
Mendengar ancaman Wira tidak ada seorang pun yang bergerak,
Pemimpin mereka tidak bergerak sedikitpun sejak Wira mengeluarkan ancaman.
"Gantung dia dialun-alun desa," ujar Wira pada anggota sekte Kalajengking Hitam yang berjumlah sekitar lima puluh orang.
Tidak ada satupun yang berani bergerak untuk melaksanakan perintah Wira, karna tidak mungkin mereka berani melukai pemimpin mereka yang terbiasa kejam pada bawahan.
Ceb...ceb...ceb...
Dengan sekali mengibaskan tangannya, tiga orang yang berdiri sejauh dua puluh meter dari Wira terpelanting kebelakang karna tersambar senjata rahasia yang dilemparkan oleh Wira.
Melihat mereka diam tak bergerak kembali Wira mengibaskan tangannya, lima orang terjatuh dengan kepala tertembus senjata rahasia.
"Dinda habisi mereka semua," ujar Wira pada kedua istrinya sambil memberikan Pedang Pusaka pada kedua istrinya.
Para perampok yang menyerang ke desa ini rata-rata Pendekar Raja, hanya pemimpinnya yang Pendekar Suci tingkat 4, tapi sudah seperti patung karna di totok oleh Wira.
Putri dan Nilotama bergerak menyerang perampok yang tadi menyeret gadis remaja yang lemah tidak berdaya.
Sebenarnya dari tadi Putri dan Nilotama ingin membunuh perampok kejam yang menyeret gadis remaja, yang ingin mereka jadikan pemuas nafsu binatangnya, namun mereka masih menunggu perintah Wira.
Melihat dua gadis remaja mendekat kearahnya mereka tersenyum senang, dalam hatinya perampok itu ingin menjadikan Nilotama dan Putri sebagai tawanan untuk menyelamatkan diri, tapi ternyata harapan jauh dari kenyataan.
Mereka kecele, dua gadis remaja yang mereka pikir masih level Pendekar Langit ternyata seorang Pendekar Suci tingkat 5 dan 7, hanya dalam beberapa gerakan, Putri dan Nilotama menghabisi para perampok yang tadi bersikap kejam pada perempuan lemah yang akan mereka jual sebagai budak nafsu.
Nilotama dan Putri sangat sedih melihat masyarakatnya ditindas oleh sekte aliran hitam yang sesungguhnya masih satu tanah air dengan mereka.
Sekte aliran hitam ini lebih memilih bersekutu dengan penguasa baru untuk mendapatkan keuntungan dari menindas kaumnya sendiri.
Sekarang baru Nilotama dan Putri baru mengerti kenapa Wira tidak pernah mengampuni orang-orang dari sekte aliran hitam.
Melihat secara langsung melihat kekejaman dari sekte aliran hitam, Putri dan Nilotama semakin bernafsu untuk menghabisi mereka semua.
Wira membiarkan saja Nilotama dan Putri menghabisi para perampok yang memang pantas untuk dilenyapkan sampai tuntas, supaya tidak menjadi duri dimasa depan.
Hanya dalam beberapa menit saja Putri dan Nilotama menumpas habis gerombolan perampok dari sekte Kalajengking Hitam.
Sekarang yang tinggal hanya pemimpinnya saja, melihat pembantaian yang dilakukan oleh dua gadis remaja yang tadinya ingin dia paksa untuk bersenang-senang, tanpa disadari celananya basah, mukanya menjadi pucat pasi.
Kalau saja pria tinggi kurus ini tidak di totok oleh Wira, dia memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan menusuk jantungnya sendiri, tak terbayang oleh dia hukuman apa yang akan mereka lakukan pada dirinya.
Setelah selesai membantai semua anggota perampok, Putri dan Nilotama melepaskan tawanan yang tadi ada dalam kerangkeng besi, mereka mengucapkan terimakasih yang tidak terkira pada Putri dan Nilotama yang telah menolong mereka.
Sementara Putri dan Nilotama menolong membebaskan tawanan, Wira membawa Pemimpin perampok ke alun-alun tak jauh dari tempat para tawanan tadi berada.
Wira menggantung kaki pemimpin rampok itu keatas sedang tangannya di ikat kebelakang, kepalanya menjadi merah karna darah lebih banyak kebawah disebabkan daya tarik bumi.
"Dimana markas sekte Kalajengking Hitam berada ?" tanya Wira.
"Baiklah, tidak ada masalah bagiku kamu diam atau menjawab, aku memiliki caraku sendiri untuk mengetahui letak sekte Kalajengking Hitam," ujar Wira sambil bergerak menyegel pusat tenaga dalam pemimpin rampok.
