Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 19. Pernikahan



Sementara Panglima Ringkin mengumumkan pernikahan Putri Citra Sasmita dengan Mahawira kepada seluruh penghuni dunia kecil,


Wira sampai di lokasi dimana pintu yang menghubungkan dunia kecil ke alam manusia,


Wira masuk ke lobang kecil dibagian bawah batang kayu untuk memastikan itulah pintu penghubungnya, berjalan beberapa langkah Wira sudah melihat Danau Tambalingan.


Melihat Wira menghilang didalam lobang kayu Jyoti Ambaka ikut masuk dan menemukan Wira berdiri dipinggir danau, Jyoti Ambaka meloncat kesamping Wira, tempat ini memang terlindung jika bukan karna kebetulan tidak mungkin menemukan tempat ini, baik dari alam manusia maupun dari dunia kecil.


"Ayo kita kembali Kakek," kata Wira sembari meloncat kearah batu besar hitam yang merupakan pintu masuk ke dunia kecil, sesampainya di dunia kecil, Wira memasang aray pelindung tingkat dewa yang sangat rumit.


Kakek Jyoti Ambaka mencoba memecahkan aray pelindung yang dibuat oleh Wira namun tidak bisa, padahal dia seorang Master Aray.


"Luar biasa, semuda ini kamu sudah bisa membuat aray serumit ini dan sangat kuat, kalau begitu ayo kita perkuat pintu menuju alam apsara," kata Kakek Jyoti, mereka kembali menuju pemukiman.


"Kamu silahkan kembali ke kediaman cucuku," kata kakek Jyoti pada pelayan cucunya,


"Baik Pelindung Agung," ucap pelayan sopan,


"Wira ayo ikuti kakek ke pintu penghubung dunia apsara." Wira kemudian bergerak bersama menuju lokasi sray yang dimaksud.


Wira melihat aray pelindung yang dipasang Kakek Jyoti, " aray pelindung level dewa tingkat menengah," batinnya


"Apa kamu sudah menemukan caranya," tanya Kakek Jyoti, Wira mengangguk dan menuju pusat aray kemudian menonaktifkan aray itu.


Setelah itu Wira membuat aray pelindung yang lebih kuat dan rumit agar tidak mudah ditembus, selesai memasang aray mereka kembali ke pemukiman.


"Kakek aku ingin langsung kembali ke kediaman Paman Panglima,"


"Baiklah Wira...."


Sesampainya di kediaman Panglima Ringkin...


"Salam Tuan Muda," seorang prajurit penjaga kediaman Panglima memberi hormat pada Wira, dibalas dengan anggukan sambil tersenyum.


"Apakah Paman Sarwadahana ada," tanya Wira pada seorang pelayan,


"Beliau sudah kembali ke kediaman raja," jawab pelayan,


"Paman Sarwadahana sudah selesai dengan tugasnya," gumam Wira tersenyum


"Jika ada yang penting denganku aku ada di kamar,"


"Baik Tuan Muda," jawab pelayan sopan.


Tiga hari kemudian, pagi-pagi sekali pelayan dari kediaman permaisuri datang membawa seperangkat pakaian untuk acara pernikahan.


"Sesuai titah Yang Mulia Raja sekitar dua jam dari sekarang acara pernikahan dimulai," kata pelayan pada keluarga Panglima yang menjadi wali nikahnya Wira,


"Kami sudah melakukan persiapan," jawab Panglima


"Pelayan....bangunkan dan dandani Wira dengan pakaian pengantin," Panglima memberi perintah pada beberapa pelayan.


"Tok tok tok selamat pagi Tuan Muda,"


Wira bergegas bangun dan membuka pintu,


Wira keheranan ada banyak pelayan berdiri di pintu membawa berbagai perlengkapan,


"Ada apa..?, kenapa semua kemari...?"


"Tunggu biarkan aku mandi terlebih dahulu," ucap Wira.


Pelayan mulai merias Wira ketika sudah selesai mandi.


Tidak butuh waktu lama untuk merias Wira karna dia tidak ingin riasan yang mencolok, dengan riasan yang sederhana saja Wira sudah sangat tampan.


Upacara pernikahan berlangsung sederhana namun hidmat, semua orang terlihat bergembira melihat pasangan Putri Citra Sasmita demikian tampan dan berilmu sangat tinggi, tapi ada beberapa yang bersedih karena harapannya untuk menyunting Putri Citra Sasmita telah hilang, diakhir acara Raja Wreksasena menganugerahi gelar Pangeran pada Mahawira.


