Mahawira Sang Chiran Jiwin

Mahawira Sang Chiran Jiwin
Ch 46. Kelahiran Dewa Senyum



Wira mengeluarkan aura Pendekar Dewa Bumi tingkat 3 untuk menetralisir aura menekan yang dikeluarkan oleh Singa Emas.


"Kalau Singa Emas mengeluarkan aura menekan tingkat 5 dengan kekuatan penuh mungkin aku juga terganggu, dia tahu batasanku," gumam Wira dalam hati.


"Singa Emas jangan lukai tetua yang pendek gendut yang wajahnya selalu tersenyum, yang lainnya habisi kecuali jika ada anak kecil," perintah Wira.


"Grooah"


Singa Emas meloncat ketempat kerumunan dan mulai mengamuk, setiap gerakan ekor, cakar dan mulutnya berakibat kematian bagi murid-murid sekte Lembah Kabut Racun.


Melihat Singa Emas mengamuk seperti gajah membunuh semut, ketua sekte memerintahkan supaya para tetua bersama-sama mengeroyok Singa Emas.


Sementara Wira mengarahkan panahnya pada para tetua sekte yang mengeroyok Singa Emas,


Setiap desingan panah Wira pasti memakan korban.


Ketua sekte Lembah Kabut Racun, dan para tetua tidak bisa fokus menyerang Singa Emas, karna Wira terus menyerang dengan panahnya, sudah lima tetua terkapar mati oleh serangan Wira yang tiba-tiba.


"Setan Periang, Lintang, habisi bocah itu !" Ketua sekte memerintahkan dua tetuanya untuk menghadapi Wira.


Wira memasukkan Busur dan wadah panahnya, melihat Setan Periang dan rekannya mendatangi dirinya.


"Bocah kamu sungguh bernyali besar berani mendatangi sekte Lembah Kabut Racun seorang diri.


"Aku datang berdua paman, tidak sendiri jawab Wira," tersenyum jenaka.


"Hahahaha"


"Aku menyukaimu bocah, sayang sekali kamu musuh sekteku, aku harus menghajarmu," kata Setan Periang pada Wira.


Wira dikeroyok oleh dua orang tetua, Setan Periang mengincar bagian bawah sementara Lintang menyerang bagian atas, Wira menghadapi santai kedua pengeroyoknya, puluhan jurus mereka bertukar serangan tidak ada tanda-tanda siapa yang lebih unggul diantara mereka.


Dilain tempat Singa Emas yang dikeroyok oleh Ketua sekte dan lima belas tetua, sama sekali tidak membuat Singa Emas terdesak, Singa Emas hampir tidak memiliki kelemahan, hampir semua bagian tubuhnya mampu memberikan serangan mematikan, ekor, sayap, cakar dan mulut Singa Emas mampu memberikan kematian bagi lawannya.


"Gunakan pukulan jarak jauh," Ketua sekte memberi perintah mengatur jalannya pertempuran. Para tetua mundur mengambil jarak yang cukup jauh, mereka mulai bersiap mengeluarkan jurus Tapak Beracun yang menjadi andalan sekte Lembah Kabut Racun.


Duaaaaaaarrrrrrr


Tanah tempat Singa Emas berpijak hancur berantakan terkena pukulan Tapak Beracun yang dilakukan oleh lima belas tetua secara bersamaan debu mengepul menghalangi pandangan.


Swweuuung


Selarik sinar biru menerpa dua tetua yang berdiri berdekatan.


Braaak...


Kedua tetua yang terkena sinar biru itu terpental keras menghantam bangunan dan mati.


Rupanya sesaat setelah para tetua melancarkan pukulan jarak jauh Singa Emas meloncat naik dan melancarkan serangan balasan dari mulutnya.


Tiga belas Pendekar Suci tingkat puncak yang mengeroyok Singa Emas mulai frustasi, perbedaan kekuatan mereka sangat jauh, Singa Emas yang kekuatan Puncaknya setara Pendekar Dewa Bumi tingkat 5, bahkan jika dikeroyok 30 orang Pendekar Suci tingkat Puncak sekalipun belum tentu menang, apalagi kelihatannya Singa Emas memiliki pengalaman bertarung yang sangat banyak.


"Ketua bagaimana ini ?" seorang Tetua, bertanya pada Ketua sekte dengan harapan ketuanya mampu memberi solusi dan mengatur strategi yang lain bagi mereka.


Melihat satu persatu tetua sektenya tumbang terkena sinar biru yang keluar dari mulut Singa Emas, Ketua sekte semakin panik.


