
Selesai membuatkan Istana Emas untuk Naga kecil dan pengasuhnya Wira ingin keluar dimensi untuk melanjutkan perjalanan menuju Benteng Selatan.
"Apa Dinda ingin ikut ke Benteng Selatan atau berlatih disini ?" tanya Wira pada Putri dan Nilotama.
"Aku ingin berlatih," jawab Putri dengan pipi memerah, masih teringat kejadian tadi malam,
"Aku juga ingin berlatih saja sama kakak Putri," ujar Nilotama sebelum ditanya,
"Baiklah kalau begitu Kanda keluar dulu, melanjutkan perjalanan," ujar Wira sambil mencium kening kedua istrinya.
Wira melanjutkan perjalanan bersama Singa Emas menuju Benteng Selatan dengan kecepatan tinggi. Menjelang malam Wira sampai di Benteng Selatan, Wira melayang turun setelah mengirim Singa Emas kehutan kristal.
Wira diterima oleh penjaga pintu gerbang benteng dengan ramah, setelah bertukar sapa Wira langsung menuju kediaman Jenderal Mahesa Jenar.
"Salam Pangeran, Jenderal ada di ruang kerjanya, jika ingin bertemu mari kami antar," ujar prajurit jaga ramah.
Wira berjalan menuju ruang kerja Jenderal Mahesa Jenar diantar prajurit jaga.
Melihat Wira datang Jenderal Mahesa Jenar langsung berdiri dan mengajak Wira keruang tamu,
"Kamu boleh kembali," kata Jenderal Mahesa Jenar pada prajurit jaga.
"Bagaimana hasilnya Pangeran?" tanya Jenderal langsung ke intinya tanpa berbasa-basi.
"Maaf Jenderal aku meninggalkan Jenderal Sentanu karna secepatnya harus ke Benteng Utara, sementara dia masih ada sedikit urusan," ujar Wira,
"Masalah penambahan pasukan, Panglima dan Raja sepakat untuk menambah pasukan ke Benteng Selatan, mengenai jumlah yang akan dikirim saya yakin Panglima lebih bijaksana menganalisa situasi," ujar Wira.
Jenderal Mahesa Jenar sangat senang dengan berita yang disampaikan oleh Wira,
"Lantas kapan rencananya Pangeran menuju Benteng Utara ?, bukankah lebih baik istirahat dulu barang sejenak ?" ujar Jenderal Mahesa Jenar.
"Maaf Jenderal, aku khawatir jika Jenderal Tumbak Bayuh menyerbu kesini akan banyak jatuh korban dikedua pihak, aku tidak ingin Kerajaan Indra Pura mengalami kerugian akibat perang," Wira memberi alasan.
"Aku akan berangkat sekarang menuju Benteng Utara," ujar Wira menambahkan sambil memberi dua kotak hadiah pada Jenderal Mahesa Jenar sambil berpesan untuk memberikan satu kotak untuk Jenderal Sentanu
Jenderal Mahesa Jenar membuka kotak hadiah yang diberikan oleh Wira, dia sangat terkejut melihat buah Apel Emas yang hanya pernah dia dengar diceritakan oleh pendahulunya dan sekarang ada dihadapannya dan menjadi miliknya.
"Itu baik untuk meningkatkan kwalitas tulang dan memberikan energi yang lumayan besar untuk menaikkan tenaga dalam,"
ujar Wira.
"Pangeran, hadiah ini sangat luar biasa !, hamba tidak berani menerimanya !" Jenderal Mahesa Jenar merasa hadiah yang diberikan oleh Wira terlalu berharga baginya.
"Ambillah Paman, semoga hubungan kita kedepannya menjadi semakin baik," ujar Wira sambil mohon diri.
Wira keluar dari Benteng Selatan, dan berangkat menuju Benteng Utara, Kerajaan Malawa Dewa bersama Singa Emas.
Wira memikirkan cara yang paling efektif untuk menguasai Benteng Utara, tanpa jatuh korban yang berlebihan di pihaknya.
Wira mengeluarkan pengasuh Naga Kecil dari Dunia Dimensi Jiwa,
"Apa kondisimu sudah pulih pulih Paman?" tanya Wira,
"Setelah diajak berendam di Danau Emas oleh Naga Kecil, kesehatan hamba kembali normal hanya saja energi Qi yang hamba miliki dulu butuh waktu lama untuk bisa kembali," jawab Pria Tua
"Kemampuan paman setara Pendekar Dewa Bumi tingkat 5, untuk dialam ini sudah sangat cukup untuk melindungi diri,"
"Aku belum sempat tanya nama Paman sejak pertama bertemu, siapa nama paman dan dari mana berasal ?" tanya Wira melanjutkan.
