Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 13. Dunia kecil 3



Nilotama sesungguhnya pendekar langit tingkat 2 yang dilatih langsung oleh ayahnya Panglima Ringkin orang terkuat kedua setelah raja, melihat prajurit-prajurit level bumi yang bertarung diatas arena jiwa pendekar nya bergejolak.


Nilotama dikenal dikalangan putra-putra bangsawan, banyak diantara mereka yang menaruh hati pada Nilotama karna kepribadiannya yang baik dan kecantikannya.


Melihat Nilotama duduk bersama dengan pemuda tampan, tidak sedikit dari mereka yang iri karena merasa harapannya hilang, apalagi pemuda yang duduk disampingnya diketahui bukan dari bangsa mereka.


Wisanggeni, putra dari Danareja salah satu pembesar kerajaan sedang naik keatas arena menantang berduel dengan prajurit yang cukup berbakat, prajurit ini sudah mengalahkan dua orang lawannya yang sama-sama pendekar bumi.


"Bakatmu belum cukup untuk mengalahkanku, sebaiknya kamu menyerah saja", kata Wisanggeni memprovokasi lawannya,


"Tidak ada salahnya mencoba, Mungkin bisa mendapat pengalaman dari kelebihan yang Tuan Muda miliki," jawab Supala sopan, prajurit yang menjadi lawannya.


"Apakah kamu yakin akan melawan Tuan Muda Wisanggeni," tanya wasit yang memimpin pertandingan melihat selisih dua tingkat dari Mereka berdua.


Supala mengangguk," saya ingin belajar banyak dari Tuan Muda Wisanggeni"


"Baiklah kalian boleh mulai pertarungannya, ingat peraturannya, kalian akan dihukum jika melanggar peraturan", kata wasit.


Supala mulai menyerang duluan dengan pukulan kearah uluhati,


melihat pukulan datang dengan cepat Wisanggeni bergeser kesamping bersiap untuk menangkap tangan Supala disertai tendangan mengarah ke perut supala.


Merasa perutnya menjadi sasaran tendangan, Supala mengangkat lututnya memblokir tendangan Supala.


Praak


tendangan Wisanggeni yang diblokir Supala menyebabkan Supala terdorong kebelakang,


Supala salto kebelakang untuk mengeliminir dorongan kuat akibat tendangan Wisanggeni,


Supala mendarat dengan manis setelah salto dua kali kebelakang, tindakan Supala mendapat tepuk tangan meriah dari penonton.


Wisanggeni unggul tenaga, Supala mengimbanginya dengan kelincahan


siapa yang bisa memiliki strategi lebih baik dia akan keluar sebagai pemenang, demikian pemikiran sebagian besar penonton yang lebih senior


Supala mencoba menghindari benturan yang merugikan dirinya, dia lebih sering mengelak dan menyerang ketika ada peluang.


Selang 15 menit pertandingan, akhirnya Supala terpojok dan menyerah karna sudah tidak sanggup memberikan perlawanan yang berarti, selisih dua tingkat bukan hal yang mudah untuk ditangani, mendingan menyerah dari pada cedera


Wisanggeni berturut-turut menang dalam tiga kali pertandingan, dia mulai merasa jumawa.


"Dinda Nilotama mari bermain sebentar untuk sedikit memeriahkan acara ini," kata Wisanggeni melempar tantangan secara halus


Huuuuuuuuuuuu


Penonton menyoraki Wisanggeni, yang tidak tau malu menantang secara langsung pada Nilotama.


Nilotama hanya diam sambil tersenyum kecil,


"Kalau Dinda tidak berminat kenapa tidak menyuruh bocah di sampingmu untuk mewakili"


"Belum saatnya" Wira beralasan


"Aku yang akan bermain bersamamu Wisanggeni, kenapa mesti memaksa bocah pengecut yang hanya bisa berlindung dibelakang wanita," seorang lelaki tinggi besar meloncat keatas arena.


"Jangan dengarkan mereka kakak, mereka hanya orang-orang kasar yang tidak tau etika," Nilotama menenangkan Wira


"Tidak masalah," jawab Wira


"Mereka bukan lawanku aku ingin lawan yang sedikit lebih kuat," batin Wira


Sementara diatas arena, pertarungan seru telah terjadi, Wisanggeni meringis memegangi dadanya yang kena pukul, merasa mendapat lawan tangguh Wisanggeni mencabut pedangnya.


"Sora cabut senjatamu !" seru Wisanggeni pada lawannya, Sora mencabut golok besar yang tersandang dipunggungnya.


"Pedang bayangan......."


Wisanggeni mulai mengeluarkan jurus andalannya,


Trang....Trang.....Trang....Trang...Trang....


Trang....Trang.....Trang....Trang...Trang....


