Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 12. Dunia kecil 2



Wira diantar ke rumah Panglima Ringkin untuk beristirahat, seorang pelayan datang menyongsong dan membawanya keruang tamu yang lumayan besar.


"Silahkan duduk Tuan," kata gadis pelayan,


Sarwadahana menjelaskan titah raja dan niat panglima untuk menerima Wira dirumahnya.


Pelayan pamit pergi untuk menyiapkan dua buah kamar untuk Wira dan Sarwadahana, tak berapa lama dua orang pelayan datang membawa minuman dan makanan ringan.


"Silahkan dinikmati Tuan," pelayan menawarkan


Wira menyesap minuman dan menikmati makanan ringan yang disuguhkan,


"Apa selanjutnya yang ingin Tuan Muda lakukan ?" tanya Sarwadahana


"Aku ingin istirahat, mungkin besok kita jalan-jalan"


"Baiklah," jawab Sarwadahana.


Pelayan mengantar Wira menuju kamar yang disediakan untuknya.


Didalam kamar Wira mengeluarkan kitab aray dan mulai membacanya


"Lebih baik mempelajari di ruang Dimensi Jiwa agar lebih leluasa " pikir Wira.


Dengan waktu yang sangat terbatas sebaiknya Dimensi Jiwa ini aku rubah perbandingan waktunya, satu bulan disini sama dengan satu hari di dunia luar.


Selesai memformat waktu Wira mulai berlatih menggunakan aray, ada ribuan gambar aray dan tehnik penggunaanya dalam kitab aray yang dipelajari, Wira mempelajari beberapa aray perlindungan, aray pertahanan dan aray menyerang sampai mahir.


"Satu bulan belum cukup untuk mempelajari Aray ini lebih banyak, setelah berjalan-jalan besok aku akan mempelajarinya lebih lanjut."


Wira keluar dari Dimensi Jiwanya setelah membersihkan diri langsung menuju ruang tamu, seorang pelayan segera menyediakan minuman dan makanan ringan.


"Selamat pagi tuan muda, kata Sarwadahana sembari duduk di kursi sebelah kanannya"


"Pagi, engkau terlihat segar Tuan Sarwadahana " ujar Wira,


Tak lama pelayan datang untuk membawakan minuman buat Sarwadahana


"Pagi ini udara segar dan langit cerah baik untuk jalan-jalan," Sarwadahana memberi saran dengan halus


"Jika Tuan Sarwadahana tidak keberatan mari kita lakukan," Wira menjawab antusias.


Mereka berdua beranjak dari kursinya dan titip pesan pada pelayan agar memberi tau panglima mengenai kepergiannya.


"Tunggu Tuan" seorang pelayan mendekat


"Panglima mengajak tuan berdua untuk sarapan bersama" diruang makan keluarga, pelayan berjalan didepan memimpin jalan.


"Tuan Muda, Tuan Sarwadahana mari silahkan duduk," Panglima Ringkin menyambut mereka dengan ramah.


"Ini Istriku Damayanti sambil menunjuk dengan jempolnya pada seorang wanita disebelah kanannya, yang ini putriku Nilotama menunjuk gadis muda disebelah kirinya", Panglima Ringkin menjelaskan pada Wira,


"Mohon maaf Panglima, sebaiknya Panglima memanggil namaku saja, jangan memanggil dengan sebutan tuan muda, hamba jadi risih."


"Baiklah aku harus memanggilmu apa?" tanya panglima,


"Panggil saja hamba Wira,"


"Mari Wira dinikmati makanannya, jangan keasikan ngobrol," kata Istri Panglima


"Ha...ha....ha, aku sampai lupa," kata Panglima tertawa, mereka makan dengan lahap tanpa bersuara. Selesai bersantap pelayan membersihkan meja makan, pelayan yang lain datang membawa buah-buahan segar untuk dinikmati sebagai pencuci mulut.


"Wira kalau boleh Bibi tau berapa usiamu sekarang," tanya Dewi Damayanti


"Hamba 16 tahun bibi," Wira menjawab hormat


"Baiklah Paman, terimakasih banyak pada Paman dan keluarga karna sudah menerima saya dengan sangat baik."


"Hari ini ada pertandingan silat diarena kesatria untuk mengukur kemampuan para prajurit, kalau engkau suka engkau bisa datang bersama Tuan sarwadahana bahkan engkau boleh berpartisipasi kalau berminat," Panglima menambahkan.