"Baiklah kalau begitu aku beri nama Sesha, Paman Sesha akan bertugas mengawal aku ke Benteng Utara, jangan melakukan apapun tanpa perintahku," ujar Wira
Kemudian Wira menapak kepala Sesha dan merubah aura kekuatan yang terpancar darinya, hingga terasa seperti pendekar Suci tingkat 7, Wira juga merubah penampilan dirinya seperti Kirani baik bentuk tubuh suara maupun auranya persis sama.
Sebenarnya kalau Wira mau, dia mampu menghancurkan Benteng Utara Kerajaan Malawa Dewa dengan mudah, hanya dengan tiga pengikutnya, Singa Emas, Paman Sesha dan Dewa Senyum, tapi itu akan membuat Kerajaan Malawa Dewa lemah, biarlah mereka berusaha sendiri agar mereka tetap berusaha menjadi lebih kuat, dan semakin memahami bahwa harusnya setiap orang yang ada dikerajaan Malawa Dewa berkontribusi untuk memperjuangkan kebebasan mereka sendiri.
*****
Seorang wanita berkuda diikuti lelaki tua dibelakangnya bergerak menuju Benteng Utara dengan kecepatan sedang,
"Ingat Paman jangan menunjukkan aura dan jangan bertindak sembarangan tanpa perintahku,
"Baik Pangeran," jawab Sesha,
Wanita muda menghentikan kudanya dan memandangi Sesha,
"Baik Nona Kirani," ujar Sesha,
"Jika nanti paman memanggilku Pangeran rencana kita akan berantakan,"
"Maafkan....., hamba akan mengingat baik-baik," jawab Sesha hormat.
Tiba di gerbang Benteng Kirani dan pengawalnya dihentikan oleh prajurit jaga, melihat orang yang tidak biasa ada di benteng prajurit jaga menjadi waspada.
"Tunjukkan identitas," kata prajurit jaga.
Kirani menunjukkan Lencana Anggota Keluarga Kerajaan yang diberikan oleh Raja Bismanta
"Aku utusan dari Kerajaan Indra Pura mewakili Jenderal Mahesa Jenar, Kepala Benteng Selatan kerajaan Indra Pura, untuk bertemu dengan Jenderal Tumbak Bayuh" ujar Kirani
"Kalian harus memakai borgol untuk menghadap Jenderal kami," ujar prajurit jaga.
Plak... .
"Bodoh..."
Kirani menampar prajurit jaga yang berkata angkuh ingin memborgolnya,
"Sudah aku katakan bahwa aku utusan yang mewakili Jenderal Mahesa Jenar, tapi dengan bodohnya kamu ingin memperlakukan aku seperti tawanan, mana Komandan kamu ?" Kirani membentak prajurit bodoh yang ditamparnya sampai mental sepuluh meter.
Seorang prajurit yang menjadi komandan jaga hari itu keluar tergopoh-gopoh dari bangunan kecil yang menjadi markas jaga, ketika melihat anak buahnya ditampar sampai mental jauh.
"Apa yang kamu lakukan pada anak buahku, menyerang prajurit sama artinya dengan melawan pemerintah," ucap komandan itu marah.
"Heh, anak buah bodohmu itu ingin memborgolku, padahal sudah aku katakan bahwa aku Utusan Kerajaan Indra Pura yang mewakili Jenderal Mahesa Jenar, dari Benteng Selatan Kerajaan Indra Pura," ucap Kirani sambil memperlihatkan Lencana keluarga Kerajaan Indra Pura.
Maafkan kebodohan anak buah kami, sambil menyuruh beberapa prajurit untuk mengawal Kirana bertemu dengan Jenderal Tumbak Bayuh.
Benteng Utara ini sangat besar, setara dengan Kota kadipaten, penghuni Benteng hampir sembilan puluh persen adalah prajurit, selebihnya keluarga para pembesar pasukan yang bertugas di benteng.
Prajurit yang mengawal Kirani berhenti pada sebuah bangunan yang sangat besar yang merupakan kediaman Jenderal Tumbak Bayuh dan beberapa bawahannya.
Kirani turun dari kudanya dan berjalan mengikuti prajurit yang mengawalnya.
Salah satu prajurit yang mengawal Kirani masuk untuk melaporkan kedatangan Utusan dari Kerajaan Indra Pura.