Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 41. Pertarungan dipinggir hutan #2



Trang...


Putri menangkis golok besar yang digunakan lawannya, percikan api keluar dari benturan golok dengan pedangnya Putri.


Putri merasakan tangannya kesemutan, dia meloncat mundur dan menjaga jarak, pria tua menyerang kembali, kali ini putri tidak menangkis, dia menghindar kemudian balas menyerang.


Pria tua menambah kekuatan dan kecepatannya, rupanya dia ingin segera merobohkan Putri.


Wira mengambil beberapa kerikil kecil, begitu melihat posisi Putri terdesak.


Tring.....


Pria tua melirik Wira, dia tidak yakin Wira yang menganggu pertempurannya, mengingat tidak sedikitpun aura kultivasi Wira terasakan olehnya.


Lewat lima puluh jurus Putri mulai keteteran, dia terpaksa harus menangkis serangan karna tidak bisa menghindari serangan lawannya.


Trang...


Criing...


Golok pria tua terpental oleh tangkisan pedang Putri, pria tua penasaran dia kembali menyerang Putri dengan tenaga yang lebih besar, kali ini Putri menangkis dengan semangat karna yakin Wira membantunya diam-diam.


Trang...


Trang...


Trang...


Setiap kali senjata mereka beradu terlihat golok pria tua terpental, dan tangannya yang memegang golok mulai terasa kesakitan.


"Kalau ada nyali keluarlah jangan main bokong" teriak Pria Tua


"Dinda manusia jahat yang membela penjajah jangan diberi ampun, itu sama artinya kita memberi dia kesempatan untuk menindas orang lain yang lemah," Wira mengingatkan Putri.


Mendengar perkataan Wira, Putri menyerang musuhnya lebih ganas, pria tua tidak mau menangkis serangan pedang yang tertuju kepadanya dia lebih sering menghindar, akibatnya pria tua semakin terdesak.


Kali ini putri mengarahkan serangan pada leher lawannya pria tua bergeser kesamping sambil membabatkan goloknya ke perut Putri,


Cring..........


Golok pria tua terlepas, oleh benturan kerikil yang disentilkan Wira, sementara pedang Putri mengarah cepat di pahanya.


Crash...


Paha kiri pria tua terluka sangat dalam, Putri membalikkan lagi arah pedang membabat leher pria tua, tidak ada pilihan lagi pria tua menangkis dengan tangan kirinya.


Crash....


Tangan kiri pria tua terbabat putus.


Putri berhenti menyerang ketika melihat pria tua itu tidak berdaya.


"Ampuni kami Tuan Muda, kami hanya menjalankan perintah jenderal muda," kata Pria Tua menghiba, sambil bersujud di tanah.


"Apa kalian pernah memaafkan lawan-lawan kalian ?, bukankah kalian tadi mengatakan tidak akan melepaskan buruan kalian hidup-hidup ?" ucap Wira.


"Kami pasti akan bertobat jika Tuan Muda mengampuni nyawa kami yang tidak berarti ini," Pria Tua dan temannya menjatuhkan dirinya menyembah Wira.


"Kanda mereka sudah tua, beri kesempatan untuk memperbaiki diri," Putri memohon pada Wira.


"Kalian dengar !, Orang yang ingin kalian persembahkan pada jenderalmu, memohonkan ampun buat kalian.


"Ampuni kami Nona Muda," Pria tua kembali menghiba memohon ampunan.


"Pergilah....."


Pria tua dan temannya mendongakkan kepalanya, melihat Wira untuk memastikan ucapannya.


"Pergilah..."


Wira mengulangi perkataannya.


Pria Tua dan temannya berulang-ulang mengucapkan terimakasih kemudian pergi secepat kilat.


Setelah pria tua itu pergi Wira kemudian duduk bersandar di batang kayu, Wira mengajak Putri dan Nilotama untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju Benteng Utara.


"Istriku mesti belajar memahami kehidupan di dunia yang sebenarnya, selama ini dia hidup terlalu nyaman, sehingga dia berpikir setiap orang itu baik." batin Wira.


Setelah hampir setengah jam Wira dan istrinya beristirahat.


Swuuusss....


Swuuusss....


Ada sekitar dua puluh orang datang bersama dua orang pria tua yang diampuni oleh Putri tadi,


Lima orang diantara mereka Pendekar Suci tingkat 5, sisanya Pendekar Raja.


Melihat gelagat yang tidak baik Wira memasang aray pelindung untuk kedua istrinya,


"Pak Tua, rupanya nyalimu tumbuh lebih besar dengan banyaknya orang bersamamu ?, Ini tidak akan merubah keadaan." kata Wira.


"Anak muda, keadaan sudah berbalik sekarang, berhentilah omong besar," kata Pria Tua dengan tersenyum mengejek.


"Tetua, walaupun kultivasinya tidak terbaca tapi kami dikalahkan dengan mudah olehnya, sebaiknya serang bersama-sama," ucap Pria Tua memberi saran.