Tanpa kemampuan untuk menggunakan tenaga dalam, sama halnya seperti orang biasa, ini bahkan lebih kejam dari kematian.
Setelah menyegel tenaga dalam yang dimiliki oleh Pemimpin rampok Wira memerintahkan Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi untuk menemukan letak markas sekte Kalajengking Hitam.
Mendengar perintah Wira Tikus Hitam dan Bunglon Pelangi segera menyuruh anggota spesiesnya untuk mencari lokasi sekte Kalajengking Hitam.
Wira menyuruh warga yang tersisa untuk mengambil kembali kekayaan yang dijarah oleh perampok dan mengambil barang yang dimiliki oleh rampok yang telah meninggal.
Banyak kekayaan yang didapat dari perampok yang telah mati, rupanya rampok itu sudah merampok di banyak tempat sebelum datang ke desa ini.
Kemudian Wira menyerahkan pada mereka mengenai hukuman yang pantas bagi pemimpin rampok yang telah membunuh banyak warga di sana.
Wira meminta masyarakat disana untuk menguburkan mayat-mayat yang ada di sana agar tidak menjadi sumber penyakit nantinya.
Selanjutnya Wira mohon diri untuk melanjutkan perjalanannya.
Sepeninggal Wira masyarakat disana memukuli pemimpin rampok dengan kemarahan yang membara mengingat banyak keluarga mereka yang terbunuh oleh rombongan perampok yang dibawanya.
Setiap orang bergantian memukuli dengan pentung, kayu, bahkan ada yang menusuk-nusuk dengan senjata tajam, karna banyak darah yang keluar akhirnya pemimpin rampok itu mati kehabisan darah.
Wira mengurungkan niatnya untuk kembali ke Ibukota Kerajaan Malawa Dewa, dia lebih memilih untuk mengunjungi satu persatu sekte aliran hitam yang letaknya dekat Ibukota Malawa Dewa, hal ini penting supaya saat nanti menyerang Ibukota sudah tidak ada lagi bantuan dari sekte hitam.
Wira mengirim pesan pada Mahardika melalui Srigunting Perak, agar aliansi aliran putih bergerak untuk menyerang sekte aliran hitam yang berada didekatnya, pada Sarwadahana Wira memberi perintah agar segera pergi ke dunia kecil untuk memberi tahu Raja Wreksasena agar membawa semua pasukan menuju ke Kota Awan secara bertahap.
Dalam perjalanan Wira diberitahu oleh Tikus Hitam bahwa sekitar dua puluh lima kilometer dari tempat ini ada sekte Kelabang Biru, setelah itu baru lokasi sekte Kalajengking Hitam berjarak lima puluh kilometer dari sekte Kelabang Biru.
Wira memutuskan untuk mengunjungi sekte Kelabang Biru lebih dahulu.
Untuk mempercepat perjalanan Wira mengeluarkan Singa Emas, dia juga mengeluarkan Dewa Senyum, dan Paman Sesha, untuk mempercepat pekerjaannya.
Singa Emas terbang dengan kecepatan penuh menuju lokasi dengan dipandu oleh Tikus Hitam, sementara Wira membicarakan rencana penyerangan, Wira menyerang dari depan kedua istrinya dan Bidadari Langit serta Singa Emas dari belakang, paman Sesha dari arah kiri dan Dewa Senyum dari arah kanan.
Hanya lima menit Singa Emas sudah sampai dibagian belakang sekte Kelabang Biru, Wira mengeluarkan Bidadari Pelindung Langit dan memberi tahu agar mulai menyerang setelah mendengar kode siulan dari Wira.
"Pastikan jaga keselamatan Istriku dan pengikutnya," ujar Wira pada Singa Emas melalui telepati.
Singa Emas mengangguk tanda mengerti, setelah itu Wira, Dewa Senyum dan paman Sesha terbang ke posisi yang menjadi bagiannya.
Setelah semua siap diposisi masing-masing Wira mengeluarkan Busur Naga Writa dan wadah panah Manipuspaka, Wira mengambil panah Suci Sugosa dan melapisi dengan Api Poeniks Biru, kemudian merapal ajian Sahasra Astra.
Sepuluh panah dilepaskan oleh Wira berturut-turut, beberapa murid yang melihat Wira datang dan menyangka tamu mulai panik saat Wira mulai memanah.
Sepuluh ribu panah yang dilapisi Api Biru terlihat di atas langit, belum sempat bagi murid yang tadi ada didekat gerbang untuk membunyikan lonceng tanda bahaya, panah api lebih dulu menerjang bangunan yang ada dibawahnya dan mulai membakar semua bangunan yang ada.