"Mulai saat ini Wira dipanggil dengan 'Pangeran Mahawira' Ini bukan gelar yang berlebihan buat Wira karna dia memang cucu Raja Wideha dari Kerajaan Mahayong," demikian sabda Raja Wreksasena pada rakyatnya.


Usai Pernikahan Wira mendapatkan kediaman khusus dilingkungan keluarga raja, Wira memasuki kediaman lebih dahulu untuk istirahat karna penat seharian menjalani proses upacara dan menyalami demikian banyak orang, Wira langsung tidur nyenyak.


Sementara Putri Citra Sasmita masih dikediaman permaisuri, mendapat banyak nasehat bagaimana menjalani hidup berumah tangga agar kehidupan mereka kelak berbahagia, setelah beranjak malam Putri Citra Sasmita bersama pelayannya menuju kediaman Wira,


"Salam Yang Mulia Putri," sapa pelayan yang ditempatkan dikediaman Wira,


"Apakah Kanda Wira sudah tidur," tanya Putri pada pelayan,


"Pangeran Mahawira langsung ke kamarnya begitu datang, mungkin tidur karna kelelahan," jawab pelayan sopan.


"Kalian boleh istirahat, biar Kanda Wira aku yang urus jika butuh sesuatu," ucap Putri sambil berjalan ke kamarnya.


Putri Citra Sasmita memandangi wajah Wira yang sedang tidur,


"Dia terlihat sangat polos, ketampanan yang maskulin walau kulitnya sehalus perempuan, badannya bercahaya walau agak samar, tubuhnya berbau cendana, bentuk tubuhnya tinggi tegap, apa benar dia ini manusia ?, kalau manusia kenapa sempurna begini ?, Bahkan mengalahkan ketampanan dari bangsa apsara yang terkenal tampan dan cantik," Citra Sasmita membatin sambil tak henti-hentinya memandangi wajah suaminya.


Bagi seorang Pendekar Suci keatas, kesadarannya sangat tinggi, apalagi Wira sudah mencapai level Pendekar Dewa Bumi, pendekar yang sudah melampaui tingkatan fana, dia sudah menyadari kehadiran istrinya begitu dia masuk kamar, tapi Wira dengan sengaja membiarkan kelakuan istrinya, sambil tertawa didalam hatinya.


"Dinda kenapa tidak tidur ?, kalau Dinda enggan tidur berdekatan biar Kanda bergeser," Wira menggeser dirinya mendekati dinding tempat tidurnya dan menyisakan tempat yang lebar bagi istrinya,


"Bukan..., bukan begitu kanda..., Dinda hanya belum biasa tidur dengan orang lain," wajah Citra Sasmita bersemu merah ketahuan sedang mengagumi wajah suaminya.


"Jika Dinda menganggap Kanda orang lain, biar Kanda tidur dikamar yang lain saja sampai Dinda merasa siap," Wira menggoda istrinya sambil bersiap untuk bangun.


"Jangan... , jangan, Kanda disini saja," ucap Citra Sasmita segera merebahkan dirinya dan berpura-pura tidur.


Melihat istrinya grogi Wira semakin ingin menggodanya, Wira bergeser mendekati istrinya dan memegang lengannya, nafas Citra Sasmita


Semakin memburu dan badannya mulai bergetar,


Wira semakin mengelus tangan istrinya, Citra Sasmita kemudian bangun dengan gemetar.


"Maaf Kanda aku belum siap," Citra Sasmita berbicara dengan bibir gemetar. Wira kasihan melihat respon istrinya dan berhenti menggodanya.


"Tidurlah Dinda, Kanda juga ingin istirahat," kata Wira sambil bergeser menjauh ketempat semula.


Dikediaman Panglima Ringkin Nilotama jatuh sakit badannya panas dan terlihat kurus, tidak ada yang tahu sudah tiga hari dia tidak makan dan tidak keluar kamar, karna semua orang sibuk mempersiapkan pernikahan Wira dengan Putri, hingga mereka tidak terlalu memperhatikan kondisi Nilotama.


Pagi hari begitu Putri Citra Sasmita mendengar Nilotama sakit segera dia menuju kediaman Panglima Ringkin untuk menengok Nilotama,


dia dengan Nilotama sangat akrab bagaikan saudara kandung, Citra Sasmita sangat bersedih melihat Nilotama begitu kurus.


"Paman Apa kata tabib mengenai penyakit Nilotama," Putri menanyakan kondisi Nilotama pada Panglima Ringkin.


"Tabib mengatakan Nilotama sakit pikiran bukan sakit fisik, badannya kurus karna tidak mau makan," jawab Panglima.