Sora mulai terdesak dengan jurus pedang yang dikeluarkan Wisanggeni


Wisanggeni sama sekali tidak memberi celah bagi Sora untuk menyerang, hanya menunggu waktu bagi Sora untuk kalah.


Trang.....Trang....Trang....


bruuaaaak....


Sora mental dari arena karna tendangan keras dari Wisanggeni,


"Wisanggeni menang," wasit mengumumkan kemenangan Wisanggeni.


"Kamu sudah menang empat kali silahkan istirahat," Wasit menambahkan,


Sementara diarena yang lainnya Danardana sedang bertarung dengan Nilantaka, mereka sama-sama dari prajurit elit diusianya yang masih muda mereka sudah dilevel pendekar langit, bahkan Danardana sudah pendekar langit tingkat 9 sedikit lagi untuk naik menjadi Pendekar Raja.


Pertarungan antara Danardana dengan Nilantaka terlihat berat sebelah, Danardana sangat mendominasi, sekalipun tingkat kultivasinya sama tapi tenaga yang dimiliki, kwalitas jurus, serta kecerdasan menganalisa situasi sangat menentukan kemenangan seorang petarung.


"Danardana pemenangnya," teriak wasit yang memimpin pertarungan setelah Nilantaka menyatakan menyerah.


Danardana ditantang oleh Lodira Pendekar Raja yang baru menerobos, belum sampai tingkat satu, Danardana dapat memenangkan pertarungannya


Diarena ketiga ada Bubuksah dan Gagak aking sedang bertarung mati-matian, mereka terlihat seimbang kultivasinya, level Raja tingkat 3,


Setelah mereka bertarung selama 1 jam akhirnya sama-sama pingsan, dan dinyatakan seri.


Diarena pertama, kembali Wisanggeni naik ke arena, dia berkali-kali menantang Wira namun tidak dilayani.


"Nilotama temanmu sangat pengecut, memalukan nama baik Panglima Ringkin, sebagai teman dari anaknya seharusnya memiliki sedikit keberanian, ayo naik aku tidak akan membuatmu luka parah," Wisanggeni berkata dengan merendahkan.


Mendengar nama ayahnya dibawa-bawa, Nilotama meloncat kearena, "baiklah, sepertinya kamu sangat ingin dikalahkan," kata Nilotama.


Begitu wasit menyatakan mulai, Nilotama yang memang sudah panas hatinya langsung menyerang dengan Cambuk Pusaka tingkat Bumi, diujung cambuk ada logam pipih seperti ekor lele yang sangat tajam, hanya dalam beberapa kali serangan sekujur tubuh Wisanggeni sudah terdapat luka yang cukup dalam, serangan terakhir Nilotama tendangan gledek tepat mengenai dada Wisanggeni yang membuat Wisanggeni Geni memuntahkan darah segar dan akhirnya jatuh telentang tak bisa bergerak.


Pertarungan tidak sampai 5 menit Wisanggeni terkapar tak berdaya.


"Nilotama menang," teriak wasit


"Berhenti sudah kesombonganmu," teriak penonton


"Kapok.....makan itu tanah," yang lain ikut menimpali


"Dasar congkak...."


Penonton berteriak-teriak mengumpat sambil mensyukuri kekalahan Wisanggeni.


Setelah kemenangannya, Nilotama turun dari arena tidak ingin berkompetisi lebih lanjut.


Karna hari sudah menjelang malam pertandingan dilanjutkan keesokan harinya.


Panglima Ringkin mengajak Wira dan Sarwadahana makan bersama, mereka bercakap-cakap setelah selesai bersantap.


"Wira..., Apa kamu tidak tertarik untuk berpartisipasi dalam pertandingan," tanya Panglima,


"Apakah orang luar seperti saya diizinkan untuk ikut dalam pertandingan paman ?" tanya Wira,


"Tidak masalah asalkan mengikuti peraturan pertandingan," jawab Panglima,


Hore........besok kakak Wira ikut bertanding, Nilotama berteriak kegirangan, dia sangat yakin kalau Wira bukan orang yang lemah, itu terlihat ketika menonton pertandingan, dari sekian banyak pertarungan, tak ada yang membuat Wira terlihat takjub, mimik wajahnya biasa-biasa saja seolah pertarungan yang ditontonnya tidak ada yang berbobot.


Huusss........


"Anak gadis teriak...., tidak sopan," Ibundanya menghentikan tindakan Nilotama yang kekanakan.


"Maaf.......,"


Nilotama berucap dengan wajah memelas, ibunya tidak tahan dengan mimik wajah yang ditampilkan Nilotama, dia memeluk putri kesayangannya dengan penuh kasih seraya mengelus rambutnya.


Wira berusaha mencairkan suasana


"Paman.....,Kalau memang diizinkan mungkin besok aku ikut memeriahkan arena pertandingan," kata Wira datar


Kemudian Wira mohon izin dengan panglima dan yang lainnya untuk lebih dulu istirahat.