
Wira menuju kediaman Kakek Jyoti ingin berdiskusi beberapa hal penting.
"Kakek.... Aku datang,"
"Masuklah Wira," sahut Kakek Jyoti sambil membuka pintu
"Kakek sepertinya sudah naik tingkat," kata Wira,
"Berkat saran dan buah-buahan ajaib yang kamu berikan," jawab Kakek Jyoti gembira.
"Dengan tingkat Kakek sekarang, kesempatan kita untuk merebut kembali kerajaan kita makin terbuka lebar, enam bulan lagi Ayahanda dan para Jenderal serta prajurit pasti mengalami peningkatan yang cukup tinggi," ucap Wira yakin.
"Eh iya kek aku sudah mengambil dua kitab yang ada didalam gua," ujar Wira, berniat memberikan pada Kakek Jyoti
"Untukmu saja, kakek yakin kamu bisa menguasai dengan cepat, supaya misi kita membebaskan kerajaan kita lebih cepat bisa terlaksana, sebagai Pangeran Mahkota kamu punya tanggung jawab besar Wira," jawab Kakek Jyoti cepat
"Baiklah kek, kalau begitu aku akan mempelajari kitab ini secepatnya,"
"Kakek juga akan melakukan pelatihan tertutup untuk menyerap seluruh buah ajaib yang kamu berikan, jangan berkunjung kemari sebelum enam bulan," kata Kakek Jyoti.
Wira mengangguk, kemudian pamit mau menemui Raja Wreksasena.
"Salam Pangeran.....," pelayan memberi hormat melihat kedatangan Pangeran Mahkota, Wira tersenyum membalas salam pelayan
"Salam Ibunda Permaisuri," ujar Wira melihat Permaisuri mendekatinya
"Ibunda Permaisuri dimanakah Ayahanda Raja?" tanya Wira,
"Sepertinya ada hal penting yang ingin kamu sampaikan hingga tak ingin berbincang dengan Ibunda?" ucap Permaisuri
"Tidak...tidak....tidak begitu bunda," jawab Wira gugup,
"Kalau begitu temani bunda bercakap-cakap sambil menunggu Ayahanda Raja selesai berkultivasi," titah Permaisuri, sambil mengajak Wira duduk diruang tamu
"Baik Bunda," Wira menjawab santun, sambil mengekori Permaisuri menuju ruang tamu.
Permaisuri menyuruh pelayan meninggalkan mereka berdua,
"Kenapa aku merasa hidupku terancam ya," batin wira
"Kamu memberi kakek, Ayahanda, dan semua orang hadiah buah ajaib, kenapa Ibunda tidak dikasi hadiah, Ibunda juga ingin hadiah darimu," ucap Permaisuri sambil tersenyum ramah
"Hadiah apa yang Ibunda inginkan, jika ada dalam jangkauanku pasti aku usahakan," ucap Wira.
"Apa kamu punya buah ajaib yang bisa membuat kulit lebih kencang dan bercahaya seperti kulitmu?" ujar Permaisuri agak malu, sambil menunjuk kulit Wira.
"Mendalami ilmu alkemis sepertinya sangat penting, bisa mendatangkan banyak uang, setiap wanita pasti ingin terlihat muda dan cantik," terbersit cara mencari uang di kepala Wira
"Apa yang kamu pikirkan Pangeran ?" tanya Permaisuri melihat Wira bengong,
"Akan aku usahakan Ibunda, tapi tolong jaga agar tidak ada yang tau, ini akan merepotkan jika banyak wanita yang tau," tutur Wira
"Ibunda janji akan merahasiakannya," sahut Permaisuri gembira
"Apa yang Permaisuri janjikan Pada Pangeran Mahkota?" tanya Raja pada Permaisuri
"Yang mulia ingin tau saja, ini rahasia wanita," sahut Permaisuri.
"Pangeran Mahkota ingin bertemu Yang Mulia, ada hal penting yang mau dibicarakan," pungkas Permaisuri mengakhiri pembicaraan.
Raja Wreksasena duduk disebelah Permaisurinya, seraya berkata,
"Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan Pangeran?" tanya Raja
"Hamba ingin pergi menyelidiki langsung kondisi di Malawa Dewa, sambil menunggu kesiapan prajurit kita untuk perang gerilya, dan akan membawa Putri dan Nilotama bersamaku supaya menambah pengalaman mereka," ucap Wira menjelaskan.
"Membawa mereka?, itu berbahaya Pangeran," Permaisuri menyela,
"Aku menjamin keselamatan mereka Ibunda, aku janji, lagian mereka istriku bagaimana mungkin aku membahayakan mereka," ujar Wira meyakinkan Permaisuri.
"Aku mengijinkan, bawalah dua pengawal bayangan bersamamu,"
"Baiklah Ayahanda Raja, aku ingin salah satunya paman Sarwadahana yang ikut," jawab Wira
"Aku akan menyampaikan permintaanmu, kapan kamu berangkat,"
"secepatnya...., sekalian hamba mohon diri Ayanda Raja, Ibunda Permaisuri," ucap Wira takzim
"Berhati-hatilah," Permaisuri dan Raja menambahkan.
"Pasti," Kata Wira hormat, kemudian berjalan pergi dari hadapan mereka.
Sampai dikediaman Wira menelusuri lagi isi cincin dimensinya yang kelewat banyak, dulu pernah Wira menelusuri isi Cincin Dimensi Samudra yang dia miliki tapi keburu jenuh, akhirnya berhenti.
"Aku ingin melihat lebih banyak," gumam Wira sembari menelusuri Cincin Dimensi dengan kesadaran.
