Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 65. Penghancuran sekte Golok Racun



Rencana awalnya Wira ingin menyerang sendiri, sementara Dewa Senyum, Paman Sesha dan Singa Emas mengurung supaya tidak ada yang bisa lolos, tapi akhirnya Wira mengeluarkan kedua istrinya dan 50 orang pengikutnya yang belakangan Wira beri nama Bidadari Pelindung Langit, agar lebih banyak memiliki pengalaman bertarung.


Wira memberi arahan pada Bidadari Pelindung Langit agar mempersiapkan diri dengan maksimal, karna lawannya ahli dalam menggunakan senjata rahasia beracun.


Kelompok Biru yang ahli memanah dan ahli membuat pil, memberikan sejumlah pil pada rekannya, setelah Kelompok Hijau yang ahli pengobatan, menganalisa jenis racun yang terkandung dalam senjata rahasia yang diperlihatkan oleh Wira, sementara Kelompok Putih yang ahli aray dan cemeti bertugas melindungi mereka dari serangan musuh.


Setelah selesai memberi arahan, Wira mengeluarkan panah yang dilapisi Api Poeniks Biru untuk membakar bangunan-bangunan yang ada di sana agar penghuninya keluar.


Dari informasi yang disampaikan oleh Tikus Hitam tidak ada anak kecil di sekte Golok Racun, karna semua anggotanya lelaki, mereka dilarang membawa istri kedalam sekte, sebagian besar anggota sekte bahkan tidak beristri, karna khawatir dijadikan target oleh musuh-musuhnya.


Siiiing..., siiiiing... .


Panah yang ditembakkan Wira kearah bangunan membuat kebakaran hebat melanda sekte Golok Racun, lonceng tanda bahaya mulai terdengar memberi peringatan kepada seluruh anggota sekte agar keluar menyelamatkan diri ketempat terbuka.


Begitu orang-orang sekte Golok Racun keluar dari bangunan, kelompok biru langsung menghujani mereka dengan panah.


"Sahasra Astra," ujar Delima memberi instruksi pada rekannya kelompok Biru.


Siiiing..., siiing..., siiing... .


Dua puluh panah meluncur keatas, kemudian masing-masing panah menjadi seratus dengan kekuatan yang sama pada tiap-tiap panah, langit menjadi gelap dipenuhi oleh panah yang ditembakkan oleh Kelompok Biru bertubi-tubi tiada henti.


Anggota sekte Golok Racun menjadi serba salah, diam didalam bangunan mati terbakar, keluar bangunan mati terpanah.


Ribuan panah yang ditembakkan oleh Kelompok Biru, sudah menghabisi ribuan nyawa anggota sekte Golok Racun yang levelnya Pendekar Langit kebawah, sementara yang levelnya Pendekar Raja luka-luka ringan sampai berat, yang level Pendekar Suci tidak terluka sama sekali.


Kelompok Biru dari Pelindung Bidadari Langit terus menerus menembakkan panah untuk menghabisi mereka yang level Pendekar Langit kebawah.


Jumlah anggota sekte Golok Racun berkurang dengan cepat karna panah yang ditembakkan tiada henti.


"Serang mereka," ujar Ketua sekte pada para tetua.


Sepuluh orang tetua sekte dengan level Pendekar Suci tingkat 6 bergerak cepat kearah Bidadari Pelindung Langit, yang sebagian besar hanya Level Pendekar Suci tingkat 1, hanya pemimpinnya yang levelnya Pendekar Suci tingkat 2, tingkat 3, yang tingkat 4 hanya Delima.


Melihat pengikutnya diserang oleh sepuluh orang tetua dengan level yang lebih tinggi dari Pelindung Bidadari Langit, Wira hanya diam tetapi tetap waspada dengan panah Suci Sugosa terpasang pada Busur Naga Writa.


Wira ingin melihat kemampuan Bidadari Pelindung Langit ketika berhadapan dengan lawan yang lebih kuat.


"Formasi teratai," Delima memberi perintah.


Kelompok Hijau yang ahli menggunakan pedang dan kelompok Putih yang ahli menggunakan cemeti membentuk lingkaran sambil berputar melindungi kelompok biru yang terus-menerus memanah.


Khawatir pengikutnya akan terdesak, Nilotama yang levelnya sudah mencapai Pendekar Suci tingkat 5, dan Putri yang levelnya Pendekar Suci tingkat 7, turun dalam pertarungan untuk memperkuat formasi teratai yang diajarkan oleh Wira.


Mendapat bantuan dari Putri dan Nilotama, formasi teratai semakin kuat dalam bertahan dan menyerang.