Lima orang tetua yang ikut bersamanya menyuruh murid-muridnya untuk membentuk formasi menyerang, mereka mengelilingi Wira membentuk lingkaran dua lapis, lima orang tetua berada dipinggir formasi menjadi penjaga.


"Formasi Bintang Penghancur," teriak salah satu tetua yang paling senior, Wira diserang dengan golok oleh lapisan lingkaran pertama, mereka semua bergerak mengelilingi Wira, sementara lapisan kedua bergerak berlawanan arah dengan lapisan pertama, tetua yang berada paling luar berdiri tidak bergerak dengan posisi membentuk segi lima.


Formasi ini membuat orang yang melihatnya merasa pusing apalagi mereka yang sedang diserang.


"Mainan anak kecil diperlihatkan," kata Wira sambil tersenyum, bagi Wira yang merupakan Master Aray tingkat Ilahi, formasi seperti ini bagaikan atraksi anak-anak.


Wira mengeluarkan Kapak Rajabala, yang memiliki bilah putih dengan ketajaman luar biasa,


"Mari bermain-main," kata Wira sambil mengangkat kapaknya, cahaya menyilaukan keluar dari bilah kapak akibat pantulan cahaya matahari, formasi mereka menjadi kacau karna penglihatan mereka terganggu.


Traaaaaaaang.


Begitu Wira mengayunkan kapaknya semua golok yang berbenturan dengan kapaknya putus menjadi dua bagian, pemimpin formasi kaget luar biasa, hanya dengan satu gerakan, formasi yang biasa mereka banggakan telah dihancurkan.


"Formasi Bintang Pelumpuh"


Pemimpin formasi kembali memberi perintah, mereka berubah susunan, sekarang mereka membentuk lingkaran besar, sepuluh orang mengeluarkan tali yang terbuat dari bahan khusus yang tidak mudah putus, mereka melemparkan tali pada temannya, sambil bergerak mengelilingi wira, belum sempat rekan mereka menangkap tali yang dilemparkan Wira sudah bergerak cepat membabat.


Tesh..... tesh..... tesh....


Tali yang rencananya digunakan untuk meringkus wira terbabat putus ditengah jalan, mereka tidak habis pikir, tali yang sangat alot dan lentur ditangan mereka kini terbabat putus seperti membabat ranting kecil.


Belum habis keterkejutan mereka, Wira sudah bergerak cepat, memberikan kejutan.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk menemani kalian bermain,"


Crash... crash...


Dengan dua kali ayunan, sepuluh orang terpotong dan menjadi arwah, sisanya yang masih tertinggal belum sempat mencerna situasi, kapak Rajabala kembali beraksi.


Crash... crash...


Crash... crash...


Sepuluh orang Pendekar Raja dan dua orang Pendekar Suci kembali menjadi arwah.


Tiga orang tetua yang masih tersisa, hilang keberaniannya entah menguap kemana, Wira bergerak cepat kearah mereka dan memisahkan kepala dengan lehernya.


Dua orang tetua tumbang ketanah dengan kepala terpisah dari badannya.


"Berlarilah ke sekte kalian... !, cepat !" perintah Wira


Wira memasukkan Kapak Rajabala ke cincin dimensinya dan mengeluarkan Busur Naga Writa, dengan wadah panah yang bernama Manipuspaka.


Dua orang pria tua dan seorang tetua yang masih hidup akhirnya menyadari maksud Wira, mereka segera berlari secepat yang mereka bisa untuk menghindari panah yang akan mengejarnya.


Wuuuusss...


Wuuuusss...


Wuuuusss...


Ketiga orang pria tua itu lari saling berlomba, dengan harapan bisa menyelamatkan jiwa mereka, yang merupakan hadiah terbesar bagi setiap mahluk yang hidup.


Wira melepaskan Aray Pelindung yang di buat untuk istrinya, kemudian dia mengeluarkan Singa Emas dari Dunia Dimensi Jiwanya,


"Singa Emas ayo kita berburu," Wira menyuruh kedua istrinya naik ke punggung Singa Emas, setelah kedua istrinya meloncat naik, Wira menyuruh Singa Emas terbang kearah larinya ketiga pria tua.


Wira memasang Aray Pelindung untuk istrinya, kemudian dia berjalan ke leher Singa Emas, sambil menenteng Busur Naga Writa ditangan kirinya dan panah Suci Sugosa ditangan kanan.


Hanya sebentar Singa Emas terbang, sudah terlihat pria tua yang terluka dibagian paha dan buntung tangan kirinya.


"Larilah lebih cepat lagi," teriak Wira dari atas


Mendengar suara Wira, pria tua itu semakin mempercepat laju larinya, tak lagi terasa paha yang tadi mengganggu kecepatannya berlari.


Ceb....


Pria tua tersungkur, panah Wira menancap dilehernya, Wira mengambil satu lagi panah dari Manipuspaka, wadah panah yang tidak pernah kehabisan panah walau sebanyak apapun digunakan.


Pria buntung satunya menjadi sasaran Wira berikutnya.