitu saja terpotong menjadi dua.


"Aku punya cara untuk mengetahui, apa yang harus aku ketahui," kata Wira sambil mendekati ketiga orang level Pendekar Suci yang lainnya.


"Dari pakaian yang kamu pakai terlihat jelas kalian dari sekte Kelabang Iblis, kalian membantai warga kerajaan kalian sendiri tanpa ampun, bekerja sama dengan penjajah demi keuntungan pribadi dan sekte kalian,"


"Aku tanya sekali saja, siapa yang mau menjawab kapak ini tidak akan membunuhnya," ancam Wira


"Kita serang dia bersama-sama, jelas-jelas dia sedang mengadu domba kita," teriak dua orang dari mereka sambil menghunus pedang.


Crash...


Crash...


Dua orang Pendekar Suci tingkat 3, tumbang tanpa kepala, sebelum sempat mengayunkan pedangnya.


"Kalian bukan lawan yang sepadan untukku," kata Wira


Pendekar Suci tingkat Dasar yang masih tersisa menggigil menahan takut yang tiada tara


"Ampuni saya pendekar, saya akan ceritakan sekte yang bergabung dengan Pangeran Gantar sebagai penguasa baru"


"Bicaralah"


"Sekte Kelabang Iblis, sekte Kalajengking Merah, sekte Lembah Neraka, sekte Golok Terbang, sekte Pedang Setan, Itulah lima sekte yang bergabung dengan Pangeran Gantar," kata murid senior sekte Kelabang Iblis.


"Pergilah cepat," kata Wira


Tanpa buang waktu Pendekar Suci tingkat dasar itu melesat pergi dari hadapan Wira.


Wuuuusss...


Bagai dikejar setan murid sekte Kelabang Iblis itu lari tanpa menoleh, menggunakan segenap kemampuan yang dia miliki.


Wira memasukkan Kapak Rajabala menukarnya dengan Busur Naga Writa, memasang Panah Suci Sugosa, kemudian dialiri dengan Api Poeniks Biru.


Siiiiiiiiiing....


Sekitar lima kilometer dari tempat Wira berdiri tergeletak mayat tanpa kepala dengan leher hangus bekas terbakar api.


Wira melepaskan semua tawanan dan membawa mereka kembali ke sekte Selendang Mayang.


Ucapan terimakasih bertubi-tubi disampaikan oleh mereka sambil berjalan ke puncak Gunung Kabut, tempat sekte selendang Mayang berada.