Mendapat serangan bertubi-tubi dengan panah, cemeti dan pedang silih berganti tanpa bisa menyerang balik, akhirnya sepuluh orang tetua itu mendapatkan banyak luka, melihat kondisi para tetuanya yang terjepit, Ketua sekte mengirimkan lagi sepuluh orang tetua untuk menolong tetua yang sudah terluka.


Wira sadar bahwa 50 orang pengikut dan istrinya tidak akan mampu menghadapi 20 musuh yang levelnya Pendekar Suci tingkat 6, sebelum hal itu terjadi Wira sudah membidikkan lima panah Suci Sugosa yang dilapisi Api Poeniks Biru.


Siiiing......


Ceb... ceb... ceb... ceb... ceb...


Lima tetua yang datang mendekat ke arah Bidadari Pelindung Langit langsung terjungkal.


Panah yang ditembakkan Wira yang telah dialiri tenaga dalam tinggi serta dilapisi Api Poeniks Biru, mematahkan golok yang digunakan untuk menangkis dan terus melaju kencang menembus leher musuhnya.


Belum sempat tetua yang lain mencerna apa yang terjadi lima tetua yang bergerak ingin membantu rekannya terjungkal lagi diterjang panah Wira.


Melihat sepuluh tetua sekte mati ditangan Wira tanpa perlawanan, Ketua sekte dan anggota yang masih hidup bengong tidak bergerak.


Wira memanfaatkan situasi itu dengan baik, dia kembali menembakkan panah keatas mengarah pada kerumunan orang-orang sekte Golok Racun yang sedang syok tak bergerak.


Siiiing...... siiing......sing......


Dengan menggunakan ajian Sahasra Astra, tiap panah yang ditembakkan Wira menjadi seribu, kembali langit diatas wilayah sekte Golok Racun menjadi gelap.


Semua orang yang terkena panah Wira terkapar jatuh menjadi mayat kecuali yang levelnya Pendekar Suci.


Dalam waktu hanya beberapa jam saja sekte Golok Racun hanya tinggal puing-puing saja.


Sepuluh orang tetua yang berhadapan dengan Bidadari Pelindung Langit telah habis terbunuh, yang tersisa hanya sebelas orang termasuk Ketua sekte.


Wira bergerak mendekati Ketua sekte dan sepuluh tetua yang tersisa, Busur Naga Writa ditangan Wira sudah berganti dengan Kapak Rajabala yang merupakan Pusaka tingkat Dewa, panah Suci Sugosa dan wadah panahnya Manipuspaka sudah masuk kedalam Cincin Dimensi Samudera.


Semakin dekat Wira melangkah semakin pucat wajah Ketua dan sepuluh tetua sekte Golok Racun yang biasanya garang saat bertemu dengan mangsa yang lemah.


"Aku tidak akan mengampuni kalian, maka berjuanglah sekuat tenaga untuk mempertahankan nyawa kalian," ujar Wira sambil tersenyum.


Saat ini Wira adalah Pendekar Dewa Bumi tingkat 3, tapi dengan fondasi tubuhnya yang sempurna, serta penampungan energi yang tak terbatas ditambah lagi memiliki esensi Api Poeniks Biru dan Inti Api Dingin Wira mampu mengalahkan Pendekar Dewa Bumi tingkat 6.


Bagi Wira menghadapi Ketua sekte yang hanya Pendekar Suci tingkat 8 dan sepuluh tetua dengan kekuatan Pendekar Suci tingkat 6 sama seperti pesilat menghadapi anak-anak kecil yang baru belajar berjalan, selisih kemampuan mereka terlalu jauh, bahkan seorang Pendekar Dewa Bumi tingkat 1, bisa mengalahkan lima Pendekar Suci tingkat 9 dalam waktu singkat, apalagi Wira yang kekuatannya setara Pendekar Dewa Bumi tingkat 7.


Menyadari bahwa mereka tidak akan mendapat pengampunan Ketua sekte memberi semangat kepada para tetuanya,


"Ayo kita serang bersama-sama, dari pada mati tanpa perlawanan," ujar Ketua sekte dengan ekspresi wajah yang dibuat setenang mungkin.


Mereka mengangguk serempak walaupun kaki mereka susah digerakkan karna gemetar, wibawa yang dipancarkan Wira ketika menghadapi musuh sangat mendominasi, ditambah lagi Kilauan mata kapak Rajabala yang lebarnya mencapai satu meter membuat suasana semakin mencekam.


Ketajaman kapak dengan bilah ganda ini sudah terbukti berkali-kali dalam setiap pertarungan yang dialami oleh Wira.


Sekitar dua meter dari tempat mereka berdiri Wira menghentikan langkahnya, Wira memberi kesempatan pada mereka untuk menenangkan diri.


"Majulah," ucap Wira tenang.


Dengan mengumpulkan semua keberanian yang mereka miliki, sebelas orang itu menyerang Wira dengan serempak.