Dilain tempat Wira masih bertempur dengan Setan Periang, melihat rekannya tewas terkena pukulan Wira, Setan Periang mulai terlihat hati-hati dalam bertarung.


"Paman menyerahlah !, aku tidak ingin membunuhmu !"


"Aku tidak mungkin membiarkan kamu dan Singamu itu memusnahkan sekte yang menjadi tempatku bernaung sejak kecil, akan lebih bahagia jika aku meninggal karna membela sekte daripada menyerah seperti pengecut," kata Setan Periang.


"Orang baik yang tumbuh besar ditempat yang salah," gumam Wira.


"Baiklah Paman jika itu keputusanmu, aku akan menghukum setiap orang yang bergabung pada sekte jahat," kata Wira.


Setelah berkata seperti itu, Kapak Rajabala sudah ada digenggaman Wira, dia melesat cepat kearah Setan Periang, Wira menyerang dengan sungguh-sungguh, jurus Langkah Kilat dan


Belalang bayangan mulai digunakan oleh Wira.


Crash... crash... crash...


Kedua tangan dan kaki Setan Periang terlepas dari tubuhnya, darah mengucur deras keluar dari bagian tubuh Setan Periang yang terluka, Setan Periang mengalirkan tenaga dalam untuk menghentikan pendarahan, dia memandang Wira dengan riang.


"Hutang budiku pada sekte ini sudah aku bayar, aku bisa mati dengan tenang," ujar Setan Periang.


"Berikan aku kematian anak muda, jangan terlalu lama menyiksaku begini, kita berdua hanya melakukan tugas sesuai keyakinan kita masing-masing, kamu dengan tekadmu untuk menghabisi setiap kejahatan, aku dengan keyakinanku untuk membela sekte yang telah memberiku tempat bernaung dari kecil." ujar Setan Periang melanjutkan kata-katanya.


"Baiklah Paman," ucap Wira sambil mendekati Setan Periang, kemudian Wira menaruh telapak tangannya di kepalanya Setan Periang, sementara Setan Periang tersenyum pasrah menerima kematiannya.


Wira memasang segel jiwa Panunggalan Sukma Sejati pada Setan Periang kemudian meneteskan darahnya pada segel yang dipasang.


Cahaya cemerlang keluar dari segel jiwa sesaat setelah darah Wira menyatu dengan segel dan terserap masuk ke kepala Setan Periang.


Energi besar mengalir di badan Setan Periang, badannya menjadi segar kembali, rasa mencintai yang tulus tumbuh pada dirinya, dia memandang Wira seperti junjungan yang dicintainya dengan segenap pengabdian.


"Mulai sekarang nama paman adalah Dewa Senyum, Setan Periang sudah aku bunuh yang ada sekarang adalah kelahiran Dewa Senyum," Wira berkata dengan senyum tulus diwajahnya,


Kemudian Wira mengeluarkan Pil Sambung Raga dan memasukkan ke mulut Dewa Senyum,


"Istirahatlah,"


Wira memasukkan Dewa Senyum ke Dunia Dimensi Jiwanya dibagian utara, tempat Prabawangsa dan lima puluh anak-anak dari sekte Golok Neraka yang hancur oleh Wira.


Sampai ditempat itu Dewa Senyum heran melihat bangunan yang mirip dengan sekte Golok Neraka, namun Dewa Senyum tidak bisa memikirkan itu lebih lanjut, energi yang meledak-ledak didalam tubuhnya harus dia serap kalau tidak ingin dia celaka.


Setelah memasukan Dewa Senyum kedalam Dunia Dimensi Jiwanya, Wira mendekati Singa Emas yang masih bertempur dengan lima tetua dan Ketua sekte yang sudah babak belur dihajar Singa Emas.


Wira melihat selain enam orang itu, semua murid dan tetua yang lain sudah meninggal oleh cakaran, gigitan atau sabetan ujung ekor Singa Emas yang sangat tajam dan beracun, beberapa ada yang sekarat menunggu ajal.


Melihat tidak ada lagi harapan untuk hidup, keenam orang itu menjatuhkan diri memohon ampun di kaki wira.


Wuuuung


Bunyi mendengung keluar dari Kapak Rajabala yang diayunkan dengan kecepatan tinggi.


Crash...


Keenam tubuh orang terakhir sekte Lembah Kabut Racun terpotong menjadi dua bagian.


Wira berjalan menuju ruang bawah tanah untuk mengambil semua harta dan bahan pangan yang ada di gudang penyimpanan sekte Lembah Kabut Racun.


Satu juta peti besi besar yang penuh dengan koin emas serta ribuan ton bahan pangan, dan berbagai macam senjata pusaka telah berpindah ke cincin dimensinya Wira.