"Ayah, bolehkah aku ikut bersama mereka," Dewi Nilotama memandang ayahandanya dengan penuh harap,"


"Asal tidak merepotkan dan mereka bersedia mengajakmu," Panglima menjawab,


"Tidak masalah Paman" Wira memberi persetujuan


"Mereka ingin melihat kemampuanku, aku tidak akan mengecewakan harapanmu !, selanjutnya permainan apa yang akan menantikanku" Wira merenung.


"Ayo kakak Wira, kita ke arena", Nilotama menarik tangan Wira dengan perasaan gembira yang terlihat sangat jelas.


Nilotama sangat jarang diberikan izin keluar karna tidak ada yang menemani, ayahnya sangat sibuk dengan urusan kerajaan yang sedang bermasalah.


Diarena kesatria...,


Banyak peserta yang datang ingin membuktikan diri sebagai prajurit terbaik dalam pertarungan diarena ini, terkadang mereka yang punya masalah menggunakan arena ksatria ini untuk memuaskan dendam mereka dengan syarat tidak membunuh, membuat cacat atau menghilangkan kultivasi lawan.


Wira mengikuti Dewi Nilotama dan sarwadahana untuk mencari tempat duduk, melihat sarwadahana sebagai salah satu pengawal raja datang para prajurit memberi jalan sambil menunduk hormat


Banyak Prajurit muda yang berbisik mengagumi keelokan paras putri panglima mereka.


Jenderal Walanggati yang memimpin acara tanding keprajuritan ini menawarkan tempat duduk di podium pada Dewi Nilotama dan Sarwadahana melalui bawahannya namun ditolak dengan halus oleh mereka berdua.


Jendral memberikan sedikit kalimat pembuka untuk memulai acara dan selanjutnya menunjuk wakilnya untuk menjadi wasit dalam arena tanding keprajuritan.


Ada enam arena yang digunakan melihat banyaknya prajurit yang berpartisipasi dalam tanding prajurit yang diadakan kali ini


Acara seperti ini rutin digelar setiap tahun untuk menggali bibit muda yang memiliki potensi sekaligus ajang promosi kenaikan pangkat bagi prajurit yang berbakat.


Prajurit yang tidak sabaran bergegas naik ke arena untuk menantang lawan, seorang prajurit boleh menantang lawan dengan level yang sama atau diatasnya jika disepakati boleh menantang level dibawahnya.


Di semua arena sudah ada yang bertarung Wira belum melihat ada pertarungan yang menarik.


Anak buah jendral sibuk mencatat pemenang tiap-tiap pertandingan sebagai bahan evaluasi dan promosi kenaikan pangkat.


"Aku rasa sampai dua hari baru ada petarung tingkat atas yang naik ke arena, lebih baik pulang untuk berlatih aray," Wira ingin memanfaatkan waktu dengan maksimal.


Ketika tengah hari pertandingan diistirahatkan selama satu jam, Wira mengajak nilotama untuk pulang dengan alasan besok baru mulai petarung tingkat tinggi naik arena, mereka sepakat untuk menonton lagi esok hari.


Sampai dirumah panglima Ringkin Wira langsung masuk ke kamar dengan alasan istirahat.


"Anak ini terlihat energik dan sangat kuat kenapa kurang begitu semangat," demikian Sarwadahana berpikir.


Sementara didalam dimensi jiwanya Wira berlatih aray dengan tekun dia ingin memahami lebih banyak bentuk-bentuk aray. dua puluh hari Wira sudah berada dalam Dimensi Jiwanya.


"Kurasa sudah cukup, aku harus segera keluar untuk melihat pertarungan, sebelumnya membersihkan diri dulu dan makan beberapa buah," dia beranjak menuju kamar mandi didalam istananya.


Begitu Wira keluar kamar dan menuju ruang tamu, Wira sudah ditunggu oleh Nilotama dan Sarwadahana.


"Kita sudah terlambat," pertandingan pasti sudah dimulai keluh Nilotama.


"Mari kita berangkat" Wira bergegas keluar menuju arena.


Mereka bergegas mencari tempat duduk yang nyaman agar mampu melihat pertarungan dengan baik, sekarang arena yang digunakan hanya 3 arena saja karna sudah banyak peserta yang gugur


dari kemaren.


Diatas arena terlihat petarung kelas menengah dengan level pendekar bumi sampai pendekar langit.