Ada batu roh dalam berbagai tingkat berdasar manual yang ada, ada batu sihir, ada koin emas, semuanya dalam jumlah yang sangat banyak, menggunung dalam ruangan yang sangat besar.
Wira menelusuri ruang bagian Eliksir sambil membaca manualnya, ada berbagai jenis Eliksir, selama ini Wira hanya mempelajari yang penting-penting saja terkait kemajuan kultivasinya.
Dia ingin mencari Eliksir untuk wanita secara khusus,
"Nah ini dia teriak Wira senang,"
"Ini semua Eliksir tingkat dewa, coba aku lihat Eliksir tingkat Ilahi," batin Wira antusias,
Pil Sambung Raga, pil ini bisa meregenerasi tubuh dengan cepat, kembali seperti semula asal tidak kepala yang putus,
Pil Raga Abadi, pil ini meregenerasi sel secara terus menerus hingga kembali menjadi remaja,
"Ini bahaya, hidupku bisa tidak tenang jika pil seperti ini diketahui orang,"
"Aku akan memberi Pil Aroma Tubuh, Pil Penambah Gairah dan Pil Pengencang Kulit, pada Ibunda Permaisuri dan Ibunda Damayanti untuk seratus tahun," hehehe Wira tertawa jahil
Keesokan harinya.....
Wira membawa dua kotak kecil berukir indah terbuat dari emas, masing-masing di dalamnya ada tiga kotak giok kecil, tiap kotak berisi seratus pil, bersamanya ada manual cara pemakaian.
"Selamat pagi Pangeran Mahkota," pelayan menyapa Wira dengan hormat, seperti biasanya Wira membalas dengan senyuman ramah.
"Jika Ibunda Permaisuri sudah bangun sampaikan padanya aku menunggu diruang tamu," ucap Wira pada seorang pelayan,
"Permaisuri ada di taman, mohon tunggu akan hamba sampaikan," jawab pelayan santun.
Berselang beberapa menit Permaisuri datang dengan senyum gembira melihat diatas meja ada kotak emas, Wira sedang menyesap minuman yang disuguhkan pelayan ketika Permaisuri datang.
"Pangeran datang pagi-pagi sekali, ada hadiah untuk Ibunda ?" tebak Permaisuri tersenyum gembira
"Aku membawa hadiah untuk Ibunda Permaisuri dan Ibunda Damayanti," jawab Wira
Permaisuri membuka kotak emas yang dibawa Wira, ada tiga lagi kotak giok didalamnya, kemudian Permaisuri membuka kotak giok dan melihat isinya dengan penasaran, begitu dia membaca manualnya, Permaisuri terlihat sangat senang.
Setelah memberi hadiah Wira mohon pamit untuk persiapan besok berangkat menuju kerajaan Malawa Dewa, dia menuju kediaman Sarwadahana untuk memberi tahu bahwa besok pagi mereka akan berangkat.
Tujuan Wira membawa Putri Citra Sasmita dan Nilotama adalah agar dia bisa melatih mereka didalam Dimensi jiwanya.
Sampai dikediaman, Wira menuju kamarnya, kemudian masuk kedalam Dimensi jiwanya.
Wuuuusss.......
Wira memperhatikan kedua istrinya sedang duduk tanpa busana sambil menyerap energi dari Danau Emas, setelah berendam beberapa saat, mereka melakukannya terus berulang-ulang sampai sebulan lebih
Ketika Wira masuk ke Dimensi Jiwanya, Mereka tau kehadiran Wira karna bau wangi Cendana yang selalu terpancar dari tubuhnya, tapi mereka tidak bisa bangkit, takut energi yang meledak-ledak didalam tubuhnya malah melukai diri sendiri ketika belum selesai diserap.
Wira duduk dibelakang kedua istrinya sambil menikmati keindahan tubuh kedua istrinya,
"Mereka ini mahluk langka, kecantikan dan keindahan tubuhnya sangat sempurna," Wira kemudian bersamadi menenangkan diri karna ada bagian bawah tubuhnya yang bergerak.
"Bisa malu besar kalau terlihat oleh mereka," batin Wira.
Byuuurr.....
Byuuurr.....
"Kakak Wira curang......."
"Kanda Wira mesum......"
Teriak Putri Citra Sasmita dan Nilotama berbarengan.
Mereka langsung terjun ke danau begitu selesai menyerap energi.
Wira terkejut saat mendengar suara byuuurr, disertai teriakan keras dua mahluk cantik didalam danau, seketika Wira membuka matanya dan tersenyum jahil, sambil memandangi mereka didalam danau.
"Apanya yang curang?"
"Apa yang mesum?"
"Kakak bilang kita latihan tiga bulan, kenapa sudah kesini baru sebulan lebih, kita jadi tidak siap-siap," Protes Nilotama
"Memang salah kalau nengok istri ?" tanya Wira senyum-senyum senang,
Nilotama hanya diam, "Benar juga pikirnya,"
"Kanda harusnya kedalam istana setelah datang kesini dan menunggu di Istana Giok, bukannya mandangin kami disini, kami kan jadi malu," kata Putri berargumen,
"Iya benar kata Kakak Putri," Nilotama mendukung argumen Putri
"Kalian istriku, tidak salah aku mengagumi Istriku sendiri, kalau Dinda malu...
pada akhirnya kita akan saling lihat dalam kondisi begini, hanya tinggal waktunya saja ketika kita sama-sama siap," ujar Wira cengengesan.
Byur....
Byur...
Putri menyipratkan air ketubuh Wira diikuti Nilotama, Wira bergegas pergi masuk kedalam istana sembari mengganti bajunya yang basah kena air.
"Kapok......kapok," jerit Nilotama
"Ngeyel......," gumam Putri
Mereka naik dan memakai busana cepat-cepat takut dijahili lagi.